Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Cerita & Opini

Drama Menjelang Persalinan Anak Ke-3, Hampir Batal

Setiap ibu pasti punya beragam cerita tentang kehamilan dan persalinannya. Sebagian ada yang lancar sesuai rencana, tapi ada juga persalinan yang penuh drama. Tiga kali melahirkan, tiga cerita pula saya rasakan. Proses kehamilan anak pertama saya yang penuh drama pada awalnya, saya menuliskannya sebagai salah satu cerita Antologi My Pregnancy Diary. Video pertama anak saya bisa dilihat di sini, justru yang penuh air mata adalah suami hehehe. Cerita tentang menyusui pun penuh drama, sehingga saya abadikan di Antologi Tetes Kasih ASI. Persalinan ke-2 cenderung lancar, meskipun pascapersalinan bayi saya mesti terpisah sementara karena takikardi. Videonya saya abadikan di sini.

Nah tibalah mendekati hari persalinan anak ke-3 di bulan Juni 2018 lalu. Serasa sudah khatam prosesnya karena sudah menjalani persalinan SC dua kali, saya pun lebih santai. Barang-barang bayi sudah lengkap. Skill menyusui sudah mantap. Ya, tinggal kontrol-kontrol ke DSOG dan atur waktu lahirannya kapan.

Drama dimulai

H-2 sebelum waktu persalinan yang ditetapkan, perut saya mules. Nah, mulai ngeri-ngeri, takut malah brojol duluan sebelum waktunya. Nggak enak ini bakal sakit atas bawah. Akhirnya kami kontrol ke DSOG, supaya tidak penasaran. Ternyata DSOG bilang, bahwa tidak ada masalah yang menyebabkan harus dilahirkan lebih cepat, sesuai waktu awal saja. Ya sudah, kami pun agak tenang. Setelahnya kami pun menebus suplemen di apotek. Setelah masuk mobil, saya meletakkan kantong berisi segala berkas calon bayi saya (buku kontrol, seluruh hasil USG, surat pengantar pasien rawat inap untuk SC) di dalam dashboard mobil. Saat saya turun dari mobil, saya memang tidak membawa apapun dari dashboard. Saya pikir kan dua hari lagi mau lahiran pakai mobil ini juga, supaya tidak kelupaan atau ketinggalan, biarlah tidak di bawa ke rumah berkasnya.

Tibalah hari persalinan, jadwal yang ditetapkan jam 2 siang, tapi kami memang sudah siap dari subuh. Semua sudah lengkap, sudah masuk ke mobil. Namun terkejutlah saya, karena berkas calon bayi saya tidak ada di dalam dashboard mobil! Oke, saya coba mengingat kembali. Saya bongkar semua isi dashboard. Nihil. Saya coba telepon teman saya, dokter IGD di RS tersebut, untuk menanyakan apa yang harus saya lakukan. Kebetulan saya menyimpan foto surat pengantarnya. Dia bilang tetap minta surat rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama berdasarkan surat pengantar tersebut. Langsung saya telepon dokter klinik BPJS saya, Alhamdulillah mereka mulai praktik jam delapan pagi.

Saya lengah karena tidak dari kemarin-kemarin membuat surat rujukan dari klinik BPJS, karena sistem administrasi berubah-ubah, saya pun lupa. Akhirnya di klinik tersebut, saya mencetak foto surat pengantar rawat inap dan mendapat surat rujukan. Berdegup cepat jantung saya saat mobil melaju kencang ke RS. Sesampainya di RS, saya kira bakal langsung masuk kamar, ternyata tidak bisa karena belum lengkap berkasnya, mesti cek laboratorium dan konsul ke dokter penyakit dalam. Waduh, tambah mumet. Hari menunjukkan pukul sembilan lewat, saya masih antri di laboratorium. Hasil baru bisa diambil dua jam setelahnya, waduh tambah panik. Kalau sudah ada hasil laboratorium baru bisa ke dokter penyakit dalam. Menunggu lagi. Jam 12 saya akhirnya selesai ke Poli Penyakit Dalam, dan kami segera ke ruangan yang dituju.

Akhirnya bisa ranap

Sesampainya di ruangan, saya pikir masih bisa leyeh-leyeh dulu sebentar di tempat tidur, karena terus terang panik itu bikin dobel capek. Ternyata tidak, saya langsung disodori formulir pernyataan persetujuan operasi. “Ibu apa mau langsung tubektomi?” tanya perawatnya. “Iya,” saya menjawab. Adzan berkumandang, saya turun dari bed berniat mau mengambil wudhu sholat dzuhur. Belum turun kaki saya sepenuhnya, perawat datang lagi membawa troli. “Ibu, pasang infus  dan kateter sekarang ya,” kata suster. Saya langsung buru-buru kabur ke kamar mandi. Mengambil wudhu, dan saat kembali lagi ke tempat tidur saya bilang mau sholat dulu sebelum pasang infus. Perawat menyatakan tidak bisa, karena saya harus segera didorong ke ruang operasi. Saya tetap di-infus, saya menolak dipasang kateter di ruangan, minta di ruang operasi saja. Memasang dan melepas kateter adalah saat yang saya paling takuti. Saya sholat sambil duduk, ada sela waktu perawat menyiapkan map saya. Wallahualam.

Setelah itu saya didorong ke ruang operasi. Operasi berjalan lebih cepat dari jadwal. “Kirain batal,” kata dokternya. Langkah-langkah operasi berjalan seperti biasa. Ada suami saya yang ikut ke ruangan. Saat bayi telah dikeluarkan, Ada saatnya saya merasa dada saya seperti ditindih beban berat, ternyata tekanan darah saya turun. Suami nampaknya santai saja, ternyata setelah operasi dia bilang deg-degan karena saya sesak tadi. Video proses keluarnya bayi bisa ditonton di sini.

Saat bayi keluar, suami langsung mengiringi bayi saya. Saya yang masih dalam proses dijahit di dalam merasa tenang dan mengantuk. Tiba-tiba dokternya bilang, “Bu, nggak dipotong ya.” Kaget saya, “Dok, tubektomi dok.” Dokternya bingung, “Tidak ada surat pernyataan persetujuannya tapi.” Langsung suami saya disusul untuk ditanyai persetujuan tindakan tubektomi. Untung belum sampai jahit kulit. Hffhhh. Rupanya suster yang di ruangan tadi sekedar bertanya tentang apakah saya akan menjalani tubektomi, tapi tidak menyodorkan surat persetujuannya. Surat yang saya bubuhkan tanda tangan sebelumnya adalah surat pernyataan persetujuan tindakan operasi SC saja.

Rezeki tak ke mana

Setelah keluar dari RS, kami tetap berupaya mencari berkas tesebut, karena ada foto-foto USG untuk kenang-kenangan. Kami telusuri apotek, kantin, kemanapun yang kami lewati saat kontrol terakhir kami cari informasinya, sampai akhirnya kami menyerah dan mengikhlaskannya. Cerita ini memang sudah 1,5 tahun lebih berlalu, tapi saya jadi tergelitik menuliskannya lagi, karena ternyata suami saya menemukan berkas yang hilang itu saat bongkar mobil! Ya ampun, ternyata berkasnya nyangkut di belakang dashboard yang memang tidak kelihatan dari luar kecuali dibongkar. Kebetulan suami iseng-iseng buka untuk membersihkan mobil secara paripurna. Walaupun ketemunya terlambat, setidaknya foto USG dedek kembali buat dimasukkan di album. Tetap Alhamdulillah.

Berkas yang akhirnya bertemu dengan pemiliknya
Please follow and like us:

20 Comments

  • Ulfah Wahyu

    Ya Allah Mbak jadi ingat proses lahiran saya yang kedua juga SC. Saya malah mendadak itu, awalnya dikira bisa lahiran normal, eh ternyata sampi RS harus sc. Memang perjuangan melahirkan itu penuh kenangan ya Mbak. Sebagai ibu, kita pasti akan melakukan apapun demi kelahiran buah hati. Walaupun sakit, sudah tidak dirasakan lagi. Semoga sehat-sehat selalu ya Mbak si kecil.

  • lisa lestari

    Akhirnya terjawab, aku tadi penasaran itu berkas ngumpet di mana? Eh, ternyata ngumpet di belakang. Benar ya bun, luar biasa persalinan anak itu. MAsing-masing anak memiliki cerita yang berbeda.

  • haniwidiatmoko.com

    Aduh…aku ikut deg²an. Setiap melahirkan pengalamannya beda² yah. Alhamdulillah semua selamat…
    Alhamdulillah ketemu tuh berkas². Jadi kenangan. Untung juga mobil belum dijual…

  • Bety Kristianto

    Wah seru dan menantang ya mba proses melahirkan si kecil. Emang sih kalau mau lairan tu bawaannya nervous ya mau berapa kali ngelairin juga pasti beda-beda pengalamannya. Beruntung semua sudah berlalu ya. Sehat terus untuk mba sekeluarga.

  • Sri

    Walaah drama persalinannya bikin deg-degan, Mbak. Puji Tuhan operasi lancar dan terlewati dengan baik ya. Entah kenapa kalau dengar cerita atau baca kisah persalinan, saya selalu ikut ngilu. Masih kebayang-bayang persalinan sendiri kayaknya. Salam buat dedek bayinya, pasti sekarang udah gesit, lari sana-sini. Semoga sehat selalu.

  • Dawiah

    Masya Allah!
    Sudah di meja operasi bahkan sudah mau dijahit baru ditanya soal tubektomi. Untung susternya iseng nanya ya mbak? Gimana kalau sudah dijahit dan menyangka sudah tubektomi, bisa jadi lagi deh.

  • Deean Cahyadi

    Wah,akhirnya si berkas ketemu sama pemiliknya. Saya juga pernah uring-uringan mencari berkas USG sibungsu, alhamdulillah ketemu.

    Dan untuk pengalaman pasang kateter emang baiknya di ruang operasi aja ya Mba. Ga berasa sakitnya, kalo pas masih sadar, duh, ga kebayang ngilu 🙁

  • Dian Restu Agustina

    ya ampuun di belakang dasboard ternyata haha..padahal sudah bikin puyeng kepala ya
    Penuh drama tapi kalau diingat jadi tertawa ya Mbak
    Semoga si Adik dan Bunda sehat semua. Keren semua divideo. Saya lahiran spontan 2 kali (yang satu anak meninggal usia 13 hari) Sc 1 kali, ga ada dokumentasi. Maklum sudah belasan tahun lalu, belum musim smartphone huhu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enjoy this blog? Please spread the word :)

Follow by Email
Facebook
Google+
http://armelzahfauzi.com/drama-menjelang-persalinan-anak-ke-3-hampir-batal">
Instagram