Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Cerita & Opini

Ngabuburit kemana nih, Ibu-Ibu?

Pertama kali dengar istilah ‘ngabuburit’ saat remaja dari televisi. Tapi saat itu tidak terlalu pede untuk menyebutkan istilah tersebut dalam perbincangan sehari-hari. Aneh, rasa saya saat itu. Saya merasa tidak sopan mengucapkannya. Menurut bahasa sehari-hari di Palembang, ‘burit’ itu merujuk pada kata bokong. Kebayang kan nggak nyaman saat menyebutkannya? Hehehe.

Arti kata ngabuburit

Saat saya selancar ke laman ini, tercerahkanlah saya bahwa istilah ini berasal dari Bahasa Sunda, yang berarti sore/ senja/ menjelang magrib. Istilah yang merujuk pada segala kegiatan dalam penantian magrib. Saat saya remaja dulu, dimana energi masih penuh, bisa kemana-mana bersama teman-teman. Masa kuliah lumayan mulai padat. Saat stase di klinik kadang bisa nggak sadar juga kalau matahari tenggelam. Waktu dimakan mondar-mandir dan isi status pasien RS.

Ngabuburit = jalan-jalan

Waktu masih lajang, saya perhatikan ngabuburit pada umumnya identik dengan jalan-jalan. ‘Yok ngabuburit’, itu artinya bisa sama dengan ‘ayok nongkrong’. Nongkrong di luar tentu saja, tapi nggak mau haus dan kepanasan. Akhirnya nongkrong di mall. Apalagi kalau sambil keliling-keliling cuci mata, bisa nggak kerasa udah mau magrib aja. Tapi terus terang, masih capek juga sih, dan agak kurang bermakna.

Ngabuburit = di rumah

Setelah jadi nyonya, kalau semua bukaan sudah siap dan tinggal dihangatkan menjelang adzan, bisa nongkrong di depan televisi sambil urut-urut betis menjadi kenikmatan yang hakiki. Biasanya suka ada ceramah tuh, dulu. Iya, dulu, sebelum diamanahi anak-anak. Kalau sekarang televisi sudah jadi kekuasaan anak-anak. Walaupun kanalnya diubah sesuai yang kita mau, saya tetap harus meladeni pertanyaan anak-anak yang bisa muncul tiap 3 menit sekali. Atau menyingkirkan si bungsu dari bahaya perjalanan kakinya yang belum mulus. Nah, sebenarnya ini mungkin adalah masa saya merenung, untuk mengisi ngabuburit dengan kegiatan bermakna, yang berlipat ganda amalannya di bulan Ramadan. Salah satunya adalah mengaji dan mengkaji Al-Qur’an. Waduh, masih harus lebih banyak belajar dan lebih konsisten mengamalkannya, masih kurang banyak ilmunya ini. Masih rentan lengah juga nih sebagai ibu-ibu yang dipenuhi kegiatan rumah tangga. Hmm, kalau para Mama sekalian, ngabuburit ngapain aja?



Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enjoy this blog? Please spread the word :)

Follow by Email
Facebook
Google+
http://armelzahfauzi.com/ngabuburit-kemana-nih-ibu-ibu">
Instagram