Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Beauty

Review Bedak Wardah: Bedak Tabur VS Bedak Padat

Adanya riwayat kulit kering membuat saya jarang sekali pakai bedak. Takut kelihatan cakey, takut tidak rata, takut kelihatan ada kulit mengelupas dan sebagainya. Tapi di lubuk hati terdalam (ciye), saya ingin juga coba pakai bedak. Saya ingin muka kelihatan segar dan nggak kucel. Ada masanya memakai BB cream atau cushion saja tanpa bedak akan berakhir kucel di waktu siang, karena mungkin sudah tercampur minyak di wajah. Saat kuliah dulu, saya pernah beli bedak padat merek PIXY, tapi seperti tidak menyatu dengan muka. Akhirnya saya hanya paka bedak tabur sesekali saja, di antaranya dari merek Caring Colours, Giordani Gold (GG) Oriflame, dan Marcks. By the way, GG Oriflame bagus loh, tapi pricey. Setelah punya anak satu, saya coba-coba beli bedak padat Wardah, jenis two way cake. Saya cuma pakai pelembab sebagai dasarnya, tidak pakai alas bedak, terus langsung ditimpa bedak Wardah itu. Saya merasa muka saya berat, agak panas, dan justru garis-garis halus dan kulit yang terkelupas kecil-kecil makin nyata terlihat. Akhirnya bedak Wardah two way cake itu saya kasih ke ibu saya.

Bedak Padat Favorit Ibu

Ternyata, ibu saya suka banget, dan entah kenapa bedak Wardah yang saya beri itu cocok banget di muka Ibu. Waduh, saya jadi iri, kok ibu bagus pakainya, tapi di saya nggak. Meskipun demikian, warna yang saya beri pertama kali itu terlalu terang untuk ibu. Saya beli no 1 (light beige), sedangkan ibu pada pembelian selanjutnya memilih no 4 (natural). Pernah saya belikan bedak merek lain dengan harga yang bervariasi, bisa lebih mahal atau lebih murah daripada bedak Wardah ini, tetap saja ibu balik lagi. Ibu lebih suka bedak yang bentuknya padat karena lebih praktis, bisa dibawa kemana-mana nggak mudah tumpah. Uniknya, ibu nggak suka pakai spons yang baru, lebih suka pakai spons lama karena lebih lembut dan nyatu bedaknya. Kalau bedak ibu mau habis, saya segera cari info diskon, dan bulan ini saya dapatkan di Guardian.

Sekian banyak wadah refill dan spons buluk kesayangan

Bedak Tabur Lebih Natural

Kalau saya sih, seterusmya coba-coba bedak padat yang mana ketemu. Bedak padat yang hitting pan ada Face Recipe dan Purbasari. Ternyata memang kalau pakai alas bedak, mesti pakai bedaknya (ya iyalah), akhirnya saya bisa juga menghabiskan bedak (akhirnyaaaa). Tapi nih, kadang-kadang saya ingin muka kelihatan santai ya, nggak terlalu resmi. Entah kenapa kalau pakai bedak padat agak muka ‘kantoran’. Atas saran mbak di Wardah Beauty House, teracunlah saya membeli bedak tabur. Eh, murah juga isi banyak, nggak rugi kok (pembelaan). Lagi-lagi saya beli no 1 (light beige).

Sponnya tebal dan empuk

Perbandingan

Saya kasih foto kandungannya ya, tentu saja berbeda. Siapa tahu ada yang penasaran sama isi masing-masing. Nah kebetulan bulan lalu saya salah lagi beliin ibu warna no 1 (ingat warna diri sendiri), jadi saya juga punya warna two way cake yang light beige. Sebenarnya saya takut salah warna beli bedak tabur ini (terlalu terang), soalnya pernah coba yang bedak padat. Tapi berhubung no 2 saya lihat cenderung pink, no 3 dan 4 lebih gelap dari warna kulit saya, akhirnya tiada pilihan. Setelah dibandingkan, ternyata bedak Wardah yang tabur lebih kuning dibanding bedak padat yang cenderung ke pink. Alhamdulillah, berarti cocok! Setelah diaplikasikan, ternyata bagus; halus, ringan, kemampuan menahan minyak dan kucel lumayan. Hal yang lebih penting, lebih terlihat natural dan ‘santai’. Wah, semoga seterusnya koleksi Wardah yang ini cocok deh, soalnya baru sekali dipakai. Kalau kamu, lebih suka yang mana, bedak tabur atau padat?

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enjoy this blog? Please spread the word :)

Follow by Email
Facebook
Google+
http://armelzahfauzi.com/review-bedak-wardah-bedak-tabur-vs-bedak-padat">
Instagram