5 Film yang Melekat di Hati

Saya mending nulis daripada nonton. Tapi memang ada beberapa film yang sampai hari ini masih melekat di hati.  Ada yang sudah lama saya tonton, ada juga yang baru saya tonton melalui aplikasi di handphone. Beberapa pernah saya review di FB. Lima film yang cukup menimbulkan kesan bagi saya, diantaranya:

Lorenzo’s Oil

Saya dapat rekomendasi film ini waktu awal saya kuliah di FK. Tapi saya sudah lupa dari siapa. Cerita nyata tentang perjuangan orangtua mencari tahu cara menyembuhkan anaknya. Ini adalah kisah  dari penderita penyakit langka, adrenoleukodystrophy (ALD). Cerita ini cukup menggugah saya, bahwa apa yang dimakan (Lorenzo’s Oil) bisa memberikan perubahan pada status kesehatan.

A Beautiful Mind

Salah satu dosen saya, merekomendasikan film ini untuk mempelajari tentang schizophrenia. Sungguh menarik daripada membaca contohnya dari kumpulan diktat. Visualisasi memang lebih mantap bagi saya. Lagi-lagi, ada peran keluarga di  sini. Terkadang pasien bisa sembuh karena dukungan orang di sekitarnya. Kesetiaan yang luar biasa dari pasangan sungguh menggugah.

Hacksaw Ridge

Film yang berdasarkan kisah nyata memang greget. Tidak melulu menembakkan senjata, seorang tentara bisa tetap jadi pejuang seperti tokoh utama dalam di sini. Sama seperti yang kita hadapi sehari-hari. Kita semua adalah pejuang, tapi tidak semua harus berada di garis depan. Semua posisi penting, dimanapun tempatnya. Masing-masing bisa mengisi posisi sesuai dengan kemampuannya. Selama tujuannya sama, kita bersama pasti bisa memenangkan pertempuran apapun.

Critical Eleven

Sejak awal berumah tangga, keluarga saya selalu dihadapkan pada pilihan. Cerita pada film ini benar-benar mengambarkan itu. Apa prioritas dalam keluarga, kesempatan mana yang dipilih, perasaan senang, sedih, kecewa, marah, sangat familiar.

Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi

Saya nonton ini bersama suami. Guess what? Kami berdua nangis bombay. Walau cerita tidak sama persis, tapi dramanya ngena banget. Kami masuk dalam alur cerita. Kadang-kadang suka muncul di kenyataan, perasaan bahwa saya lebih kerja keras dari pasangan, saya lebih capek. Pernah muncul juga perasaan bahwa saya melakukan semua ini untuk keluarga, kok nggak dihargai. Padahal tidak begitu. Semuanya berperan, semuanya berusaha. Film ini menyadarkan kami untuk tidak banyak menilai, tapi lebih banyak memahami. Membuat kami lebih saling menghargai satu sama lain.

Aduh, saya kok nangis lagi ya waktu ngetik deskripsi terakhir…heheh. Masih ngena ternyata. Kira-kira ada rekomendasi film yang harus saya tonton selanjutnya?

Tinggalkan komentar

Share via
Copy link
Powered by Social Snap