Anak Pindahan

Ayah saya pada awal karirnya ditugaskan untuk membuka cabang baru. Saat itu beliau baru saja menikah. Saya dan kakak saya numpang lahir, dan mengabadikan salah satu nama kota di Pulau Belitung pada akta kelahiran kami. So, jangan ditanya tentang apapun terkait pengalaman saya di Belitung, karena saya tidak tahu. Kegilaan saya makan seafood mungkin menjadi yang tersisa dari tempat ini.

Awal Pindahan

Saat saya belum sepenuhnya mengingat dunia, kami pindah. Kota Sekayu adalah kota kedua yang kenangannya samar-samar masih terekam. Saya masih ingat di depan rumah sempat banjir, dan nenek pernah mengajak saya memancing. Umpan saya nasi, umpan nenek cacing. Kiranya sekarang rasa penasaran saya akan kenapa saya tidak pernah dapat ikan saat itu tidak lagi jadi soalan.  Saya belajar membaca di sini dan saya mendapatkan kemampuan bicara saya di sini. Saya sempat TK nol kecil, dan saya masih ingat bahwa saya pernah tidak mau masuk kelas, karena saya menganggap semua yang diajarkan sudah saya kuasai. Sombong sekali kamu, anak kecil!

Pindah Lagi

Saya pikir kami akan pergi mengunjungi nenek seperti akhir-akhir minggu biasanya, ternyata kami tidak pernah kembali. Tiba-tiba ada rumah baru yang kami tinggali. Tidak ada salam perpisahan sebelumnya, meski saya juga tidak tahu kepada siapa saya say goodbye bila memang ada acara itu. Untungnya saat itu tahun ajaran baru, lagipula saya masih TK nol besar. tidak terlalu terasa. Kota Pendopo, namanya. Saya sempat tinggal di sini sampai saya kelas 3 SD catuwulan dua.

Anak Pindahan

Baru saja saya akhirnya bisa jadi ranking 1, setelah tiap caturwulan paling tinggi saya ranking 3. Tiba-tiba semua barang sudah dikemasi. Kami berangkat, pindah lagi.  Lumayan bikin rasa tidak enak hati, saya sudah punya kenangan di sini. Kami pindah ke Palembang, kota yang sering kami kunjungi tiap minggu. Semua sudah diurus, termasuk sekolah kami. Menjadi anak pindahan pada saat ini agak tidak mudah. Kelas 3 SD, semua sudah punya teman sepermainan. Saya merasa asing, minder, dan agak sulit beradaptasi. Pindah dari kota kabupaten ke kota besar ternyata cukup membuat saya merasa udik. Saya nonton TV semut sementara teman saya punya parabola. Saya juga melongo saat teman saya makan isi bekalnya: pizza. Mobil teman saya punya AC, begitu juga rumah mereka. Lain kalilah saya mau cerita tentang uang jajannya. Saya tinggal di sini sampai saya lulus kuliah, bekerja, menikah, dan hamil anak pertama.

Emak Pindahan

Saya jadi calon emak saat itu, dan pindah ke kota metropolitan demi meneruskan sekolah untuk menunjang karir saya. Jakarta, kota sibuk, padat, tapi menarik. Semua bisa didapatkan di sini, apa yang kita mau, semua ada. Kalau ada uang. Itu yang saya tidak ada, hehehe. Kami ngontrak di dekat kampus, biaya kontraknya setahun bisa buat uang muka rumah di Palembang. Ngenes, memang. Tak apalah, alhamdulillah semua dicukupkan. Tidak ada minder-minder macam dulu. Sudah paham bahwa semua ada rezekinya masing-masing. Selesai sekolah, saya kembali lagi ke Palembang, membawa ijazah dan anak dua.

Sekarang anak sudah nambah lagi jadi tiga totalnya. Tahun depan kemungkinan besar kami akan pindah lagi, ikut suami mengabdi seusai pendidikannya. Masih misteri memang, hendak pindah ke mana lagi kami. Sekarang kami tinggal menunggu. Ke mana tak mengapa, yang penting kami selalu bersama. Doakan kami, ya!

Tinggalkan komentar

Share via
Copy link
Powered by Social Snap