Aplikasi sebagai Alat Bantu Mengukur Kinerja Dosen

Seorang dosen memiliki standar dan target yang terukur dalam menjalankan tugasnya. Tidak seperti yang diperkirakan segelintir orang, hanya sekedar datang mengajar lalu pulang. Di balik itu, banyak poin kinerja yang harus dipenuhi. Terdapat beberapa alat bantu berupa program aplikasi maupun laman yang digunakan untuk mengukur kinerja dosen. Selain mempermudah pengukuran, aplikasi dan laman ini juga dapat menggambarkan reputasi dosen, bahkan digunakan dalam pemeringkatan perguruan tinggi.

Tri Dharma Perguruan Tinggi yang merupakan kewajiban seorang dosen terdiri dari unsur pendidikan dan pengajaran, unsur penelitian, serta unsur pengabdian. Terdapat unsur penunjang yang diharapkan dapat membantu pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi resmi yang mewakili institusi adalah kegiatan yang mendapatkan izin atau penugasan Rektor atau Dekan melalui Surat Keputusan atau Surat Tugas. Bila seorang dosen mengetahui target yang harus dicapai, tentunya dapat lebih fokus dalam melakukan tugasnya.

9 Aplikasi untuk Mengukur Kinerja Dosen

Berikut beberapa aplikasi dan laman yang biasanya diakses dosen di perguruan tinggi, contoh diambil dari Universitas Sriwijaya (Unsri):

1. Penilaian Angka Kredit

tpak

Pada setiap institusi pendidikan, biasanya ada Tim Penilaian Angka Kredit (TPAK) yang bertugas menilai angka kredit dari pengajar/ dosen, terkait dengan usulan kenaikan jabatan fungsional dan pangkat. Untuk Unsri sendiri, alamat lamannya adalah tpak.unsri.ac.id. Untuk membuat akun, dibutuhkan Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN), silahkan tanya kepada staf Bagian Kepegawaian.

Saat saya mengusulkan jabatan fungsional pertama, saya masih memakai format manual dengan Excel. Saat pengusulan jabatan fungsional ke dua, saya sudah menggunakan laman ini. Kabarnya akan diubah lagi dengan laman baru, akan tetapi sampai saat ini belum ada berita lebih lanjut. Nanti akan saya perbarui tulisan ini bila ada informasi baru.

Bisa dibilang, laman ini adalah yang pertama kali dikunjungi dalam jenjang karir dosen. Setelah seorang dosen sudah mengikuti diklat prajabatan dan berstatus 100% PNS, hal yang pertama kali dilakukan adalah menyiapkan berkas untuk kenaikan jabatan fungsional pertama. Pedoman berisi syarat-syaratnya dapat diunduh pada halaman beranda.  

Tips: siapkan hasil pindai berkas surat tugas/ keputusan dan sertifikat sebagai dokumen bukti dalam PDF dengan ukuran di bawah 5 MB.

2. Pangkalan Data Pendidikan Tinggi

Dulu saya mengakses alamatnya di forlap.ristekdikti.go.id. Tapi baru-baru ini, saat saya ketik di pencarian, ternyata laman tidak dapat diakses. Lalu saya menemukan laman baru, pddikti.kemdikbud.go.id yang ternyata serupa. Adanya perubahan nama dan kelembagaan universitas dari Dikti menjadi di bawah Kemdikbud mungkin mendasari migrasi laman ini.

pddikti

Tips: masukkan keyword sesuai panduan (Nama PT Nama Prodi Nama Dosen NIDN), dan scroll ke bawah lihat di bagian Data Dosen

Setiap dosen harus memastikan bahwa data yang tercantum sudah benar. Status jabatan fungsional, pendidikan, dan aktivitas sangat penting untuk memastikan dosen memenuhi syarat untuk sertifikasi. Terkadang, dosen yang sudah selesai tugas belajar lupa memperbarui data, sehingga masih dalam status nonaktif dan pendidikan terakhir belum tercatat. Dulu saya memperbarui data dengan mengumpulkan bukti ijazah ke Bapsi Unsri Indralaya.

3. SISTER

Kepanjangan dari SISTER adalah Sistem Informasi Sumberdaya Terintegrasi. Masing-masing universitas memiliki alamat laman sister sendiri, misalnya sister.unsri.ac.id. Saya masuk menggunakan email institusi, dan selalu saja lupa password, hehehe.

sister

SISTER sebenarnya adalah laman yang paling lengkap memuat data dosen sejak awal masuk sampai karirnya sekarang. Terdapat rekam kegiatan dosen, yang dimasukkan datanya oleh bagian kepegawaian/ akademik dan ada yang bisa kita tambahkan sendiri. Jejak publikasi dapat diimpor dari SINTA, yang merupakan laman data publikasi dosen nasional. Beberapa menu belum bisa diakses.

Laman SISTER menjadi sangat krusial bagi rekan yang akan mengikuti sertifikasi dosen, karena informasi kelayakan untuk diikutsertakan pada sertifikasi ditampilkan di sini (otomatis masuk dari Pangkalan Data Pendidikan tinggi). Rekan dosen lainnya yang bertugas memberikan penilaian deskripsi diri juga memasukkan nilainya pada laman ini. Oleh karena itu, penting untuk mengaktifkan akun dan mengisi detail profil dan kelengkapan lainnya.

Tips: untuk menjamin kelancaran sertifikasi dosen, pastikan atasan dan rekan pemberi penilaian memiliki akun SISTER yang aktif

4. Laporan Kinerja Dosen

Pemeriksaan kinerja dosen dilakukan setiap akhir semester. Dosen harus membuat Laporan Kinerja Dosen (LKD) dari satu semester yang telah dilewati. Dosen juga harus mencetak Beban Kinerja Dosen (BKD) yang berisi rencana semester berikutnya. Bila kewajiban kinerja tidak terpenuhi, maka tunjangan sertifikasi dosen (bagi yang sudah sertifikasi) dan tunjangan badan layanan umum (BLU) tidak diberikan.

Beban Kinerja Dosen

Aplikasi ini berbasis Microsoft Access yang dapat dibuka dari komputer atau laptop. Siapkan file ijazah s1-s3, kartu tanda penduduk (KTP), foto, gambar lambang universitas, dan sertifikat pendidik yang didapatkan dari sertifikasi dosen. Setelah itu, kita buat file master untuk isian setiap semester. Pembuatan master yang benar memudahkan rutinitas pengisian kita.

Langkah-langkah pembuatan file master:

  • Setelah unduh file BKD/LKD dalam format .rar, ekstrak dalam bentuk folder. Di dalam folder ada folder lagi dengan nama 1 BKD Individu, folder inilah yang akan kita jadikan master. Isi folder master ada 2: Aplikasi dan file .ext. Biarkan isi folder tetap seperti itu, jangan menambah atau mengurangi file-nya.
  • Buka aplikasi, dan buat nama dan password yang jangan sampai terlupa karena tidak ada menu lupa password.
  • Setelah itu, masuk dan isi identitas perguruan tinggi. Masukkan data yang benar dan simpan.
identitas perguruan tinggi
  • Setelah berpindah ke halaman utama, isi identitas, unggah dokumen sertifikat pendidik, ijazah, KTP dan foto. Untuk nama assessor tanyakan ke bagian kepegawaian. Setelah data lengkap, simpan. Pilih KELUAR untuk menutup aplikasi.
  • Simpan folder master di tempat khusus.
    Selanjutnya, bila ingin membuat LKD atau BKD baru, salin (copy) folder master tadi ke tempat yang lain, rename folder dan file (misalnya BKD genap 2019-2020 Mr. A).
  • Ubah di bagian identitas pada kolom TAHUN AJARAN dan SEMESTER terlebih dahulu, karena bagian ini yang akan terus berganti tiap kita membuat BKD/LKD yang baru. Setelah simpan, baru isi kinerja lainnya.
Beban Kinerja Dosen

Tips:  selalu salin folder master untuk membuat BKD/ LKD baru, jangan overwrite supaya file tidak rusak.

5. Sasaran Kinerja Pegawai (SKP)

Seluruh pegawai di kampus, termasuk juga dosen, harus mengumpulkan rencana dan laporan SKP pada akhir tahun. Pencatatan menggunakan Microsoft Excel yang sudah dimasukkan rumus perhitungan angka kreditnya, jadi dosen tinggal mengisi kegiatan dan SKS-nya pada bagian sheet PENCARIAN AK.

Bila nilai SKP mencukupi, maka Daftar Penilaian Pelaksanaan Pegawai (DP3) dapat bernilai baik/amat baik. DP3 adalah salah satu syarat kenaikan pangkat. Terdapat poin penilaian dari atasan langsung pada DP3 ini.

Tips: jaga hubungan baik dengan atasan

6. SIRENDOKAR

Laman ini sebenarnya mirip dengan SISTER, akan tetapi khusus big data milik universitas. Alamatnya bisa diakses pada sirendokar.unsri.ac.id, pengguna baru bisa registrasi terlebih dahulu. SIRENDOKAR bagaikan rapor dosen, berfungsi sebagai pengganti laman remunerasi.

Staf administrasi akan memasukkan data unsur pendidikan dan pengajaran pada poin mengajar, membimbing, dan menguji. Hingga saat ini, beberapa data bidang lain untuk dosen dimasukkan sendiri oleh dosen yang bersangkutan. File pendukung yang bisa diunggah maksimal 2 MB. Kedepannya semua direncanakan telah terisi pada sistem secara otomatis (berdasarkan hasil sosialiasi SIRENDOKAR 27 Juli 2020).

sirendokar untuk remun kinerja dosen

Dosen yang memenuhi 12 SKS total kegiatan artinya memenuhi poin remunerasi, bahkan rencananya kelebihan kegiatan juga akan dihitung. Namun, pencarian itu juga ditentukan oleh grade dosen. Salah satu yang menjadi pertanyaan untuk laman ini adalah penentuan grade dosen yang didasarkan pada nilai mahasiswa. Bila ada nilai mahasiswa E, maka grade dosen menjadi worse. Sambil menunggu penjelasan lebih lanjut, sebaiknya rekan di Unsri segera melengkapi isian di laman ini, ya!

7. E-Learning

Saat saya pertama kali menggunakan E-Learning sekitar 3-4 tahun silam, jatah mata kuliah yang boleh dilaksanakan dalam metode E-Learning adalah 30%. Namun, setelah pandemi Covid-19, E-Learning boleh dilaksanakan hingga 50% mulai semester ganjil tahun ajaran 2020/2021. Minimal 2 kali kuliah dengan video pembelajaran, dan 1 kali kuliah virtual (menggunakan video conference).

Alamat yang bisa diakses untuk E-Learning adalah elearning.unsri.ac.id. Dosen bisa membuat akun baru menggunakan email institusi, jangan lupa lengkapi profil. Saat mengisi profil, terdapat kolom Lecturer ID yang terdiri dari SCOPUS ID, Google Scholar ID, SINTA ID, ORCID ID, dan WOS ID. Dosen bisa mendapatkan ID tersebut setelah mengikuti penjelasan di poin berikutnya dalam artikel ini.

Saat sosialisasi tanggal 27 Juli 2020, kami bisa mengakses cara penggunaan E-Learning dengan memilih Courses>> 14 UPT Perpustakaan>>Sosialisasi E-Learning Unsri as a Teacher>>Join. Untuk yang baru mendaftar mungkin dicoba dulu apakah masih apat diakses.

elearning untuk kinerja pengajaran dosen

8. Google Scholar untuk Kinerja Penelitian Dosen

Laman Google Scholar menampilkan hasil publikasi karya ilmiah kita dan indeks sitasinya. Google Scholar merupakan pintu pertama untuk mencari referensi artikel ilmiah. Reputasi seorang dosen tidak hanya dinilai dari karya ilmiah yang dihasilkan, tetapi juga berapa banyak karya itu dijadikan referensi bagi orang lain. Akses laman di scholar.google.co.id dan login menggunakan email institusi, pilih Profil Saya, lalu lengkapi datanya. Dosen dapat menyalin URL di bagian Profile Saya, ID Google Scholar adalah rangkaian terakhir huruf setelah tanda ‘=’ di ujung URL.

Google Scholar untuk kinerja penelitian dosen

Email Institusi

Langkah pertama untuk memiliki akun Google Scholar adalah memiliki email institusi, misalnya nama.unsri.ac.id. Meskipun Google Scholar bisa dibuat memakai email biasa, namun seorang dosen harus memiliki akun terverifikasi dengan cara memasukkan email resmi institusi. Hubungi bagian Teknologi Informasi (TI) fakultas untuk mendapatkan email tersebut.

Email institusi sangat penting untuk masuk ke berbagai aplikasi dan laman yang sering diakses dosen. Dalam karya ilmiah kita, bila kita adalah seorang correspondence author, email institusi juga yang ditampilkan. Email institusional terkesan profesional dan meningkatkan kepercayaan orang lain untuk mensitasi karya dosen.

Langkah ke dua, setidaknya kita memiliki 1 publikasi karya ilmiah terindeks Google Scholar untuk menyelesaikan pembuatan profil. Setelah profil kita selesai, kita dapat menambahkan karya lain, baik yang online terindeks maupun yang tidak terindeks. Jangan lupa menjadikan profil kita public. Dosen juga dapat menambahkan pengarang bersama (co-author) yang foto profilnya kemudian akan muncul di profil kita.

Tips: gunakan hanya 1 email institusi untuk berbagai kegiatan dosen supaya data dari berbagai laman bisa terhimpun.

Memasukkan artikel dari jurnal terindeks Google Scholar

Pilih tanda [+] pada Profil Saya>>pilih tambahkan artikel>>pilih artikel yang memang karya kita>>pilih tanda [v] pada bagian tambahkan artikel. Artikel yang ditampilkan bisa saja bukan nama kita, jadi sebaiknya jangan asal dipilih semuanya. Bisa jadi ada dosen yang memiliki banyak sekali karya ilmiah dan tinggi sitasinya, namun ternyata termasuk karya orang lain di profilnya.

Memasukkan artikel yang tidak terindeks

Dosen boleh saja memasukkan karya yang tidak terindeks Google Scholar. Pilih tanda [+] pada Profil Saya>>pilih tambahkan artikel secara manual>>lengkapi datanya. Dosen dapat memasukan data untuk kategori jurnal, konferensi, bab dan buku, tesis, paten, kasus pengadilan, dan lainnya.

Membuat akun Repository

Saya pernah memiliki karya di jurnal nasional tidak terakreditasi yang bentuknya cetak. Lama menunggu, ternyata batal dijadikan online. Saya lalu memasukkan karya tersebut ke Repository, sebuah laman milik universitas yang terindeks Google Scholar. Bila kita memasukkan pindai artikel cetak tersebut dan mengunggahnya ke Repository, artikel kita dapat diakses secara online dan disitasi.

Laman ini juga memuat karya skripsi mahasiswa. Bila mahasiswa memasukkan dosen menjadi pembimbing dan penguji, karya itu juga dapat ditampilkan di Google Scholar. Untuk membuat akun, silahkan menuju https://repository.unsri.ac.id/cgi/register.

Tips: Bila ingin memublikasikan skripsi mahasiswa, buatlah dalam format yang berbeda agar tidak terdeteksi plagiat dengan Repository. Deteksi plagiat karya dengan aplikasi Turnitin, hubungi UPT Perpustakaan untuk mendapatkan akun bagi dosen.

9. SINTA

Data dari Google Scholar dan Scopus milik dosen akan dihimpun ke laman SINTA di http://sinta.ristekbrin.go.id/. Pada laman ini, dapat diketahui peringkat dosen berdasarkan publikasi karya ilmiah, baik tingkat lokal maupun nasional. Setelah dosen memiliki tautan Google Scholar, dosen dapat membuat akun SINTA dengan memilih REGISTRATION dan mengisi profil.

Setelah akun SINTA telah diverifikasi, ID SINTA akan dikirimkan lewat email. Dosen juga dapat melihat ID SINTA di halaman profil. Terdapat menu FAQ yang bisa dipilih bila ada yang belum dipahami dari laman ini. Laman SINTA memuat dokumen yang terdapat pada RAMA, Google Scholar, Web of Science, dan Scopus.

RAMA- RAMA merupakan merupakan repositori nasional yang dihimpun dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia. Seluruh tugas akhir akademik perguruan tinggi dapat diakses melalui rama.ristekbrin.go.id.

Scopus dan ORCID ID- Dosen dapat memiliki Scopus ID bila sudah memiliki publikasi pada jurnal yang terindeks Scopus. Dosen bisa login ke Scopus.com menggunakan data login akun Elsevier (registrasi di Elsevier.com). Setelah masuk ke akun, dosen dapat mencari author dan journal rankings yang terindeks Scopus. Scopus juga memiliki ORCID ID yang dapat kita buat melalui registrasi di https://orcid.org/signin.

WOS- Web of Science Group memiliki Researcher ID yang sebenarnya mirip dengan ID peneliti pada grup Elsevier. Untuk mendapatkan Researcher ID di WOS, dosen harus memiliki akun Publon. Data login akun Publon juga dapat digunakan untuk login ke EndNote. Dosen yang sudah memiliki akun Publin dapat langsung login ke researcherid.com.

Dosen yang belum memiliki akun dapat melakukan registrasi di publons.com/account/register, selanjutnya ID dapat dilihat pada profil pengguna. Pada dashboard, selain menu publikasi, juga terdapat menu untuk memasukkan rekam jejak dosen sebagai reviewer atau editor. Saya belum masuk lebih jauh pada laman ini.

Siepub- Tambahan untuk Unsri, ada database tingkat universitas yang bernama Sistem Informasi Executive Publikasi (Sie-pub) untuk pemeringkatan karya ilmiah seperti SINTA.

Kiat Memenuhi Kinerja Dosen

Ada beberapa kiat saya dalam memenuhi kinerja. Bukan bermaksud menggurui, namun hanya sekedar berbagi sekaligus sebagai pengingat saya untuk terus on track. Kerja dari rumah memang membuat terlena, hehehe. Well, ini dia kiatnya:

Buat target kinerja dosen

Buat pemetaan rencana pembelajaran tiap semester. Pelaporan target kerja tidak terlalu berat bila sudah terencana dan terukur. Sebenarnya itulah fungsi BKD yang kita buat. Data itu kita dapatkan dari pemetaan dosen di Bagian atau Jurusan masing-masing.

Bila dosen sudah tahu dapat jatah mengajar mata kuliah apa, kapan, dan di mana, akan mudah mengatur jadwal untuk unsur kewajiban lainnya. Semestinya tidak ada yang tiba-tiba, karena kampus bukan Instalasi Gawat Darurat :).

Bila dosen sudah tahu target naik pangkat butuh berapa angka kredit dalam waktu sekian tahun, dosen bisa membagi target untuk tiap tahun apa saja yang harus dilakukan yang dituangkan dalam SKP. Bila dosen sudah tahu dalam satu tahun SKP targetnya apa saja, tinggal dibagi-bagi lagi dalam satu semester harus melakukan apa saja yang tertuang dalam BKD. Jadi, bila dosen dapat memenuhi kinerja per semester, tidak ada halangan untuk naik pangkat.

Buat catatan dan simpan dokumen

Selalu catat username dan password dari berbagai laman dan aplikasi rutin. Jangan sampai orang lain sudah sibuk mengisi, kita malah sibuk salah password.

Catat semua kegiatan yang sudah dilakukan. Akan lebih baik jika jadwal rencana kegiatan juga dicatat. Bisa pakai buku, kalender meja, papan dinding, atau yang paling gampang adalah menuliskannya di aplikasi kalender atau catatan di ponsel.

Biasanya bentuk yang sudah lengkap akan saya pindahkan ke Excel, dan saya beri nama Logbook Semester x. Lengkap di sini maksudnya sudah dengan unsur yang harus tertulis di laporan kinerja, SKP, maupun TPAK.

Selalu simpan dokumen baik berupa SK, sertifikat di Google Drive. Apalagi sekarang semua sudah online, SK dan sertifikat pun sudah dalam bentuk foto. Buat folder dokumen bukti dari 4 unsur per semester. Bila sewaktu-waktu dibutuhkan, kita bisa langsung keluarkan data.

Be professional

Catat sendiri seluruh kegiatan karena kita yang tahu kegiatan kita sendiri. Jangan bergantung pada staf administrasi karena mereka bukan sekretaris pribadi dosen. Apalagi bergantung pada bawahan, mereka juga punya target sendiri. Atau bila dosen super sibuk, silahkan bayar orang untuk merekapitulasi kegiatan, baik staf jurusan sendiri maupun memakai orang luar.

Bukan saatnya bersaing dalam satu institusi, semua harus tampil dan berkontribusi. Senior mengayomi, junior menghormati. Kolaborasi itu artinya bekerja sama, bukan hanya numpang nama. Selalu menjadi ketua dari semua kegiatan bisa terasa berat. Lakukan bergantian, semester ini menjadi ketua, semester depan menjadi anggota.

Tidak berdosa seorang dosen menanyakan bukti penugasan, karena memang seluruh kegiatan dosen harus ada Surat Keputusan atau Surat Tugas. Pastikan setiap kegiatan merupakan unsur yang diakui sebagai kinerja dosen. Tiap unsur kegiatan memiliki batas target minimal dan maksimal, atur proporsi dalam menjalankan tugas. Waktu dan tenaga manusia ada batasnya.

Dosen yang sudah mendapakan Sertifikat Pendidik telah dinyatakan sebagai Dosen Profesional dalam bidangnya. Namun dalam praktiknya, terkadang terasa sangat sibuk tapi poin kinerja tidak cukup. Sehebat apapun profesi lain yang kita geluti di luar, kinerja dosen harus terpenuhi terlebih dahulu. Terima profesi dosen ini sebagai yang utama dari profesi lainnya.

Nah, ini baru urusan pencatatan kinerja, belum urusan pelaksanaan kinerjanya. Bisa dibayangkan, betapa menantangnya menjadi seorang dosen. Kebetulan Bagian saya membuka lowongan, berminat?

33 pemikiran pada “Aplikasi sebagai Alat Bantu Mengukur Kinerja Dosen”

  1. Dua siswa saya diterima di kedokterian Unsri tahun lalu, titip ya bu dosen hehe… Btw, apakah setiap Universitas negeri/swasta memiliki aplikasi yang sama atau hanya di Unsri saja sementara ini?

    Balas
  2. Oooh SINTA bisa mengetahui peringkat berdasarkan publikasi karya ilmiahnya. Menarik sekali. Makasih bu tipsnya, nanti sy share ke temen yang dosen buat nambah info.

    Balas
  3. Gak nyangka mba.. ternyata banyak banget ya aplikasi penilaian kinerja dosen..
    Dan jenisnya semua beda-beda. Tergantung peruntukan. Aku dulu pernah banget kepengen jadi dosen.. liat penilaian begini kok jadi keder ya.. hahaha

    Balas
  4. Jadi dosen tuh mumet juga ya Mom Amel hihihii.. udah mah pusing mikirin materi pembelajaran, masih juga harus ngurusin soal penilaian seperti ini. Salut deh sama temen-temen dosen yang selalu semangat mengajar. Semoga sehat selalu yaaaa

    Balas
  5. Saya jadi membayangkan, jika kenaikan tingkat oleh guru SD dilakukan dengan aplikasi, rasanya lebih memudahkan ya. Tidak sellau membawa berkas yang bertumpuk ke disdik untuk penilaian. Memanfaatkan teknologi. Semoga ke depannya bisa mengikuti dosen.

    Balas
  6. Banyak juga ya aplikasinya.
    Saya juga jarang menggunakan email institusi, lupa passwordnya. Lupa nama emailnya juga.
    Masih tetap lebih seneng pakai gmail. Kalau ada pendataan terus harus masukkan email institusi, baru deh bingung cari-cari catatan, atau nanya sekretaris

    Balas
  7. Wah tetep semangat ya Bu Dosen yang Syantiiik… Baru baca nya saja saya sudah pusing apalagi yang menjalaninya ya hehehehe. Pikirkan saja pahala ya kak, demi membuat mahasiswa sukses berawal dari keringat kelelahan Dosen.

    Balas
  8. Kak mau tanya jadi dosen itu stress ga ya punya mahasiswa yang bandelnya ga ketulungan, terus kalau dia nilainya jelek gimana ? apakah dosen merasa bersalah dan dimarahi rektor ? aplikasimengukur kinerja dosennya soalnya banyak sekali huhuhu, semangat ibu dosen sebagai guru tanpa tanda jasa.

    Balas
  9. Wah informasinya bagus nih Bu Amel, apalagi di masa sekarang ada beberapa oknum yang dengan mudah menyebut diri sebagai Profesor… Tentunya dengan tanggung jawab profesi yang berat, jadi dosen butuh kemampuan yang nggak main-main juga sih.

    Balas
  10. Sekarang sebagian besar pemberkasan sudah mulai beralih ke sistem komputer dan online. Memang tujuannya untuk memudahkan pengelolaan. Semoga ke depan bisa meringankan beban kerja dosen.

    Balas
  11. Banyak banged emang ya aplikasi untuk mengukur kinerja dosen, di institusi saya, LKD/BKD yang bs diklik di website LLDikti Wilayah 1 Medan. Kemudian kayak yg Mbak Amel tuliskan, SINTA, SKP, SISTER. Trus ada lagi yang internal kampus, SIMSDM UMSU, SISTER UMSU, e-learning UMSU, yang ke semuanya wajib selalu diupdate, minimal 1 semester sekali. Jika tidak, rektor tidak akan memberikan surat pengantar BKD/LKD ke LLDikti. Begitulah nasib kami para dosen PNS yang dipekerjakan di PTS. Saya toss nya sama Mbak Hani. Kami satu instansi tapi beda wilayah. Saya Wilayah 1 Medan, beliau wilayah IV Jawa Barat.

    Skuy, semangat mengoptimalkan kerja2 tri darma!

    Balas
  12. Jadi dosen sekarang ga mudah… ga ada cerita duduk manis dan cuap2 aja.. harus ada laporan sana sini yang perlu di penuhi dan kompentesi yang harus diraih . . Tapi dijelaskan juga diatas… udah banyak platform pelaporannya.. tingga mau atau tidak meningkatkan diri untuk menjadi dosen yang berkualitas….

    Hayu yang mau jadi dosen tapi setengah2 dipikirkan ulang

    Balas
    • Iya, kadang bilangnya dosen tapi tidak mau meningkatkan kompetensi. Bingung juga, dosen kan bukan karyawan yang ngerjain tugas rutin. Ilmu terus berkembang.

      Balas

Tinggalkan komentar

Share via
Copy link
Powered by Social Snap