Bila Tiba Saatnya Pergi untuk Selamanya

Sad. Ini bulan muram. Makin banyak mendengar berita kehilangan dan kepergian. Saat rasanya saya ingin bilang cukup ya Allah and wake me up when September ends, ternyata di penghujung September kami ditinggalkan oleh dua orang anggota keluarga. Ditinggalkan ternyata menyedihkan. Sampai kapanpun masih takut untuk mengalaminya. Tapi pernahkah memikirkan, bagaimana bila tiba saatnya pergi untuk selamanya?

Bila ditinggalkan pergi untuk selamanya

Sedih tak terukur

Ayah meninggalkan saya ketika saya sudah berkeluarga, dan sudah punya 2 anak. Namun sampai kapanpun, saya masih gadis kecilnya Ayah.

Seseorang berkata, “Setidaknya punya waktu yang lebih lama dengan ayahnya. Saya bahkan tidak lagi merasakan kasih sayang Ayah sejak kecil.”

Turut bersedih. Kita sama sedih, tapi bobotnya tidak bisa saling ukur. Kita sama kehilangan, jadi mari berpelukan.

Ditinggal pergi untuk selamanya, tidak akan pernah mudah

Sampai sekarang saya masih memimpikan Ayah. Menyesal atas apa yang belum bisa saya capai untuk membalas bakti kepada Ayah. Masih menangis bila teringat Ayah. Beliau tentu sudah baik-baik saja sekarang, hanya saja saya yang terus kehilangan.

Ini ternyata tidak mudah. Apalagi saya dominan bolak-balik RS menemani beliau kontrol. Saat kondisinya makin menurun, saya tidak sanggup melihat wajahnya, saya takut momen menyedihkan ini tidak dapat hilang dari ingatan saya. Ternyata sama saja, masih mengendap.

Jangan tergesa-gesa mengejar yang pergi untuk selamanya

Ayah juga mengajarkan dengan contoh. Waktu Nenek (ibunya) meninggal, Ayah sedang pelatihan di Bandung. Nenek meninggal mendadak, dan Ayah langsung terbang pulang ke Palembang. Padahal beberapa hari sebelumnya kami semua dari rumah Nenek, ngobrol, dan Beliau bilang mau buat sedekahan. Ternyata Beliau pergi untuk selamanya. Nenek memang mengumpulkan banyak orang, tapi untuk melayat.

Ayah datang, tidak langsung melihat Nenek, malah mandi dulu dan berwudhu, baru datang mencium Nenek. Tidak sedikit yang saya dengar bergumam dan ngomel dengan apa yang Ayah lakukan. Tapi bagi saya ini adalah pelajaran berharga.

Kematian itu pasti ditentukan, jadi jangan tergesa-gesa berlari mendengar kabar kematian. Dia tidak akan kemana-mana.

Jangan panik, yang pergi akan tetap pergi

Masih ingat pesan Ayah, “Kalau ada yang jemput di sekolah, tapi bukan Ayah, bukan Mamang yang biasa jemput, jangan mau ikut. Walau dibilang Ayah meninggal mendadak. Walau dibilang Ayah kecelakaan. Walaupun kenyataannya benar, keadaan tidak akan berubah, jangan panik dan melaporlah ke guru. Tapi kalau kamu ikut dan ternyata orang itu penculik, maka itu akan berbahaya. Mengerti?”

Bagaimana bila tiba saatnya pergi untuk selamanya

Persiapan untuk pergi: lahir dan batin

Untuk urusan amal perbuatan, Ayah selalu berpesan, “Kita tidak tahu yang mana yang diterima oleh Allah, kerjakan saja besar dan kecil. Jangan putus asa, siapa tahu Allah justru berkenan dengan amal yang kita anggap kecil nilainya.”

Ayah dan Ibu sudah punya persiapan untuk meninggalkan dunia. Dua set kain kafan sudah dipersiapkan, sejak saya SD rasanya itu sudah ada dalam lemari kaca. Saya pun berencana melakukan hal yang sama. Tapi berhubung rumah kontrakan sudah penuh dengan barang, ditunda dulu.

Bukan mau minta duluan ya Allah, saya minta panjangkan umur saya dan keluarga dalam keadaan sehat, dan bila saatnya pergi tidak menyusahkan orang lain.

Do’a kami

Menjelang pergi, Ayah bahkan membeli set keranda dan bendera kuningnya. Beliau bilang, setiap ada kematian di komplek selalu meminjam di masjid sebelah. Kalau punya sendiri jadi tidak sulit untuk meminjamkan dengan yang memerlukan. Setelah itu memang tidak ada kematian, dan ternyata Ayah yang menjadi pengguna pertamanya sekaligus terakhirnya. Karena selanjutnya keranda itu dihibahkan ke Masjid di Sukajadi, tempat ayah memperdalam agama, yang membuat Beliau menjadi pribadi yang jauh lebih baik setelahnya.

Beberapa orang menyiapkan warisan. Beberapa orang ikut asuransi jiwa. Apapun dilakukan oleh orangtua agar keluarga yang ditinggalkan tidak kesusahan. Tapi sebaik-baiknya warisan, adalah ilmu dan kebijaksanaan. Karena harta akan habis, tapi dengan ilmu harta dapat dicari. Meskipun mesti selalu diingat, urusan rezeki, bukan manusia yang atur.

Bagaimana kita ingin diingat?

Pada pergaulan, bisa jadi ada perselisihan. Apapun yang terjadi, tentunya kita ingin dikenang sebagai orang yang baik. Tapi, ya sudahlah, kita tidak pernah bisa menyenangkan semua orang. Dalam hati siapa yang tahu 😊. Yang penting, setidaknya kita diingat sebagai orang baik di keluarga. Keluarga mestinya menjadi cinta sejati.

Pesan untuk keluarga bila kami pergi untuk selamanya

Pengalaman antara hidup dan mati minimal sudah saya jalani tiga kali. Belum dihitung situasi hampir mati selain itu. Yah, meskipun hanya pengalaman melahirkan, setidaknya tidak sereceh rasanya mau meninggal ketika makan makanan enak kekinian.

Jauh-jauh hari, saya sudah rapi-rapikan Google Drive. Rapikan password dan folder penting. Tambah lagi saat pandemi Covid 19, sudah wanti-wanti ke keluarga pokoknya kalo ada apa-apa turut kata pemerintah. Tidak perlu cari tahu, tidak perlu berdebat, ikhlaskan saja, yang penting maksimalkan hubungan kita selama hidup di dunia. Bila sudah pergi untuk selamanya, terputuslah sudah kecuali sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.

Sedekah itu urusan kami semasa hidup, muridku mohon manfaatkanlah ilmu yang telah diberikan, anakku mohon do’akanlah kami. Kalau mau berhubungan baik, mumpung masih sama-sama di dunia. Kalau sudah berpisah, tolong sebut yang baik-baik saja. 🥰

Aamiin

Hari Selasa dan Rabu kemarin, kami kehilangan dua orang anggota keluarga istimewa. Yang pertama adalah Nenek suami, yang pergi di usia 95 tahun. Satu-satunya nenek kandung yang tersisa dari saya dan suami, dan masih sempat bertemu dengan tiga anak kami. Bahkan nama anak bungsu saya diambil dari nama suami Nenek 😁. Kehilangan yang ke dua adalah Wak Cik, yang sudah lama ikut orang tua saya sejak kami kecil. Wak adalah orang yang juga pernah mengasuh anak-anak kami.

Sayangnya karena kondisi pandemi, anak-anak kami tinggalkan di rumah saat pemakaman Nenek. Dengan sangat menyesal kami pun tidak dapat menghadiri pemakaman Wak, karena tidak ada yang menjaga anak-anak di rumah. Namun kami sempat abadikan prosesi pemakaman Nenek, untuk keluarga yang tidak dapat hadir, juga untuk jadi pelajaran anak-anak kami.

Mohon maaf lahir batin semuanya..

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020

30 pemikiran pada “Bila Tiba Saatnya Pergi untuk Selamanya”

  1. Setiap orang pasti pernah merasa kehilangan oleh seseorang yang mereka sayangi,entah itu ayah,ibu,anak, maupun kerabat terdekat.
    Tapi disini bagaimana cara kita mengikhlaskan kepergian mereka itu yang terpenting agar yang telah meninggal dapat tenang di alam baka.
    Sama sama berdoa, supaya hati ikhlas ya kak. Memang mengucapkan kata ikhlas mudah ketimbang menjalani nya tapi itu harus dilakukan.

    Balas
  2. Innalillaahi wainnailaihiraji’un. Saya kok rasanya belum siap mbaaaa kehilangan ayah saya. Sudah 2 tahun ini kami tak jumpa karena terpisah jarak. Ya Allah, semoga surga untuk kedua orang tua kita ya mba.

    Balas
  3. Aku nggak bisa banyak komentar di postingan kali ini kak. Setiap anak perempuan, berapapun usianya memang akan tetap menjadi gadis kecil bagi ayahnya. 4 tahun yang lalu ayah meninggal dan rasanya kadang masih ingin mengulang kebersamaan dengan ayah tercinta.

    Balas
  4. Aku masih saja berkaca-kaca kalau ngomongin kepergian orang terkasih. sama seperti ayahnya Mba Amel, yang ditinggal pergi ibundanya secara mendadak, begitu juga aku. pagi masih ngobrol, ketawa ketawa, 3 jam kemudian ibuku pergi dalam diamnya. nangis meraung, gulung-gulung, sampai akhirnya aku bisa tenang dan ihklas melepaskan kepergiannya. memang nasib orang itu nggak ada yang tahu. kelahiran dan kematian sejatinya adalah rahasia Ilahi yang nggak akan pernah bsa kita pahami. hanya ikhlas dan mendoakan, itu yang bisa kita lakukan. Peluk dari jauh untuk mba Amel sekeluarga, dariku yang masih mencoba untuk tegar. life must go on, bukan?

    Balas
  5. Aku masih saja berkaca-kaca kalau ngomongin kepergian orang terkasih. sama seperti ayahnya Mba Amel, yang ditinggal pergi ibundanya secara mendadak, begitu juga aku. pagi masih ngobrol, ketawa ketawa, 3 jam kemudian ibuku pergi dalam diamnya. nangis meraung, gulung-gulung, sampai akhirnya aku bisa tenang dan ihklas melepaskan kepergiannya. memang nasib orang itu nggak ada yang tahu. kelahiran dan kematian sejatinya adalah rahasia Ilahi yang nggak akan pernah bsa kita pahami. hanya ikhlas dan mendoakan, itu yang bisa kita lakukan. Peluk dari jauh untuk mba Amel sekeluarga, dariku yang masih mencoba untuk tegar.

    Balas
  6. Baca ini bener2 seperti disadarkan kembali kak. Masih inget waktu ditinggal nenek, kakek, pakdhe, budhe, paman. Itu sudah sedih. Sungguh mental ini nggak kuat kalau kudu berpisah dengan orangtua nanti, banyak mengecewakan masihan

    Balas
  7. Ya Allah, hati saya nyess banget baca ini. Turut berduka cita ya, Mbak. Saya kagum dengan pesan-pesan dari ayahanda. Semoga alm ayahanda dan nenek diampuni segala dosanya dan diterima segala amal baiknya.

    Balas
    • Saya juga, Kak enny…

      Rasanya kok kematian itu nyata dekat dengan kita. Dan itu nyata adanya.

      Ya Allah… Semoga kita kelak bisa kembali pada Nya dengan husnul khatimah. Berasal dari tempat yang baik, kembali dengan cara yang baik dan pulang ke tempat asal, tempat terbaik dari semua yang baik, yaitu surga Allah

      Balas
  8. Hiks, jadi inget almarhum cinta pertama saya yg meninggal pada Jumat fajar 16 Ramadhan 1439 Hijriah. Siapa cinta pertama saya, yuppss jelas ayah saya dong. Di blog, di Fb, udah gak terhitung tulisan saya untuk mengenang my first luv. Saya memang banyak menulis untuk self healing kehilangan saya pada sosok yg sampai detik ini saya rindukan. Begitu juga ibunda. Padahal waktu itu anak sy sudah 4 tp tetep kl sama beliau saya jadi gadis ciliknya yang suka diskusi bareng.

    Balas
  9. Turut berduka cita sedalam-dalamnya mba. Baca ini begitu membuat pilu, bahwa sesungguhnya kematian sedekta ini. Ayah adalah cinta pertama setiap anak perempuannya. Entah dia sudah menikah dan punya anak. Semoga husnul khatimah mba. Al fatihah buat ayah..

    Balas
  10. Aku fokus sama pesannya ayahnya mba Amel. Bener juga ya kalau ada yang mengabari tentang kepergian tapi orangnya gak kenal harus hati-hati. Siapa tahu orang jahat. Mendadak melow habis baca dari awal sampai akhir. Jadi keinget bapak sama mama, kalau tiba-tiba mereka pergi aku pasti sedih banget πŸ™ tapi kematian memang rahasia Tuhan, aku pernah ditinggal nenek dari mama mendadak, padahal paginya masih ngobrol. Kakek juga, lagi nonton bola tiba2 bilang ngantuk ternyata ngantuk yang dimaksud tidur selamanya πŸ™
    .
    Ilmu dan kebijaksanaan adalah harta dari orang tua yang tak akan pernah habis ya mba, setuju aku

    Balas
  11. Sedih sekali. Memang benar, kita nggak tahu mana yang akan Allah terima dari apa yang kita lakukan. Lebih baik mengerjakan semua kebaikan meski kecil sekali pun. Siapa tahu Allah berkenan dengan kebaikan yang kita anggap kecil.

    Satu lagi pembelajaran yang akan yuni ingat.

    Balas
  12. Semoga ayah mbak husnul khotimah ya mbak, diterima di sisi Allah. Pelajaran yang diajarkan ayah yang mbak share di sini menyentuh hati kami. Bagaimana menghadapi kematian. Semoga jadi amal jariah untuk beliau.

    Balas
  13. Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun. Semoga husnul khotimah. Turut berduka ya, Mbak Amel.

    Kepergian seseorang yang kita cintai selalu akan menyisakan rasa kehilangan. Kapanpun perginya, bagaimanapun caranya. Benar nggak bisa kita banding-bandingkan.

    MasyaAllah, aku terharu membayangkan betapa bijaksananya almarhum ayahandanya Mbak Amel. Semoga waktuku di dunia, bisa kuisi dengan kebaikan-kebaikan dan nasehat berharga untuk anak-anak. Semoga kelak mereka mengingatku sebagai ibu yang bijaksana. Huhuhu, mengingat itu jadi sedih rasanya.

    Balas
  14. Mba Armel, saya turut berduka cita atas kehilangan org2 terkasih Mbak. Semua pasti merasakan kesedihan yg dalam saat d tinggal org yg paling d sayang. Betul banget yg pasti diingat dan bisa d amalkan adalah ilmu yg bermanfaat yg d wariskan alm(h). Tetep semangat ya Mbak..

    Balas
  15. Sedih bacanya mb, merasa diri masih banyak kurangnya banget kalau suatu hari harus pergi untuk selamanya, hiks. Ya Alloh semoga husnul khotimah dan keluarga besar mb dikuatkan ditabahkan. Aamiin Ya Robbana.

    Balas
  16. Saya juga lebilangan bapak 4 tahun yang lalu mbak, dan baru 7 bulan yang lalu ibu mertua yang sakit dan saya ikut merawat beliau. Rasanya melihat kematiam di depan mata saat sakaratul maut benar2 sebuah pelajaran yang sangat berharga, selalu berdoa semoga kelak kita meninggal dalam keadaan husnul khatimah.

    Memang benar mbak, menjalin hubungan baik dengan sesama selama masih hidup bisa menjadi bekal bagi kita ketika Allah memanggil, kita akan di kenal sebagai orang yang baik. Terima kasih atas muhasabahnya mbak.

    Balas
  17. Setiap mendengar kabar kematian apalagi dari keluarga terdekat, rasanya memang sulit terkatakan, tapi memang kematian menjadi pengingat terbaik untuk kita ya agar siap bila waktunya tiba… Ya allah sungguh benar2 belum siap..

    Balas
  18. Semoga bila kita pergi selamanya, anakΒ² sudah dewasa, sudah mandiri sehingga kita tidam meninggalkan generasi yg lemah yaa Mba Amel

    Balas
  19. Aku selalu melow mba kalau membahas tentang kepergian orang yang kita cintai.
    Aku satu-satunya yang berada di samping alm bapakku ketika beliau dipanggil kembali oleh Allah SWT. Masih kuliah semester awal tuh dan ga tau harus gimana. Untungnya pas di rumah sakit itu, bapak sekamar dengan seorang kyai, jadi aku dibantu untuk baca-baca surat dan diminta untuk memanggil anggota keluargaku. Pengalaman ini sangat membekas di hatiku sampai sekarang. Duh jadi kangen deh pada bapakku. πŸ™

    Balas
  20. Turut berduka ya, Mbak Amel. Terasa banget aura kehilangan dari tulisan ini, sampai ikut mellow. Kematian memang pasti, semoga ketika saatnya tiba kita meninggalkan hal-hal baik, seperti almarhum ayahnya Mbak Amel.

    Balas
  21. Ayahku pergi 2 tahun sebelum aku menikah, dan ibuku pergi setelah 3 bulan aku menikah. Sampai saat ini, setelah bertahun-tahun berlalu, rasa kehilangan itu masih tetap ada. Terkadang muncul penyesalan, mengapa semasa hidup mereka dulu aku tidak memberikan yang terbaik. Sekarang setelah jadi orangtua, aku justru khawatir bagaimana kondisi anak2 jika aku dipanggil lebih awal? Namun di atas itu semua, kekhawatiran terbesar adalah sudah cukupkah bekal yang akan dibawa untuk di akhirat kelak? Huhuhu. Jadi melow. Makasih remindernya, Mbak Amel.

    Balas
  22. hiks… turut berduka ya mbak atas kepergian orang tercinta. kita emang gak tau kapan maut menjemput. persiapan boleh, tapi yg wajar aja. semoga kita tetap diberi kesehatan ya mbak. Aamiin

    Balas
  23. Mohon maaf lahir batin juga ya kak, semoga ditabahkan dan dilapangkan. Akhir tahun lalu saya juga kehilangan nenek saya. Tetap semangat terus

    Balas

Tinggalkan komentar

Share via
Copy link
Powered by Social Snap