Bounce Rate, Apa dan Bagaimana Menurunkannya: Catatan Blogger ke-1

Bergabung dalam beberapa grup blogger baru-baru ini membuat mata saya terbuka. Ilmu bertebaran di mana-mana, kadang-kadang sampai tidak mampu saya menampungnya. Banyak chat yang saya bintangi, akhirnya membuat starred message saya pun penuh juga. Jadi saya memutuskan untuk menuliskan seberapapun ilmu yang saya dapat, sereceh apapun itu, supaya saya bisa mengingat kembali kalau belum sempat praktek. Saya buat dalam satu label: catatan blog. Catatan blog pertama adalah tentang ‘bounce rate’. Ilmu ini saya dapatkan gratis dengan memantau Instagram Mbak Vicky Laurentina yang jago banget nge-blog tapi tetap humble, saya tuliskan pakai pengertian saya sendiri. Makasih loh Mbak!

Apa itu bounce rate (BR)?

Bounce rate (BR) menurut google analytic (GA) adalah jumlah pengguna yang masuk ke situs kita dan keluar setelah membaca satu halaman saja, tanpa mempertimbangkan lamanya mereka stay di sana. Ibarat pacaran, dah lama jadian tapi tidak melangkah ke halaman selanjutnya (pernikahan), eh malah putus. Berarti nilai BR setara dengan banyaknya mantan pacar. Makin banyak yang kelakuan pengunjung situs kita yang kayak mantan pacar, makin tinggi BR. *eh baper.

Berapa nilai BR yang baik?

Menurut Mbak Vicky, kalau isi blognya banyakan curhat kayak saya nih, maksimal 70%. Tapi kalau kontennya non personal kayak makanmu.com, maksimal 50%. Ingat ya, tidak seperti jumlah duit, semakin besar nilai BR, makin jeleklah nilai halamannya.

Bagaimana menurunkan BR?

Jangan PHP

Saat pengunjung situs kita ada di halaman beranda, mereka sebaiknya dapat menemukan judul dan nama penulis yang bisa di-klik. Hal ini untuk menghindari pengunjung langsung keluar karena bingung. Kadang-kadang, sering kita mengunjungi situs seseorang setelah melihat promo tulisannya di medsos yang lain, misalnya dari Instagram. Namun, saat kita menuju beranda, kita tidak menemukan artikel yang dimaksud. Atau malah keluar tulisan ‘halaman tidak ditemukan’. Nah, jangan sampai pengunjung pergi karena merasa sebal, hehehe.

Respon situs cepat

Jangan sampai situs kita lama memunculkan tulisan, yang bikin orang langsung keluar. Usahakan foto yang dipasang tidak melebihi 100 Kb, juga tidak memasang music atau video yang terputar otomatis. Pasang iklan di blog? Jangan sampai menutupi 90% layar yang membuat pengunjung bingung mau menutupnya gimana, akhirnya malah pergi. Bila memasang widget pastikan situs yang ditautkan juga tidak lambat loading yang akan berpengaruh ke situs kita juga.

Pasang kontak dan printilan artikel

Pada level artikel, saat pengunjung menyukai artikel yang kita suguhkan dan ingin mengetahui tentang penulis lebih jauh, mereka harus bisa menemukan kontak penulis dengan mudah. Salah satu cara yang saya gunakan, yaitu menampilkan medsos di samping artikel. Atau ditulis di bagian about. Bila kita menuliskan artikel tentang review tempat wisata, sertakan juga peta dari map supaya pengunjung bisa mendapat info lebih jauh tentang lokasinya. Hal tersebut meskipun tidak berpengaruh terhadap bounce rate, akan tetapi berguna menambah waktu kunjungan. Bila kita Selanjutnya, berikan pilihan tempat menginap yang bisa dipilih pembaca melalui tautan ke artikel kita yang lain.

Pancing rasa penasaran

Jangan memuat semua artikel penuh di halaman beranda. Jangan buat terlalu lengkap, buatlah rasa penasaran. Buat sinopsisnya saja, atau tambahkan read more, supaya pengunjung akan klik untu menuju halaman artikel tersebut. Dengan demikian pembaca tidak puas dengan membaca satu halaman beranda saja.

Pasang link internal

Internal link adalah tautan menuju halaman artikel kita yang lain dalam situs yang sama. Pernah dengar jenis link yang lain? Ada juga yang namanya inbound link, yaitu bila situs orang lain memuat tautan dalam artikelnya menuju situs kita. Internal link yang kita masukkan harus bisa menjawab:

“Ini info valid atau pesan sponsor? Apa kompetensi kita menulis artikel ini sehingga kita bisa bercerita dengan sangat lengkap? Bagaimana cara menghubungi penulis bila ingin bekerja sama?

Buat internal link yang menarik. Caranya, bedakan warna anchor text dengan warna tulisan artikelnya. Posisinya harus tepat, tautannya pun harus nyambung dengan apa yang dicari oleh pengunjung. Contoh yang melebur dalam paragraph tulisan, misalnya tautan menuju artikel riwayat blog yang saya tulis. Warnanya beda kan, jadi biru.

Tautan pada halaman artikel bisa juga di luar paragraf, misalnya:

Baca juga: kerja jadi blogger?

Atau bisa juga tambahkan related post di bawah artikel (lihat di bawah artikel ini).

Mengapa BR penting?

Nilai BR yang tinggi merupakan sinyal jelek yang ditangkap Google. Hal ini terkait dengan kemampuan artikel kita untuk nangkring di page 1 mesin pencarian. Bila ada 100 artikel dengan kata kunci yang sama dicari oleh seseorang, maka Google akan menampilkan artikel dengan BR rendah duluan.

Hal yang paling berbahaya itu adalah kalau artikel kita membosankan, indikatornya : BR tinggi, disertai waktu stay (average time on page)yang pendek. Tapi jangan bersedih, hal ini mungkin disebabkan sasaran pembacanya belum tepat, bisa diakali dengan pasang ads di medsos untuk mempromosikan artikel kita pada segmen pembaca yang relevan.

Bagaimana cara memeriksa nilai Bounce Rate?

  • Buka google analytic
  • Klik menu behavior
  • Klik menu site content
  • Voila , ketemu bounce rate-nya, lihat per artikel
bounce rate
bagian yang di kotak merah

Nah, saatnya dicoba dulu. Mungkin ada yang saya kurang atau salah tangkap dari penjelasan Mbak Vicky, boleh dong colek saya di kolom komentar. Sampai ketemu di catatan blog selanjutnya!

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020

24 pemikiran pada “Bounce Rate, Apa dan Bagaimana Menurunkannya: Catatan Blogger ke-1”

  1. Whoaa terima kasih udah diparafrasekan, Mbak

    Saya jadi terharu, ternyata ada juga yang bisa memahami oret-oretan saya yang amburadul itu di Instastory itu

    Oh ya, mau saya luruskan.. Kalo ngereview tempat makan di artikel, lalu diberi peta Google Maps tempat makan tersebut, maka itu bukan upaya nurunin bounce rate, Mbak, melainkan hanya upaya memperpanjang Time on Page di artikel.
    Tapi yang termasuk usaha nurunin bounce rate itu kalau misalnya ngereview suatu tempat makan, kemudian memberi link ke reviewan restoran lain di dalam blog itu juga.

    Oh ya, siapa tuh yang bounce ratenya rerata
    35% di atas? Cakep euy..

    Balas
    • Wah, saya juga terharu loh mbak, mau mampir ke blog saya ini. Itu GA blog baru saya yang di makanmu.com mbak. Oke mbak saya perbaiki ya. Nanti boleh ya saya parafrasekan terus kalau ikut kuliah singkat di IGS nya…

      Balas
  2. keren mbaa..
    aku kemarin juga nyimak story selo nya mba vicky ini.. ku catat dibukuku biar gak lupa. hehe..

    next, dirangkum lagi ya mba kalo mba vick bagi2 ilmu. hehe

    Balas
  3. Wah, terima kasih infonya. Saya udah sering dengar BR ini. Tapi baru pas baca tulisan ini paham pengaruh BR ke mana dan gimana cara menurunkannya. Baru tahu juga cara ngeceknya. Mau go to google analytic dulu nih.

    Balas
  4. Bolaki-balik saya membaca tulisan ini sambil praktikkan, sayangnya saya belum berhasil ha-ha-ha
    Sepertinya saya harus kursus khusus ini agar bisa mengerti soal blog dan printilannya ini

    Balas
  5. Wah Informasi yang penting nih bagi blogger pemula bagaimana caranya untuk membuat BR tersebut turun adalah hal yang sangat penting.

    Balas
  6. puyeng aku tuh liat bounce rate huhu, diatas 80% teruuus. makanya lagi banyakin nulis di 1000 keatas dan kontennya yang ringan juga. biar pada betah dan enggak cepat-cepat exit hihi. makasih sharingnya mba jadi belajar banyak ttg bounce rate.

    Balas

Tinggalkan komentar

Share via
Copy link
Powered by Social Snap