Cara Memanipulasi Pasangan Hidup

Sebuah kiriman promosi poster acara daring dengan judul yang menggelitik terlihat di laman medsos saya. Tidak usah saya sebut judul lengkapnya, intinya kalau diartikan seperti membahas bagaimana cara agar pasangan tidak selingkuh. Saya sebenarnya penasaran, apakah langkah-langkah yang dibahas sebenarnya adalah cara memanipulasi pasangan? Sayang saya tidak bisa ikut.

Seberapa pentingnya ketidaksetiaan?

Rasanya tidak pantas juga membahas isi acara yang tidak pernah diikuti, siapa tahu itu sekedar judul biar seru, sama seperti judul postingan ini. Saya awalnya tak berniat menuliskan opini saya di blog. Tapi apa boleh buat, ide menulis ini rasanya tak pernah habis datang dari grup bloger. Kemarin di grup muncul lagi poster dengan tema yang tak jauh berbeda, tentang guncangan kesetiaan karena orang ke tiga yang dibahas dalam webinar.

Whattt!! Pandemi yang memusingkan begini masih kurang seru apa, sampai mesti tambah masalah tidak setia sama pasangan?”

Reaksi Saya

Iya, saya tahu, balik-balik ke paragraf sebelumnya, siapa tahu itu sekedar judul, dan yang nggak ikut mestinya tidak banyak komentar, hehehe. Tapi saya cuma penasaran saja, sampai dibuat judul webinar begini, sebegitu pentingkah arti ketidaksetiaan? Ketidaksetiaan loh, bukan kesetiaan.

Kata ketidaksetiaan dan berbagai turunannya seperti mendua, pelakor, pebinor, selingkuhan, dan lain sebagainya itu memang menggoda untuk dibahas. Dalam dunia per-ghibah-an, masalah ketidaksetiaan itu hot topic, dijamin banyak yang ikut nimbrung. Saya pikir juga bakal banyak yang ikut webinar ini karena judulnya. Namun, kata bermakna ketidaksetiaan bukan yang baik untuk menjadi titik fokus. Kalau diulang-ulang fokusnya, nanti malah terasa semakin dekat dan bikin gelisah, loh!

Pasanganku setia nggak, ya….

Mulai mikir yang nggak2

Seberapa tinggi tingkat kepercayaan terhadap pasangan?

Dari manapun sumber kegelisahannya, gosip kelompok kecil atau berita nasional dari televisi, tahap selanjutnya setelah munculnya kegelisahan adalah mulai melihat ‘tanda-tanda’ yang belum tentu berhubungan.

Waktu bisa jadi tersita hanya untuk memikirkan, ‘apakah pasangan saya layak dipercaya 100%’. Sejak dalam pikiran mulai ada penurunan tingkat kepercayaan. Lama-lama akan keluar juga dalam ucapan, dan terwujud dalam perilaku. Bagaimana cara hidup terikat bersama orang yang tidak percaya dengan kita? Lebih parah dari permainan Among Us, saya rasa. Selamat datang toxic relationship!

Cara agar pasangan tidak selingkuh

Pertanyaan saya adalah, “Kenapa mesti kita”? Kenapa mesti kita yang berupaya mempertahankan cara orang bertindak terhadap kita? What’s wrong with us? Kenapa kita harus memanipulasi perasaan orang lain yang jelas berbeda isi kepalanya?

Saya secara pribadi akan mengubah kalimat itu dengan ‘bagaimana cara agar saya tidak selingkuh’. Saya adalah penguasa atas pikiran saya sendiri, dan mestinya pasangan juga demikian. Kita bukanlah anak kecil yang bisa dikondisikan tanpa perlawanan. Kalau memang niat, pasti ada jalan. Termasuk perselingkuhan.

Haruskah mengantisipasi perselingkuhan?

Antisipasi terjadinya perselingkuhan adalah hal terlucu dan tercapek dari seluruh upaya seseorang terhadap pasangannya. Kapan lagi mau memikirkan bagaimana agar hubungan semakin harmonis , bagaimana cara terbaik membesarkan anak di era 4.0, juga cara self improvement di era pandemi?

Beberapa aplikasi saya lihat banyak ditawarkan untuk melacak medsos atau ponsel orang lain, yang digunakan untuk mengintai pasangan. Ada juga yang langsung memeriksa detail ponsel pasangan setiap hari. Entah untuk meyakinkan perasaan aman atau malah terobsesi mencari ‘bukti’.

Stop it. Beneran. Sekarang kalau tidak didapatkan bukti, apakah sudah bisa tenang? Kalau menemukan bukti, siap nggak?

Cara agar pasangan tidak selingkuh dengan pelakor/ pebinor

Mau nggak disamakan macam barang yang bisa direbut? Kalau saya, nggak mau ya. Sudah dewasa berarti sudah bisa membuat keputusan sendiri. Perselingkuhan tidak akan terjadi bila salah satunya tidak membuka pintu.

Sad but true, tidak perlu melabrak pelakor atau pebinor, murka saja sama pasangan sendiri. Atau, nggak usah murka juga deh, menghabiskan energi. Coba tanya aja kenapa, dan jawabannya diharapkan berpusat pada dia. Dia yang merasa jenuhkah, dia yang merasa memudar cintakah, insecure? Tapi kalau jawabannya berpusat pada orang lain, saya mendukung kalau Anda mau murka (siram bensin 🙈). Monggo Bro and Sis!

To be honest, saat sudah ada pelakor atau pebinor gentayangan, artinya sudah tinggal tanya saja, pasangan maunya pergi atau tetap tinggal. Apalagi kalau sudah menjelma fisik dan gencar menguras dompet. Antisipasi tinggal amankan harta gono-gini saja. Bila pasangan memilih tetap tinggal, coba kembali berdiskusi. Biarkan pengkhianat memilih, bukan kita yang minta agar orang lain bertahan. Bebannya bakal jadi dua kali lipat. Sudah sakit hati dikhianati, eh rupanya berjuang sendirian.

Antisipasi untuk menjaga keutuhan rumah tangga dilakukan sebelum ada pihak ke-3. KOMUNIKASI dengan pasangan, apa yang dirasakan, apa yang diinginkan. Kalau mau curhat rumah tangga, ya jangan pula ke lawan jenis, nanti malah modus.

Kalau ternyata harus ada perubahan, ya mesti keputusan diri sendiri juga. Berubah demi keutuhan ikatan yang dipersatukan Tuhan bolehlah dilakukan. Tapi kalo berubah demi orang lain, atau malah karena disuruh orang lain, kira-kira bakal lama nggak?

Pasangan berselingkuh, kita juga bersalah?

Sering nggak, dengar cerita seorang suami selingkuh karena istrinya sibuk dan tidak memperhatikan suami? Atau suami selingkuh karena istri jadi makin berantakan tampilannya? Atau istri selingkuh karena suaminya pengangguran. Benarkah semua alasan itu? Bisa iya, bisa tidak. Saat orang berkhianat, ia adalah orang yang paling bersalah. Tapi, kapan pasangan yang dikhianati juga dapat turut bersalah?

Unpopular opinion. TARIK NAPAS sebelum lanjut.

Introspeksi diri? Perlu juga sih, bila ternyata pasangan yang berselingkuh sebelumnya sudah memberi tahu dia merasa begini-begitu. Iman kepada Tuhan saja naik dan turun, apalagi pada makhluk-Nya. Mungkin ada hal yang pasangan tidak berkenan dari kita, dan sudah berusaha memberikan solusi untuk meningkatkan cintanya (solusi ya, bukan ngeluh doang). Ingat-ingat, apakah kita sudah pernah mau berdiskusi untuk mencari jalan keluar yang menguntungkan kedua pihak.

Tapi memang ada juga pepatah, bila ada kemauan seribu satu jalan, bila sudah tidak mau seribu satu alasan. Kadang tidak habis pikir mengapa perselingkuhan masih terjadi. Meskipun sudah punya anak dan seharusnya bahagia. Bisa jadi tidak ada hubungan dengan seberapa becusnya pekerjaan sebagai ibu dan istri di ranah domestik. Kadang juga diragukan alasannya adalah materi.

Rumah tangga bukan seperti cinta negeri dongeng, happily ever after. Bisa jadi kayak cerita The World of The Married. Kita hidup dengan manusia lain di dunia nyata, yang sebelumnya adalah orang asing. Manusia adalah makhluk dinamis. Kompromi adalah hal yang wajar dan penyesuaian dapat terjadi setiap waktu.

Memulai kembali hubungan

Sedih pasti ya, karena merasa dikhianati. But, kita masih punya pilihan untuk menerima atau tidak menerima perlakuan ketidakjujuran pasangan itu. Ini dapat dipengaruhi hasil introspeksi seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Yang jelas keputusan sendiri yang dipikirkan matang-matang ya, bukan keputusan keluarga, teman, atau malah netizen 🤭.

Saya yakin akan timbul pertanyaan, memangnya orang yang berselingkuh bisa berubah? Tidak ada yang tidak mungkin, Allah Maha membolak-balikkan hati manusia. Memulai kembali dengan kepercayaan yang memudar itu memang berat dan butuh waktu, serta upaya sungguh-sungguh dari pasangan untuk berubah. Tapi ada juga yang berhasil melaluinya.

Eits, tapi tergantung batas mana selingkuhnya juga sih. Kalau dalam agama Islam, setahu saya berlaku hukum zina adalah adalah saat melakukkan persetubuhan (CMIIW ya). Nah, kalau pasangan menikah yang sudah dewasa, berakal sehat dan merdeka melakukan perzinahan, ya tiada ampun. Bila ada saksi, pengakuan atau bukti, maka anggap saja yang berselingkuh sudah pergi untuk selamanya dan kita tinggal melayat.

Tapi yah… ini memang cuma teori. Saya rasa tidak ada cara yang tepat agar pasangan tidak selingkuh. Amit-amit jangan sampai terjadi. Tentunya saya tidak berada pada posisi orang yang benar-benar mengalaminya, bisa jadi akan berbeda. Mungkin yang sama adalah, kita punya Tuhan tempat kita bergantung, berharap agar rumah tangga kita dijagakan dari prahara.

Cara agar pasangan tidak selingkuh: Sebuah Kesimpulan

  1. Selingkuh itu salah. Titik.
  2. Selingkuh terjadi karena adanya niat. Kesempatan bisa dicari-cari sendiri.
  3. Orang yang selingkuh tidak boleh menyalahkan orang lain atas pengkhianatannya.
  4. Orang yang diselingkuhi boleh introspeksi diri apakah ia turut bersalah, tapi kembali ke poin 2.
  5. Tidak perlu mengantisipasi terjadinya perselingkuhan dengan menjadi detektif.
  6. Komunikasi bersama pasangan sebelum ada pihak lain yang terlibat. Komunikasi untuk membuka ruang diskusi, bukan untuk berdebat.
  7. Tidak ada guna memanipulasi pasangan.
  8. Tidak ada cara agar pasangan tidak selingkuh. Biarlah masing-masing individu mencegah dirinya sendiri dari perselingkuhan.
Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020

9 pemikiran pada “Cara Memanipulasi Pasangan Hidup”

  1. Saya pernah tanya pada teman yg suaminya sering tugas keluar, apa tidak khawatir suaminya selingkuh? “Saya titipkan suami saya pada Allah, semoga Allah selalu menjaganya. Karena saya mungkin mengawasi 24 jam nonstop.” Begitu jawabannya dg penuh keyakinan.

    Balas
  2. Saya pernah dengar nasehat seorang mubaligh, katanya tak perlu terlalu kepo dengan aktivitas pasangan. Jika ia menyeleweng tanpa sepengetahuan kita, ia bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Kalau memang tidak bisa diarahkan, mungkin bisa cari yang lain lagi. Eh. Tapi ya, pelaksanaan di lapangan tidak semudah itu. Semoga kita semua terjaga dari yang namanya pengkhianatan.

    Balas
  3. Masa pandemi ini, selingkuh malah tambah subur.
    PSBB awal bisa sangat berat karena pasutri dipaksa bekerja di rumah, sementara komunikasi keluarga bukan sesuatu yang biasa. Perundungan malah kerap terjadi pada tipe keluarga semacam ini. Teman curhat bisa jadi teman maksiat.
    Tentunya tidak semua begitu. Ini kasuistik dan pandemi hanya pemicu saja.

    Balas
  4. Masalah perselingkuhan selalu menjadi momok yang mengerikan dalam rumah tangga. Sebagai suami/istri kita memang harus bisa saling menasehati, agar tetap terjalin komunikasi yang sehat. Nah, kalau jalan komunikasi ini sudah buntu ya, pasrahkan saja sama Allah, paling tidak kita harus selalu berusaha memperbaiki diri dalam setiap langkah kita, agar rumah tangga tetap terjaga.

    Balas
  5. aku tahu ini poster webinar dari kotaku huhu..memang perselingkuhan ini juga wabah merebak dimana-mana. Namun, kita lupa yang lebih fundamentalnya adalah memperbaiki komunikasi, niat sebelum dan saat menikah. atau kesehatan batinnya para orang tua dan remaja untuk mencegah hal ini

    Balas
  6. Selingkuh memang salah, tapi penting selalu berkaca ke diri sendiri. jangan sampai pasangan ‘mental’ karena sikap kita yang salah dan susah berubah. Ini topik hangat ya, apalagi jaman pandemi

    Balas

Tinggalkan komentar

Share via
Copy link
Powered by Social Snap