Tangis dan Tawa dari Cerita Gonta-Ganti Ponsel

Telepon seluler (ponsel) adalah barang yang sering digenggam, bila tak ada rasa gelisah kehilangan, bila habis baterainya bikin deg-degan. Namun, ponsel juga menjadi barang yang paling mudah tergantikan. Bisa terganti karena bosan, rusak, hilang, ataupun fitur yang tidak mendukung lagi. Kali ini, saya mau cerita tentang ponsel-ponsel yang sudah pensiun menemani saya selama ini.

Cerita Ponsel, Bagai Kasih Tak Sampai

Saya dulu begitu terobsesi dengan ponsel hingga saya rutin membeli majalah Selular, untuk melihat model dan fitur terbaru ponsel yang pastinya tidak saya beli (ngenes 😭). Saya baru punya ponsel saat SMA. Mulai banyak memakainya saat tahun terakhir. Lagipula, siapa yang mau saya hubungi selain orang tua?

Anak pemalu (hahay) kere nggak punya pulsa, main ponsel layar hitam putih, apa asyiknya? Tetap punya untuk pergaulan, tentunya. Bertahun-tahun berlalu, sudah banyak ponsel yang masuk dan lepas dari genggaman. Ini cerita tentang ponsel GSM/ 3G/ 4G yang saya punya, berikut kenangan bersamanya.

Ponsel Sejuta Umat

Ponsel pertama saya adalah Nokia 3315. Orang seangkatan saya tentu masih ingat ponsel Nokia 3310 yang tahan banting itu. Nah, 3315 itu bentuknya sama, hanya beda warna sedikit di cover originalnya. Kemampuannya? Standar aja. Semacam produk sejuta umat. Tidak lama, saya pun mulai bosan. Setelah mengumpulkan uang jajan, saya lalu meminta izin kepada orang tua untuk tukar-tambah dengan model lain.

Ponsel Nada Dering Pribadi

Setelah menimbang-nimbang harga, akhirnya pilihan jatuh ke Nokia 3330. Bentuknya masih saja bongsor seperti sebelumnya, lebih gendut malah. Saya naksir dengan fiturnya yang bisa membuat nada dering pribadi. Kebetulan sempat belajar not tangga nada sedikit, jadi bisa membuat lagu yang jumlah karakternya terbatas. Lagunya apa, coba? Lagu disko angkot heheheh.

Sayangnya usia ponsel ini berakhir setelah terjatuh ke lobang wc. Kecerobohan karena membawa ponsel tanpa membawa tas, juga tidak punya kantong di baju dan celana. Tadinya supaya nggak hilang, dibawa ke dalam toilet, diletakkan di sebelah bak mandi. Takdir membuat ia tersenggol gayung, melayang pas ke dalam lobang. Tamatlah cerita ponsel satu ini.

Cerita Ponsel yang Tragis

Semenjak kecelakaan wc itu, lama juga saya tidak dibelikan ponsel lagi. Adapun majalah Selular, tetap rutin saya beli. Tidak mengapa, sudah biasa bermimpi. Hingga akhirnya, setelah orang tua merasa saya butuh alat komunikasi, karena abang saya akan segera tamat SMA, saya dibelikan lagi ponsel.

Saat itu yang saya incar adalah ponsel berkamera. Tapi ponsel dengan kamera built in mahal, teman. Akhirnya pilihan saya jatuh ke Nokia 6610 bekas, yang walau tidak ada kamera, bisa dipasang kamera tambahan terpisah. Saya baru membawa pulang ponsel saja, berniat ingin menabung untuk menebus kameranya nanti.

Saya sangat gembira, karena ini adalah ponsel kamera layar warna polifonik pertama saya! Hingga tak lama, takdir mengakhiri kebersamaan kami. Saya masih ingat, Sabtu menyedihkan itu. Saya yang memakai baju pramuka naik angkot untuk pulang ke rumah. Saya duduk di kursi paling ujung pada angkot yang kursinya menyamping itu. Ponsel saya masukkan ke kantong kiri baju yang berasa pada posisi bawah.

Tak lama kemudian, masuklah seorang lelaki dengan tas selempang hitam besar, seperti tas laptop, memilih duduk di sebelah kiri saya. Saat duduk, sama seperti saya, tasnya dipangku di atas paha. Setelah penuh, angkot itu pun melaju.

Lelaki mencurigakan itu, begitu condong menoleh ke arah kanan (ke arah jendela belakang), membuat saya pun harus terus menolehkan kepala ke kanan bila tidak ingin bertemu muka dengan dia. Hingga saya merasa ada seperti laba-laba menggerayangi baju kiri saya. Saya menoleh ke kiri, muka lelaki itu masih tidak bergerak. Saya begitu takut, tapi karena cuma sebentar, saya akhirnya diamkan saja. Lelaki itu pun turun.

Saat tiba di tempat saya turun, saya membayar ongkos, dan baru menyadari kantong kiri saya sudah robek! Rasanya saya mau pingsan di pinggir jalan. Saya sempat terduduk lemas, rupanya lelaki itu copet!

Ponsel Imut

Sejujurnya, saya sudah agak hilang semangat karena trauma ponsel dicopet. Karena saya butuh ponsel, saya cari yang murah meriah, asal ada saja. Eh, waktu lihat-lihat di toko, saya naksir ponsel yang satu ini. Imut, simpel, Nokia 1110.

Kecil dan ringannya ponsel yang satu ini membuat saya bisa mengalungkannya di leher, meski agak gondal-gandul. Bahannya juga antislip, enak digenggam. Ponsel ini layarnya terang, dan ada senternya.

Karena ponsel ibu lama rusak, ibu mengadopsi ponsel saya yang satu ini, karena dinilai tidak terlalu sulit pengoperasiannya. Sedangkan saya, beli baru, dong!

Ponsel Disko

Pilihan ponsel selanjutnya jatuh pada Nokia 3220, saya sebut sebagai ponsel disko. Ponsel ini punya empat lampu di badan sampingnya, dan akan berkedap-kedip mengikuti irama nada panggil, seru!

Ponsel ini juga bisa dimasukkan nada dering buatan kita sendiri, tetapi gerak lampu dan getarnya jadi standar, beda dengan nada bawaan yang menghasilkan getar dan ritme lampu yang pas dengan lagu.

Badannya antislip, semacam karet, sehingga lebih enak di genggam, lebih tidak khawatir lecet. Ponsel ini juga ada kameranya, dan hasilnya lumayan. Pokoknya saya sayang banget sama ponsel ini dan lumayan lama memakainya.

Ponsel Selingkuh

Setelah lama memakai Nokia, dan merasa fiturnya kurang mendukung untuk pekerjaan saya selanjutnya, bye Nokia, saya selingkuh dengan Sony Ericsson. Pinginnya sih, beli yang seri Walkman, apa daya kantong cuma bisa eksekusi Elmo.

Bentuk Elmo ini unik, badannya ringan, hasil fotonya bagus dengan warna yang real. Sayangnya, kami harus berpisah setelah LCD Elmo hancur karena kecerobohan saya sendiri.

Elmo yang saya kalungkan di leher terjepit, saat saya hendak menutup pintu mobil, karena terburu-buru dari ambil karcis di portal mall secara manual. Badannya agak bengkok sedikit, memang pada dasarnya ringan dan ringkih. Saya sampai menangis saat itu, betapa saya cinta banget sama ponsel yang satu ini. Tapi tidak memungkinkan untuk digunakan lagi.

Ponsel BBM

Siapa yang tidak pernah pakai fitur BBM dari Blackberry? Rasanya angkatan saya pasti pakai ya. Waktu itu cobanya terlambat sih, ibarat kata orang sudah pakai Bold, saya baru beli Gemini. Yah, nasib tunggu harga turun.

Saya awalnya malas pakai BB. Bentuk tombol Qwerty itu rasanya ribet. Tapi mau tidak mau, komunikasi teman-teman bisa lebih mudah dan murah kalau pakai BB. Ganti, deh! Selebihnya tidak ada yang istimewa selain dari BB chat dan BB grup tempat awal ngobrol (yang kadang malah bisa jadi awal ghibah) virtual dan brodcast.

Ponsel Samsung Pertama

Samsung itu dari dulu bagi saya adalah ponsel kelas atas. Jadi belinya yang tipe murah saja, Samsung Galaxy Mini. Tombol Qwerty dari layar sentuh ternyata susah juga buat saya adaptasi. Salah ketik melulu . Tapi lama-lama bisa juga. Fiturnya? Standar saja, tidak ada yang spesial.

Ponsel Kulkas

Ternyata ponsel sebelumnya tidak mampu upgrade software, sehingga saya memberikannya pada orang lain. Saya akhirnya mencoba memilih ponsel yang lebih bagus kameranya, LG G4 stylus. Dan kali ini, saya mau coba yang pake stylus. Anggap saja beli model Notes merek sebelah. Lagi-lagi kasih tak sampai, *miris.

Entah kenapa saya begitu tergila-gila buat cari kamera ponsel yang bagus. Padahal saya tuh jarang foto-foto (lebih tepatnya males), dan makin bagus kamera ternyata makin ‘real’ gambarnya. Zaman dulu belum heboh filter-filteran, karena saya mungkin belum kenal juga, hehehe. Ponsel ini saya sebut ponsel kulkas, karena merek ini sebelumnya saya kenal sebagai merek kulkas.

Ponsel Cina

Jadi dulu itu pokoknya kiblat teknologi saya, kalau bukan Jepang ya Eropa. Padahal ponselnya sendiri dibuat di Cina. Ada andil suami yang memperkenalkan ponsel Cina yang menurutnya harga murah tapi isinya oke punya. Akhirnya saya beli ponsel Xiao Mi.

Saya bilang ini ponsel Cina, karena memang ponsel ini terang-terangan pakai bahasa Cina pada merek dan printilannya. Ternyata, bagus juga, kawan! Beneran! Saat itu suami belinya online. Fiturnya sudah setara dengan ponsel senior yang lebih mahal.

Ponsel Mi Ke-2

Ponsel Xiao Mi sering jatuh, maklum punya anak kecil (eh, kok nyalahin anaknya?). Saya ralat, itu murni kesalahan mamanya. Ada retak sedikit sekali di badannya tapi tidak memengaruhi fungsi. Berhubung ada keluarga yang butuh ponsel, jadinya dihibahkan. Suami membeli Red Mi 4 Prime sekalian untuk kado ulang tahun saya.

Awalnya, fiturnya cukup oke untuk mendampingi saya kerja. Tapi lama-lama, mulai terasa berat. Akibat pandemi, dimulailah sekolah daring. Di situ baru ketahuan ponsel tidak sanggup, sering lemot, aplikasi hilang, dan aplikasi chat sering bermasalah. Akhirnya saya beli lagi ponsel baru, karena anak saya ternyata butuh ponsel ini untuk sekolah daring. Bila hanya anak saya yang pakai, saya bisa pasang aplikasi yang dibutuhkan anak saja.

Cerita ponsel
Ponsel Veteran

Pertimbangan Memilih Ponsel

Kalau dulu, memilih ponsel mungkin lebih ke gaya, makin ke sini makin lihat fitur. Ternyata, yang saya butuhkan itu adalah ponsel responsif dengan memori yang besar. Saya juga butuh kamera yang bagus, namun banyak aplikasi edit foto dan video yang bisa meningkatkan kualitas foto, bila ponsel punya memori yang cukup untuk memasang aplikasi tersebut. Saya menulis blog dari ponsel, begitupun juga mengedit foto dan video untuk kanal Youtube saya.

Pengalaman menggunakan ponsel sebelumnya, saya harus rutin mengosongkan fotonya agar performa ponsel kembali prima. Foto, video, dokumen, kalau sudah dipindahkan sedikit-sedikit, bikin pusing juga memilahnya. Setelah berganti ponsel, meskipun memorinya besar, saya mesti tetap rajin memilah dokumen untuk dimasukkan ke Google Drive. Saya tidak mau kehilangan momen dan dokumen penting.

Cerita Ponsel Bekas, Kemana Bermuara?

Sebagian besar ponsel bekas saya dihibahkan. Saya dulu pernah cerita ke teman saya saat anak saya masih bayi, bahwa ponsel dan tablet saya yang sudah tidak saya pakai akan saya wariskan ke anak saat dia sudah bisa menggunakannya. Tapi kekonyolan saya itu untungnya dia hentikan, teknologi cepat sekali berubah.

Waduh, nanti mereka bingung, Mel. Ini apaan, Ma? Peninggalan dinosaurus?

Komentar teman saya

Saya pernah membuang ponsel BB rusak saya di luar rumah, lengkap dengan kemasannya. Waktu itu saya belum tahu bahwa baterai itu termasuk limbah B3. Tapi yang saya tahu, asal tidak dicampurkan dengan sampah yang lain, elemen di dalam ponsel masih bisa digunakan oleh orang lain.

Saya ingat, selama saya tinggal di Jakarta, ada orang yang lewat menanyakan adakah ponsel bekas, botol parfum bekas, kipas angin bekas dan lain sebagainya. Artinya masih ada bagian yang bisa dimanfaatkan. Tapi untuk selanjutnya, nampaknya perlu cari tahu lagi, di mana bisa mengumpulkan limbah B3 di Palembang.

Bagaimana dengan teman yang lain? Pernah pakai model ponsel yang sama?

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020

77 pemikiran pada “Tangis dan Tawa dari Cerita Gonta-Ganti Ponsel”

  1. Mba, baca tulisan ini saya senyum-senyum sendiri. Secara langsung kebayang dulu beli buku khusus yang bisa buat nada-nada dering gawai. Mulai dari meteor garden sampai mario bros. Hahaha

    Balas
  2. Cerita kita yang ponsel awal, kurang lebih sama. Hihihi. Saya jadi senyum-senyum sendiri saat membacanya.
    Saat sampai di ponsel kulkas, sempat mikir apa maksudnya. Ternyata LG.
    Wkwkwkwk.
    Ada-ada saja

    Balas
  3. Kurang lebih sama pengalaman pribadi saya, yang paling menyebalkan ketika sedang telponan hp tiba tiba mati sendiri

    Balas
  4. Saya jd inget dulu awal pertama kali punya ponsel nokia 6600 saat kls 3SD. Cm bisa buat main games karena belum ada tmn yg punya ponsel. Terus tiba” dpt sms kalo bapak minta pulsa krn lagi di kantor polisi, karena ortu LDM hebohlah dua keluarga, eh ternyata Penipu. Untung saya ga punya uang xixixi

    Balas
  5. Sama, emang nokia ponsel pertama sejuta umat. Abis nokia sy juga selingkuh pake sony Xperia, pun BlackBerry gemini sampe berakhir di android. Hehe.

    Balas
  6. kalau diingat sekarang ini, dulu pertama kali punya hape kok rasanya sesuatu yang mahaaallll banget. padahal hape kecil terus layarnya item putih. saat itu tahun 2006-2007, harga hape kecil item putih aja udah sampai jutaan. terus klo malam suka berkirim pesan gambar yang item putih juga ke teman-teman sekolah. kegabutan hakiki hehehe

    Balas
  7. Sama kaya aku, suka gonta ganti hp, dari pertama kali beli nokia expresi musik, esia, esia imlek, esia warna, samsung qwerty (yg iklannya nikolas n dian sastro), samsung ace, samsung note 3, xiaomi note 5 (efek ga punya duit jadi beli xiaomi), skrg samsung A50s

    Balas
  8. Aku dlu awal pertama punya hp flexi cdma itu pun kongsi sama abg. Wkwkwk tau sendiri mahalnya nelp dan sms ke beda operator. Tp pas uda bisa kumpul duit pas smk aku beli hp sendiri yg second 1600. Sampai sekarang cinta pertama aku nokia tipe 1600

    Balas
  9. Hihihi, lucu & tragis ya mbak kisah ponselnya

    Jadi keinget ponsel jadoel saya juga, namun lupa merknya ingatnya nokia juga

    Saya juga setia dengan nokia, namun lama kelamaan jadi selingkuh juga wkwkwk

    Balas
  10. Yang copet di angkot itu persis banget ama cerita saya dulu. Waktu pulang kuliah kan saya duduk di ujung. Lalu ada cewek duduk berseberangan sambil nutupin paha dan tangannya dengan jaket. Dia pura-pura tidur dengan tangan memanjang ditutupi jaket, ternyata ngambil hpku di tas. Sempat kerasa, akhirnya kucari hpku. Dia nanya “ada apa mbak?” Dia langsung buka tangannya dan tunjukin hp ku di tangannya kalau hpku abis jatuh. untung masih rezeki

    Balas
  11. Hp pertama saya 2300 kak amel. Lalu saya lupa pake tipe Nokia yang mana, yang hilang saat saya shalat di mushalla kampus. Lalu hp Sony Ericsson. Musti tanya suami saya sih apa-apa aja hp yang saya pakai soalnya dia tuh yang paling inget hp saya (maklum kak, dari saya SMA udah Deket sama dia..)

    Balas
  12. Waah jadi nostalgia zaman aku pakai Siemens yg bentuknya kayak mendol hihi. HP pertama yg aku punya. Lanjut Nokia, Samsung, baru deh nemu Blackberry lalu Android. Hahah.

    Balas
  13. kurang lebih sama mbak, ada tambahan kalau saya pernah beli merk Advan yang hancur karena terinjak, hiks hiks. Lalu pernah punya juga siemens, dan nokia CDMA yang cuma sementar banget masanya. haha lucu juga ya kalau ingat zaman baheula!

    Balas
  14. Nyesek juga ya Mba Amel kl HP kecemplung ke WC huhuuu, jd pengalaman tak terlupakan trus abis itu pastinya jadi lebih hati2 ya kl bawa HP ke toilet

    Balas
  15. Saya jadi kangen ponsel tahan banting zaman dulu mba. Kayaknya mau kejatuh berapa kali dari jendela, atau dari motor, plus kecebur air juga tak apa ya tinggal jemur baterainya. wkwkwk. Ponsel sekarang boro-boro jatuh, duh, riskan banget. Meski demikian kalo secara teknologi ya mesti enakan ponsel-ponsel sekarang. Cuma kangen aja pengen nostalgia.

    Balas
  16. Wah, ternyata ada bermacam2 ponsel yaa. Lucu lucu lagi namanya. Hihi. Trus ada pengalaman dicopet ya, jadi trauma, sama lho Mbak. Aku murung berbulan2 itu. Gak redho karna foto belum sempet back up. Hiks

    Balas
  17. wah jadiinget dari ponsel yang item nokia gede banget itu, beli perdananya ratusan ribu. liat hape udah wow banget punya mamah saat itu. ponsel pertamaku siemens, ya Allah masih inget. jadi inget f4 kan. itu juga turunan kaka. terbayang2 suka ngarang lagu pake tuts…silih berganti lalu ponsel berkamera pertama LG. ah aku mah bukan nokia people, tapi cukup nostalgia baca tulisan kak amel. Oya bahas blackberry juga seru tuh ya..ping ping

    Balas
  18. Samaan kita koleksi hape kak..tapi yg nokia udah dijual..yg mangkrak dirumah itu sony erikson sama black berry. .lumayan buat koleksi barang langka di masa depan

    Balas
    • saya pun sebenarnya sayang ya, cuma akhirnya kusingkirkan saja. Kalo buat kenangan, bisa anak cucu saya cari di internet.

      Balas
  19. Wahaha.. Jadi tetingat ponsel legend nokia legend ituu. Kenangan jadul saat muda.
    Banggaa banget kalau bisa pegang ponsel gede itu.
    Itu ponsel awetnyaa pol. Punya saya jatuh berkali kali masih bisa jalan aja.
    Hanya saja, pas pindahan rumah trus tidak diperhatikan. Entah ditaruh dimana. Huhuu hilang.

    Balas
  20. Ponsel pertamaku Nokia 2250 kalo gak salah. Itupun hadiah dari kakak yang udah kerja di LN. PS lagi sayang-sayangnya eh rusak wkwkwk sedihnyaaaaa ampuun. Trus beli yg candy bar aja sampe punya anak satu. Akhirnya pas kerja lagi baru bisa beli Ericson yang model flip. Ahahahaha seruu ya ngomongin ponsel jadul

    Balas
  21. Nokia-nya sama, kemudian aku pakek Sony Ericsson, Samsung sempat yg model flip warna pink, blackberry jelas warna pink juga. Kemudian android dan parahnya selalu dibeliin OPPO sama suamiku, wkwkwk. Kan aku pengin Samsung

    Balas
  22. Ponsel pertama saya juga Nokia, tepatnya Nokia pisang. Yang gedenya hampir sama dengan buah pisang wkwkwk
    Selanjutnya baru yang tipe 3310.
    Saya bisa punya ponsel dari ngumpulin gaji waktu pertama kerja dulu.

    Balas
  23. Sama Mba Amel. Ponsel pertamaku juga Nokia 3315. Ponsel sejuta umat banget karena hampir semua orang pernah pake sepertinya ya. Baca-baca soal ponsel jadul jadi berasa ikut nostalgia gini 😀

    Balas
  24. Wah Nokia memang ponsel sejuta umat ya…Saya dulu pertama punya ponsel tahun ’98, saat pertama kerja, waktu itu Ericcson lebih murah dari Nokia, jadi itu yang kebeli hihihi…baru pas gaji lumayan bisa beli Nokia 3210 yang pada jamannya kelas menengah haha…dan berganti beberapa merk hingga kini.
    Saya jadi inget-inget…hm limbah B3 bahaya juga ya, pasti banyak yang buang ponsel bekas sembarangan

    Balas
  25. Wahahahaha nginget2 masa sejak pertama kali pegang hp smpe skrg lucu ya.

    Dah berapa kali sndiri ganti. Ada story masing2 di stiap hp yg dipegang. Wkwkwk

    Balas
  26. kurang lebih sama hampir dialami oleh semua orang. maklumlah.. perkembangan jaman. tapi aku salut kalau ada orang2 yang sejak tahun 2000 nggak punya handphone, nggak kenal sosmed, dll.

    Balas
  27. Wah, saya nggak pernah pakai BB. Dari Sony Ericsson langsung lompat ke Samsung. Dan, pas jamannya semua orang pakai BB dan saya nggak punya, saya langsung tersingkir dari daftar reunian teman kuliah … karena semua janjian lewat BBM.

    Balas
  28. mbakk kok samaan kayak aku, waktu kuliah hp aku biasa aja, yang penting bisa telpon dan sms, malah uang jajan kuliah dibeliin majalah seluler hahaha, ngeliatin harga, type, merk hp saat itu rasanya kayak seneng aja dan ngebayangin kapan bisa ganti baru
    saat udah bisa cari uang sendiri, ya disesuaikan juga dengan gajinya :D, sempet juga nyobain LG Stylus, saat itu menurut aku udah paling wah

    Balas

Tinggalkan komentar

Share via
Copy link
Powered by Social Snap