Gerilya Promosi Produk Susu Anak

Beberapa malam yang lalu, kakak ipar saya menelepon, menanyakan apakah saya mau menerima tawaran penulisan artikel dari temannya yang berkerja di perusahaan bernama D. Saya bilang, sebentar, saya mau cari tahu dulu. Perusahaan itu bisa jadi punya banyak produk, sedangkan saya tidak tahu yang akan dipromosikan produk yang mana. Salah satu produksinya adalah produk susu anak, yang saya hindari.

Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pasal 1 Ayat 1

Tawaran dari Produk Susu Anak

Kekhawatiran saya ini beralasan, karena tepat beberapa saat sebelumnya, grup bloger ramai dengan pembahasan bahwa salah satu produk susu anak membutuhkan jasa influencer untuk produknya. Honornya nggak main-main, 700 ribu rupiah. Bayangkan, biasanya honor artikel 87.000-300.000, yang ini sekali kontrak bisa 700 ribu rupiah!

Saya remas kuat-kuat jari saya, membayangkan betapa banyak uang yang digelontorkan untuk produk ini, yang dikhawatirkan menjadikannya seolah-olah keharusan untuk dikonsumsi anak.

Saat saya googling nama perusahaan tadi, saya pun menemukan nama produk yang dibahas di grup. Lemas rasanya, ternyata salah satu produknya adalah yang dibicarakan di grup. Besar kemungkinan tawaran dari teman ipar saya ini adalah produk yang sama. Saya pun menolak dengan halus kesempatan ini.

Selain tawaran menulis, ada juga tawaran menjadi pembicara dan program kerja sama kegiatan yang tidak bisa saya ikuti. Penyebabnya, sponsor tunggal adalah produk susu yang terformulasi untuk anak. Mungkin ada yang berpikir bahwa selama tidak mempromosikan susu anak yang dipakai untuk anak di bawah 2 tahun, maka itu tidak masalah. Tapi ternyata bahasan menjadi tidak sesederhana itu setelah saya mengikuti pelatihan konselor menyusui.

Aturan Terkait Produk Susu Anak

Aturan Komposisi Produk Susu Anak

Komposisi produk susu anak diatur dalam suatu CODEX ALIMENTARIUS dari World Health Organization (WHO). CODEX ini berisikan standar minimum dan maksimum dari komposisi utama, komposisi pilihan, bahan tambahan, kebersihan, pengemasan, hingga label.

Codex STAN 72-1981 mengatur tentang infant formula dan formula for special medical purposes intended for infants. Sedangkan CODEX STAN 156-1987 mengatur tentang follow-up formula. Harus diingat, bahwa selengkap apapun nampaknya formula ini dibuat, komposisi ini tidak akan menyerupai ASI.

Codex produk susu anak
berarti susu yang diperuntukkan untuk anak usia sampai 3 tahun disebut…

Isinya dalam rentang standar, kemasan dan harganya yang bervariasi

Numpang senyum 🤭

Aturan Pemasaran Produk Pengganti ASI

Beberapa bayi mungkin membutuhkan produk pengganti ASI sesuai indikasi medis (bukan sesuai promosi iklan). Terdapat International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes yang mengatur pemasaran produk tersebut. Adapun inti dari aturan tersebut mencakup (sumber : https://aimi-asi.org/):

  1. Larangan mengiklankan formula bayi dan produk pengganti ASI lainnya kepada masyarakat baik dalam televisi, media massa tulis, maupun sosial media.
  2. Larangan memberikan sampel gratis kepada ibu-ibu (termasuk pemberian sampel secara terselubung melalui tenaga kesehatan dan fasilitas layanan kesehatan lainnya).
  3. Larangan promosi formula bayi di sarana pelayanan kesehatan (termasuk memasang booth, poster, memasang logo di buku Kesehatan Ibu dan Anak, dan bentuk souvenir lainnya).
  4. Larangan staf perusahaan atau sales produsen formula bayi memberikan nasihat atau informasi secara langsung tentang formula bayi kepada orang tua bayi.
  5. Larangan memberikan hadiah sebagai gratifikasi atau pun sampel produk kepada petugas kesehatan.
  6. Larangan membuat gambar bayi atau gambar lainnya yang mengidealkan formula bayi pada label produk.
  7. Pemberian informasi kepada petugas kesehatan terkait produk harus bersifat faktual dan ilmiah.
  8. Informasi tentang formula bayi, termasuk pada labelharus menjelaskan keuntungan menyusui dan biaya serta bahaya pemberian susu buatan.
  9. Produk yang tidak sesuai, seperti kental manis, dilarang dipromosikan untuk bayi.
  10. Penjelasan tentang penggunaan formula bayi hanya dibolehkan untuk beberapa ibu yang betul-betul memerlukannya (meliputi cara pembuatan yang benar dan risiko-risiko yang bisa ditimbulkan dari pemakaian formula bayi).

Aturan Pemasaran Follow-Up Formula

Berdasarkan rekomendasi WHO, bayi harus mendapatkan ASI eksklusif hingga berusia 6 bulan, dan pemberian ASI diteruskan hingga 2 tahun, bersamaan dengan makanan pendamping ASI. Oleh karena itu, sebenarnya follow-up formula tidak dibutuhkan, dan tidak seharusnya dijadikan pengganti ASI baik parsial maupun total.

Akan tetapi, di pasaran keberadaan follow-up formula sangat mudah diakses dan dapat mengganggu proses menyusui. Ibu menyusui merasa kebingungan, dan cemas apakah bayi akan baik-baik saja bila tidak ‘ditambah’ follow-up formula. Gempuran promosi dapat mengubah persepsi ibu, sehingga menganggapnya menjadi hal yang memang diperlukan.

WHO menekankan bahwa promosi perusahaan terang-terangan yang menyatakan follow-up formula dapat menggantikan ASI, maupu cara pemasaran yang tidak terang-terangan tapi menyebabkan kesalahan persepsi ibu bahwa follow-up formula ini dapat menggantikan ASI, maka keduanya menyalahi aturan pemasaran.

Pelanggaran Pemasaran yang Kerap Terjadi

Meskipun pemasaran produk susu formula sudah diatur, kerapkali ditemukan pelanggaran baik secara terselubung maupun terang-terangan. Semua elemen masyarakat punya peran dalam mengawasi ini.

Pemberian Bingkisan kepada Ibu

Sebelum pulang ke rumah setelah persalinan, masih saja ada layanan kesehatan yang memberikan oleh-oleh berupa produk sampel susu formula, dot, atau empeng. Harus langsung ditolak, ya! Ketersediaan produk tersebut di rumah akan menggoyahkan niat kita menyusui eksklusif, karena merasa ada ‘cadangan’ dan kadang merasa ‘sayang’ bila isi bingkisan tersebut tidak digunakan.

Memberikan Susu Formula Tanpa Indikasi dan Persetujuan

Ibu yang melahirkan berhak untuk memberikan ASI kepada bayinya, dan layanan kesehatan wajib mengakomodir itu. Ibu harus mendapatkan informasi yang memadai bila ada indikasi untuk pemberian susu formula, dan harus menandatangani persetujuan untuk itu. Masalah seperti ini sering muncul bila bayi dirawat terpisah dengan ibu. Oleh karena itu, sebaiknya ibu harus rawat gabung agar benar-benar dapat memantau kebutuhan bayinya, seraya berlatih menyusui bayi.

Teror Promo dari Sales Produk Susu Anak

Kalau masuk ke dalam mall, ada lorong yang paling saya hindari, yaitu lorong produk bayi dan susu pertumbuhan anak. Apalagi kalau saya bawa bayi, saya merasa diteror karena pramuniaganya akan mendekati saya dan mulai promosi. Terkadang ada juga yang menelepon, awalnya menanyakan kabar saya dan anak saya. Eh, rupanya promosi susu formula.

Mempermudah Akses dan Visualisasi

Bila layanan kesehatan menyatakan mendukung ASI dan menyusui, tentu visualisasi tentang produk dan akses bebas untuk membeli produk pengganti ASI harus dibatasi. Nyatanya, terkadang masih ada poster produk susu anak yang terpampang.

Masih ada booth yang menjual dot dan empeng di dalamnya. Orang tua bayi bisa bebas membeli susu formula tanpa indikasi. Buku kontrol bayi pun terkadang belum bebas dari logo produk.

Visualisasi ini tidak terbatas pada layanan kesehatan saja, namun bisa merambah ke fasilitas umum lainnya. Misalnya, tempat bermain anak, bahkan ruang menyusui sekalipun. Pernah ikut club parenting atau edukasi yang ternyata disponsori produk susu formula? Sudah banyak menjamur di media sosial.

Gratifikasi

Saya mendapatkan screenshot ini dari Mbak Nia Umar, founder Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), dan saya sudah minta izin untuk memublikasikannya. Pahit memang, kira-kira seperti inilah model pemasaran gelap yang pernah terjadi. Selain tenaga medis dan tenaga kesehatan, masyarakat pun bisa saja dijadikan perpanjangan tangan setelah mendapatkan gratifikasi semacam ini.

pelanggaran pemasaran produk susu anak
Jauh-jauh dari oknum ya ibu-ibu 😭

Sering nggak, lihat ada acara kegiatan lomba bayi sehat, tapi sponsornya dari susu formula? Meskipun tidak dilakukan di fasilitas layanan kesehatan, hal ini juga melanggar aturan. Dekorasi terkait produk kerap menumpang di sana (poster, souvenir, piala, sertifikat). Selain itu, sering ada risiko kontak langsung pihak sales tentang keunggulan produknya kepada ibu-ibu peserta.

Bagaimana seandainya perusahaan tersebut menjadi sponsor kegiatan ilmiah bagi tenaga medis? Nah, ini menurut saya sangat tricky. Hal ini terkait adanya produk lain yang bukan susu anak yang diproduksi perusahaan tersebut.

Setiap saya ikut seminar ilmiah, pasti ada sponsor perusahaan yang juga memproduksi susu formula, akan tetapi yang dibahas adalah produk lain terkait terapi. Bagi saya, selama yang dibahas adalah sisi ilmiah dari suatu produk, saya tetap mengikutinya dalam rangka pengembangan ilmu.

Bagaimana bila menjadi pembicara seminar? Pembicara bisa memberikan disclosure bahwa kehadirannya dan materi yang dibawakannya tidak terkait produk manapun dari sponsor. Tapi saya akan tetap menghindari bila jelas-jelas produk yang dipajang sponsor adalah bentuk cross-promotion.

Cross-Promotion

Sampai di sini mungkin sudah ada yang garuk-garuk kepala, mempertanyakan apa hubungannya penjelasan di artikel ini dengan cerita paragraf pertama? Nah itu dia, masalahnya adalah karena ada cross-promotion di sana.

A consumer sales promotion technique in which the manufacturer attempts to sell the consumer new or other products related to a product the consumer already uses or which the marketer has available

WHO

Perusahaan yang memproduksi susu formula dan susu untuk anak banyak yang menerapkan trik ini. Bila orang melihat produk yang satu, akan teringat dan penasaran dengan produknya yang lain.

Dari mana kita bisa tahu bahwa suatu perusahaan melakukan cross-promotion? Dari kemasannya yang dibuat serupa antara formula bayi dan produk susu anak. Selain itu, penomoran pada susu (tulisan angka 2, 3 pada kemasan) juga dapat membuat bingung orang tua bayi, dan dapat menimbulkan kesalahan penggunaan (referensi juga bisa diunduh di bawah).

Bila ada nomor 3, berarti ada nomor 1 ya, wah harus lengkap nih konsumsinya.

Ibu yang terjebak

Bagaimana Pilihan Anda?

Saya tidak bisa bicara banyak tentang pilihan orang lain, terutama teman-teman bloger. Mungkin bisa ditanyakan kembali ke diri masing-masing, apa yang menjadi pertimbangan untuk mengambil tawaran promosi produk susu anak yang melakukan cross-promotion.

Namun, dengan segenap kerendahan hati, pada tulisan ini saya memohon agar para sejawat sesama tenaga medis, paramedis, dan tenaga kesehatan tidak berperan ganda menjadi sales susu formula. Membuat bayi yang tidak berdaya kehilangan kesempatan mendapatkan ASI yang menjadi haknya: yang dilakukan itu JAHAT.

Percayalah, kebahagiaan melihat seorang ibu bisa sukses menyusui itu, tidak sebanding nilainya dengan produk gratifikasi. Perjuangan menyusui adalah ibadah, tertarikkah kita untuk ikut serta dalam membantu perjuangan itu?

Nah, kalau teman-teman menemukan pelanggaran terkait aturan pemasaran seperti di atas, silahkan kirim email ke lapor@aimi-asi.org, disertai dengan foto buktinya, ya!

Semangat menyusui, ASI, ASI, Yes!

Referensi

WHO: (Unduh Referensi)

  1. Standard For Infant Formula And Formulas For Special Medical Purposes Intended For Infants Codex Stan 72-1981
  2. Codex Standard For Follow-Up Formula Codex Stan 156-1987
  3. International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes
  4. Cross-Promotion of Infant Formula and Toddler Milks
  5. World Health Assembly Resolution On The Inappropriate Promotion of Foods for Infants and Young Children
  6. Information Concerning The Use and Marketing of Follow-Up Formula

AIMI:

https://aimi-asi.org/layanan/lihat/ulasan-poling-november-2010-pelanggaran-marketing-susu-formula

https://aimi-asi.org/layanan/lihat/yuk-pahami-kode-internasional-pemasaran-pengganti-asi

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020

20 pemikiran pada “Gerilya Promosi Produk Susu Anak”

  1. Saya baru tau sih aturan-aturan tersebut. Tp bukannya banyak ya iklannya. Trus banyak juga yg pakai unt bayinya. Biasanya untuk pendamping asi , asi ibu sedikit atau asi ga keluar. Pastimya semua setuju kl anak diberikan yg terbaik.
    Saya setuju juga kl Asi asi asi yessss hehe

    Balas
  2. aku baca ini jadi paham maksud temen temen blogger yang dibilang di WAG itu mbak
    ternyata “ngeri” juga ya mbak.
    ada maksud tertentu dibalik ajakan kerjasama tersebut

    Balas
  3. Aku pro ASI pasti, kedua anak lulus ASI eksklusif dan terus ASI sampai 2 tahun usianya.
    Dari artikel ini jadi tahu banyak tentang aturan tentang ASI dan adanya gerilya promosi susu anak. Wah, heboh juga ternyata ya
    Yang aku syukuri anak-anakku sudah besar jadi aku ga bisa daftar dan ditawari untuk job persusuan ini
    Tapi, ini reminder buatku mesti lebih hati-hati terima job nulis, biar ga jadi penyebar informasi yang menyesatkan.

    Balas
  4. Wah saya baru tahu tindakan promosi susu formula ternyata diatur secara detail ya. Waktu anak saya masih batita, sering banget kalo belanja di toserba dikasih sekotak susu formula. Iya, dikasih gitu aja sama salesnya. Meski gak dipake, jadi bertanya-tanya, kok sebegitu mudahnya ya. Baca artikel ini jadi paham mengapa mereka melakukannya.

    Balas
    • Peraturan di sini tidak tegas untuk yang swasta. Tapi kalo lembaga pemerintah biasanya tidak bekerja sama lagi dengan produsen susu formula.

      Balas
  5. waduh waduh… kalau belum tau, terus ada yang nawarin kerjasama menulis sufor, bisa aja aku akan tergiur dan langsung sikat aja dong..
    Aku paham sih pentingnya ASI, tapi belum paham bahwa promosi sufor itu ketat tat dan malah ngga boleh. Asli sih, bisa ngga berkah ya transfernya hihi
    Oh ya, ngeri juga tuh bisa masuk ke petugas kesehatan. Ibu2 harus tau nih. Aku share ke grup ya mba tulisannya…

    Balas
  6. Memang sebaiknya sih anak dapatnya ASI ya, karena sudah pasti menyehatkan dan hemat pula kan, mengingat harga susu formula lumayan banget. Hanya saja, ada loh anak yang ternyata alergi dengan ASI dari ibunya, makanya solusinya ya pemberian susu jenis lain. Anakku salah satunya, yang dulu tak bisa minum ASI.

    Balas
    • Apakah sempat diobservasi apakah ada kaitannya dengan yang dimakan ibu? Bila ternyata telah diobservasi tidak ada yang dicurigai mennjadi alergen dari asupan ibu, maka mungkin alergi terhadap satuan protein di dalam air susu. Bila ternyata alergi terhadap protein di dalamnya dan harus mengonsumsi susu khusus yang proteinnya sudah terolah, itu berarti bukan alergi ASI, tapi alergi protein yang juga bisa dialami saat minum susu formula yang biasa.

      Balas
  7. anak pertamaku banget mbak. pakai sufor. kalau ini bukan salah bidannya. tapi mertua. aku gak boleh kasih ASI. nangis rasanya. sampai asiku tumpah tumpah. pas anak kedua, saya dendam. gak ngasih ijin mertua megang. biar aku bisa kasih asi. alhamdulillah anak kedua full asi. emang bener, asi itu gak tergantikan. jangan tergiur sufor karena kandungannya masih lebih bagus asi.

    Balas
  8. Wah, ada pula aturan pengganti produk ASI ya. Ternyata nggak sembarangan ya. Tapi praktiknya di daerah-daerah masih kurang tertib sih. Hehe… Makasih artikelnya mbak. Sangat bermanfaat.

    Balas
  9. Jujur aja aku sempat terima beberapa job saat Najib masih usia balita. Tapi bbrp kali kutolak juga krn memang tidak sesuai dengan anakku. Misalnya ketika mereka minta dipromoin produk susu alergi atau susu untuk anak yg susah minum susu. Ya keduanya gak cocok jadi gak tak ambil. Tapi mengenai aturan ini aku baru tahu. Anak-anakku sndiri ASI, kemudian lanjut susu UHT. Gak paham blas ternyata model promo umum terjadi itu gak boleh.

    Balas
  10. bener ya mba, kadang ada RS yang kerjasama dengan susu formula, makanya ada yang gak PRO ASI. Untung kemarin kakak saya lahiran dapat bingkisannya gak ada susu, cuma perlengkapan bayi dan perlengkapan untuk ibunya. Terus PRO ASI banget, kecuali gak bisa kasih ASI baru deh susu formula. penjelasannya lengkap banget mba. makasih sharingnya.

    Balas
  11. Duh,, apa kabarnya iklan iklan promosi sufor ya ? Apalagi mereka berlomba lomba dengan keunggulan masing masing, karena sebaik baik sufor lebih the best ASI ekslusif dari sang ibu.
    Karena tanpa efek samping nya, karena produksi sendiri ya kan.

    Balas

Tinggalkan komentar

Share via
Copy link
Powered by Social Snap