Ikut Seminar Pendidikan Berbasis Fitrah, Tertampar Bolak-Balik

Sisi positif dari adanya pandemi ini adalah bertebaran seminar gratis secara daring. Pilih saja, mau ikut seminar yang mana, tinggal siapkan waktu dan kuota. Ini adalah cerita saya saat mengikuti kajian dari Salimah Sidoarjo, tentang Peran Fitrah sebagai Orang Tua di Masa Pandemi. Pembicara utama adalah Ust. Harry Santosa yang memang tulisannya berpusat pada pendidikan berbasis fitrah.

Pendidikan berbasis fitrah

Sebenarnya, saya sudah lama punya buku Ust. Harry Santosa yang berjudul Fitrah Based Education Versi 3.0. Bukunya tuh tebal, berat, warna-warni. Isinya padat sekali. Tapi sampai sekarang saya belum selesai juga bacanya. Tiap halaman itu berat maknanya. Satu halaman bikin merenung, lantas, kapan selesainya?

Sesungguhnya, musibah Covid-19 adalah tantara Allah untuk membuat kita kembali ke fitrah

Ust. Harry Santosa

Kembalikan Pendidikan Berbasis Fitrah Keluarga

Sejujurnya, catatan saya ini menunjukkan bahwa pembahasan tentang pendidikan berbasis dalam keluarga ini sifatnya umum, bukan saat pandemi saja mesti dipraktekkan. Begitu bagusnya pembicaranya membawakan materi, hingga tidak sadar waktu berlalu tetap betah mendengarkan kajian ini. Berikut ini adalah catatan saya, dan komentar saya dibedakan dengan warna blok.

Hidup pasti ada tujuanya, tentukan misi dalam hidup. Ayah dan bunda adalah arsitek peradaban. Saat pandemi banyak terjadi perubahan. Salah satunya sekolah dari rumah, yang ternyata cukup membuat guncangan di rumah tangga. Tapi tidak apa, kita bertahan dan berharap badai ini cepat berlalu.Orang yang bisa meniru Rasulullah, adalah orang yang optimis pada Allah dan masa depan.

Fitrah merupakan kondisi, karakter, konstitusi yang sudah disiapkan Allah. Fitrah sudah ter-install dalam diri, sedangkan hal selain itu diprogram.

Terima Fitrah sebagai Orang Tua

Pernikahan adalah takdir Allah bukan suatu kebetulan. Setelah menikah, ada rasa ingin punya anak, itu adalah bentuk fitrah. Sambut saja fitrah kita bahwa kita adalah ayah dan bunda terbaik bagi anak kita. Pemimpin tidak turun dari langit, tapi dari rumah-rumah kita.

Selesaikan dan kenali bakat orangtua, sebelum bakat anak

Bakat setiap anak unik, tidak bisa diajarkan. Ada anak yang cerewet suka bicara. Ada anak yang suka memimpin, merancang, bahkan melamun. Bakat artinya adalah hal yang mudah dilakukan oleh seseorang, saat orang lain sulit melakukannya.

Nantinya, orang yang bekerja sesuai bakatnya tidak akan berkutat urusan gaji. Anak yang belum menghasilkan sesuatu atau belum produktif dari bakatnya, bukan berarti melakukan sebuah kenakalan.

Kadang semua berjalan biasa saja seperti rutinitas, namun ternyata ada masalah dibaliknya, lakukan family coaching, pendidikan berbasis fitrah. Menumbuhkan bakat mulai dari orangtua dulu, raise your child, raise yourself.

Teori ini memang sering saya dengar. Orang tua harus selesai dengan dirinya sendiri dulu. Sudah harus jelas siapa dirinya. Baru bisa membantu anaknya. Seringkali kita temukan orang tua yang memaksakan cita-cita dan ambisinya pada anaknya. Artinya, orang tua tersebut belum selesai dengan dirinya.

Didikan dari rumah, kedua orang tua adalah tim

Banyak ayah saat ini diposisikan hanya sebaga pencari nafkah. Di sekolah tidak ada yang menyiapkan kurikulum menjadi ayah yang baik. Ayah harus turun dalam pengasuhan. Ibu harus lembut sedangkan ayah harus tegas. Jangan terbalik. Kita sambut fitrah orang tua karena kita yang nanti ditanya di akhirat. Tidak ada anak yang salah gaul, adanya orang tua yang salah asuh. Betapa pendidikan berbasis fitrah dalam keluarga sangatlah penting.

Selama lingkungan belum terlalu pekat (kerusakannya) laksana lingkungan Nabi Luth atau Nabi Nuh, anak kita tidak akan terpengaruh. Selama kita hidupkan jiwanya, tumbuhkan fitrahnya. Sebagaimana ikan yang hidup tidak asin dengan berenang di laut, karena ikan itu hidup. Bila ikan mati, akan mudah sekali membuatnya menjadi ikan asin.

Saya pernah melihat anak tetangga saya, yang meskipun lingkungan sering berbuat tidak baik, berkata kotor, akan tetapi anak yang masih TK itu tidak terpengaruh. Malah bisa bilang, “Hei, itu omongan yang tidak baik kata mama!” Saya optimis, pendidikan dari dalam rumah memang paling penting.

Gunakan bahasa yang komunikatif

Dalam keluarga hendaknya ada Bahasa komunikasi, bukan interogasi, seperti: Sudah sholat belum? Sudah kerjain PR belum? Guru-guru berharap anak-anak saat datang ke sekolah sudah siap untuk belajar, karena guru sudah berusaha mempersiapkan proses pembelajaran sesuai kurikulum.

Jangan ajarkan bahasa ke-2 sebelum bahasa ibu selesai. Dikahawatirkan akan terjadi ketidaklancaran komunikasi yang dapat memengaruhi kestabilan emosi. Tambahkan kata-kata yang baik, lebih panjang sehingga perbendaharaan kata-kata baik anak menjadi kaya. Misalnya:

Terima kasih anakku, telah membantu mama menyapu, semoga Allah selalu menjadikan kamu anak yang soleh.

Ada cerita dari teman saya tentang speech delay anaknya, yang menjadi barier komunikasi. Menarik sekali cerita usaha beliau untuk mengatasi ini.

Pahami kewajiban orang tua dalam mendidik

Allah bukan didapatkan dari hasil berpikir dan budaya. Allah mengenalkan dirinya sendiri, melalui surat Al-Ikhlas. Hal tersebut harus ditanamkan kepada anak. Tarbiyah : menumbuhkan (fitrah), Ta’dib : memuliakan (adab), Ta’lim : ilmu (pengajaran ilmu). Bila fitrah tumbuh, maka adab tumbuh. Bila adab tumbuh, maka ilmu semakin mudah diraih.

Tiga hal di atas adalah tanggung jawab orang tua. Kalau orang tua tidak memiliki ilmu spesifik, disitulah fungsi sekolah (misalnya ilmu fisika, biologi, kedokteran, hukum, ekonomi, dll). Ilmu fardhu ‘ain diajarkan orangtua, ilmu fardhu kifayah bisa ditambah melalui sekolah. Membuat anak jatuh cinta dengan Ilmu dasar dari Al-Qur’an adalah tanggung jawab dari orang tua.

Menumbuhkan Fitrah Anak

Sebagian besar ulama menyatakan bahwa anak dalam Islam adalah sampai usia 15 tahun, dan bila meninggal sebelum itu, maka masuk ke dalam Jannah.

Secara fitrah, semua anak suka belajar. Manusia pada fitrahnya suka belajar dan dapat mengelola pengetahuannya. Bila seseorang menjadi malas belajar, bisa jadi sebelumnya tergesa belajar, objek pembelajaran tidak relevan, atau mungkin guru yang tidak membangun.

Namun kita tidak boleh lebay juga, dengan menuntut anak buru-buru soleh. Orang tua jangan tergesa, semua ada waktunya. Bahkan sahabat Rasul pun, tidak sama kecepatannya menghapal AlQur’an. Intinya bukan dibiarkan, tidak pula dipaksakan, namun harus melalui tahapan. Tidak berlaku kaidah makin cepat makin baik. Sebelum kita mengirim anak ke pondok (pesantren, misalnya) siapkan dulu anak dengan menumbuhkan fitrahnya secara sempurna.

Buat aturan yang relevan sesuai fitrahnya

Anak-anak sangat sensitif dengan lingkungan sekitarnya, sehingga dia tahu membedakan suasana hati dari muka sebal dan sumringah, juga peka orang lain tulus maupun tidak. Bila terlalu banyak aturan, anak akan menjadi serba peragu, tidak percaya diri. Nantinya cenderung mudah di-bully atau malah jadi pelaku.

Anak di bawah 7 tahun

Pada usia 0-6 tahun beri pesona terhadap kebaikan. Mengapa anak baru disuruh sholat saat menginjak 7 tahun? Karena di bawah usia tersebut, tidak ada anak yang menyukai gerakan formal. Sebelum 7 tahun, berikan pesona dan rasa cinta, perhatikan gesture-nya, bukan semata-mata target pencapaian check list. Karena bisa jadi anak sholat, namun seperti robot, karena ada rasanya takut, bukan kesadaran dan rasa cinta.

Sholat tidak tuma’ninah, mungkin fitrah bergeraknya di masa usia dia bermain dan bergerak tidak diberikan secara sempurna. Suami bila sakit sangat rewel, mungkin fitrahnya di masa kecil belum tumbuh sempurna. Bayi pipis, menangis dan merasa tidak nyaman, itu adalah suatu bentuk fitrah bahwa ia menyukai kebersihan. Kita merusak fitrah tersebut dengan memakaikannya diaper yang tidak sering diganti, sehingga bayi pun lupa rasanya gerah karena kotor.

Pemakaian diaper juga nantinya dikhawatirkan dapat menghambat toilet training, dimana sudah harus selesai tuntas saat usia 3 tahun. Bukan hanya sampai pipis di toilet saja, melainkan sampai cara membersihkannya harus tuntas juga.

Anak di bawah 7 tahun masih egosentris, tidak mau mengalah dan berbagi. Dia masih merasa bahwa dialah pusat semesta. Jangan dipaksa langsung mengalah saat ada konflik, jangan paksa ketika dia tidak mau. Tunggu sampai reda bila ingin memberi masukan. Misalnya saat malam, ceritakan kisah tentang berbagi.

Bila fitrah ego ini tidak selesai, maka saat dewasa akan berubah menjadi orang yang dominan dan ingin eksis tanpa ada karya, sehingga sikut kanan-kiri. Atau malah menjadi jago kandang, di rumah garang di luar pendiam.

Anak usia 7-10 tahun

Pada usia 7-10 tahun, ajak anak berpetualang, jalan-jalan atau bahkan umroh. Ajak anak naik gunung atau ke alam luar. Buat tradisi menginapkan anak di rumah orang soleh selama 1- 2 hari. Cara ini akan membuat mereka menjadi lebih teratur dan soleh. Di alam luar, bila tidak teratur makan dia akan merasa itu berbahaya bagi dirinya. Dengan menginap di rumah orang soleh, maka dia akan meneladani tingkah laku yang baik. Berbeda dengan anak usia di bawah 7 tahun yang masih dapat disuguhkan kisah imajinasi, di atas 7 tahun tunjukkan kesolehan yang nyata.

Anak usia di atas 10 tahun

Mengapa sholat baru dipertegas perintahnya pada usia 10 tahun? Karena di bawah 10 tahun, anak-anak belum bisa fokus. Saat anak berusia 10 tahun, akidah, self regulation, self confident harus telah tuntas. Anak sholat sendiri tanpa disuruh-suruh. Buatkan rekening sendiri, paspor sendiri.

Saat usia SMP, ilmu yang masuk akan semakin deras, tentang Tuhan, agama, akhirat, bahkan cinta. Usia 15-16 tahun, diharapakan anak sudah mukallaf dan mampu mencari nafkah. Pada usia ini, diharapkan anak sudah imun dari pengaruh buruk lingkungan. Bila anak usia tersebut masih di rumah dalam tanggungan orang tua, maka dapat disamakan dengan fakir miskin.

Wah, bagian ini membuat saya tertampar sekali. Usia 15 tahun saya sudah bisa apa ya? Masak saya belum bisa. Saya belum mengerti manajemen keuangan, meskipun saya sudah coba berjualan kecil-kecilan. Padahal semua itu ilmu untuk bertahan hidup. Sampai kuliah pun masih dibiayai.

Semua yang disampaikan baru pengenalan saja. Belum masuk ke klasifikasi fitrah dan lain-lain. Namun rasanya sudah banyak sekali pekerjaan rumah kami sebagai orang tua. Di depan mata, bukunya mestinya diselesaikan dulu dibaca. Tapi, memang lebih enak kalau sambil dikuliahkan seperti ini. Semoga nanti ada seminar lanjutannya untuk membahas secara detail bahasan tentang pendidikan berbasis fitrah keluarga.

29 pemikiran pada “Ikut Seminar Pendidikan Berbasis Fitrah, Tertampar Bolak-Balik”

  1. Saya punya kenalan yang nota bene adalah orang tua yang super sibuk. Tetapi hebatnya dia selalu meluangkan waktu untuk ikut seminar parenting atau sejenisnya, tetapi sayangnya belum dapat diaplikasikan karena jarang di rumah.

    Balas
    • Berarti sudah ada niat. Ini sudah dihitung usaha insya Allah. Hanya saja belum rezeki ketemu dengan anak lebih sering.

      Balas
  2. Aku tertarik dengan tulisan kakak soal ” seringkali kita temukan orang tua yang memaksakan cita cita dan ambisinya pada anak”

    Sebenarnya hal tersebut masih sering dijumpai,dan beruntungnya orang tuaku bukan tipe pemaksa yang harus menuntut anak harus A atau B.
    Asal aku suka dengan fashionku dan itu positif,mereka mendukung penuh keputusanku.

    Maka dari itulah para orang tua jangan memaksakan kehendak yang sebenarnya anak tak suka,ada baiknya kita tanyakan apa yang disukai atau tidak.
    Arahkan ke arah positif dan support anak

    Balas
  3. Saya paling setuju sama poin orang tua harus selesai dengan dirinya dulu baru membantu anaknya. Disekitar saya masih banyak sekali orang tua yang memaksa anaknya untuk menjadi ini itu sesuai keinginannya. Sayang sekali, bakat dan minatnya jadi tidak bisa tersalurkan dengan maksimal. Parahnya lagi bisa membuat tekanan bagi anaknya sendiri

    Balas
  4. Terima kasih sharing ilmunya sangat bermanfaat dan sesuai denagn yang saya butuhkan. kebetulan si kecil abru 2,5 tahun, saya punya PR besar untuk si kecil untuk jadi orang tua yang lebih baik

    Balas
  5. Alhamdulillah, bisa baca tulisan ini. Kadang mau nasihatin orang secara langsung, apalagi tentang parenting agak gimana gitu.
    Apalagi soal orang tua yang memaksakan ambisinya pada anak. Jadi keponakanku ini menjalani semua les untuk orang tuanya. Padahal dia ngga suka. Kasian banget liatnya, penuh beban dan ngga bisa ekspresikan apa yang dia suka.
    Aku forward tulisan ini ke tanteku.
    Terimakasih kak.

    Balas
  6. Mba makasih udah sharing di sini. Bagus banget poin-poinnya buat pembelajaran aku sebagai calon orang tua ketika nanti sudah menikah dan punya anak. Semoga ku bisa menjadi orang tua yang sudah selesai dengan masalah bakatnya sendiri dan gak memaksakan kehendak ke anak. Jujur baru tahu kalau “sebagian besar ulama mengkategorikan usia anak sampai 15 tahun. Jika meninggal sebelum usia itu masuknya ke surga.”

    Balas
  7. Makasih sharingnya Mbak Amel, aku butuh banget materi ini karena lagi ngadepi anak usi 6 dan 9 yang notabene gak bisa disamakan perlakuannya. Apalagi laki perempuan juga, jadi makin gak bisa dipaksakan sama. Pokoknya memang keluarga menjadi fondasi terbaik ya. Harus kokoh ahgar anak gak gampang terombang-ambing zaman.

    Balas
  8. beneran tertampar sejak kalimat pertama. tentara Allah untuk.menjadikan kita kembali ke fitrah. jadi kita harusnya berterima kasih ya sama corona. hmmm…..

    Balas
  9. Alhamdulillah sudah baca bukunya Ust Harry ini sejak 2018 lalu. Banyak pencerahan yang saya peroleh terutama utk mengembalikan peran2 ayah kepada fitrahnya. Seneng ya Mbak sudah ikut seminarnya, saya termasuk penyuka kulwap2 dan tulisan2 beliau yg tersebar di penjuru medsos

    Balas
  10. Manfaat saya bergabung dengan grup BW asik adalah menjadi terbuka wawasan saya. Terus terang saya baru mendengar Ustad Harry ini. Mungkin karena cermaah beliau lebih banyak membahas mengenai parenting kali ya dan saya kebetulan belum jadi orang tua. Benar sekali, ayah ibu harus menjadi tim yang solid ketika mendidik anak ya mbak.

    Balas
  11. Kebetulan, untuk anakku Aria (9 tahun sekarang), sejak bisa jalan di usia 1 tahunan udah biasa diajak sholat bareng, kemudian sampai sekarang bisa ngga alergi sama namanya sholat. Ya meski wajar sih, kadang malas-malasan… Namanya juga manusia, aku pun masih kadang begitu.

    Balas
  12. Wah, rajin nyatat nih. Emang sih, ikut seminar sambil mencatatnya, akan membuatnya lebih lama ngendap di otak. Suami istri ibarat tim, kudu saling dukung. Terima kasih Mbak artikelnya. Sangat bermanfaat

    Balas
  13. Sama mbak 15 tahun aku juga sekolah sama main aja biasa. Org tua sibuk kerja buka warung makan dri subuh sampe magrib.. Hampir sama sekali nggak pernah ngajarin ttg sekolah dll. Untung mau belajar sndiri.

    Skrg mah udah ada internet segalanya makin gampang apalagi buat belajar dan cari materi apapun

    Balas

Tinggalkan komentar

Share via
Copy link
Powered by Social Snap