Jaga Jarak di Keramaian Pasar, Ada 4 Rahasianya

Jaga jarak tidak hanya antar kendaraan. Untuk menghindari penyakit tertentu, kita diharapkan jaga jarak satu sama lain. Seperti di masa pandemi sekarang, jaga jarak diharapkan menjadi pemutus rantai penularan. Pasar, terutama yang sifatnya tradisional, merupakan salah satu tempat ramai di mana orang sering berkerumun. Memang sulit untuk menjaga jarak. Tapi ternyata saya bisa loh! *loncat-loncat.

Jaga jarak di pasar

Jaga jarak di pasar, bisa nggak?

Kemarin, saya terpaksa pergi ke pasar. Stok makanan sudah menipis. Mau tidak mau harus berangkat. Keluar rumah sekarang rasanya sudah seperti mau perang. Tapi dalam perang ini, modalnya hanya masker-maskeran. Yah lumayan daripada nggak. Karena yang pakai masker medis hanya orang yang sakit atau tenaga medis di tempat pelayanan medis. Setidaknya saya ada selapis perlindungan. Makanya saya wanti-wanti diri saya untuk jaga jarak.

Baca juga: kenapa harus jadi dokter?

Salah tanggal, malah ramai

Masuk di pintu pasar, saya kaget bukan kepalang. Waduh! Rame tenan! Saya lupa kalau tanggal merah, semua orang pada ke pasar. Memang sih, sudah digalakkan work from home, tapi kan nggak semuanya libur karena sifatnya hanya himbauan. Ditambah lagi, kegiatan belajar mengajar anak di rumah libur, sehingga memang jadi kesempatan pada orang tuanya untuk berbelanja.

Baca juga: kerja dari rumah, ada 5 kesulitan yang dihadapi

Lemas saya. Mau balik lagi ke rumah, lauk sudah habis. Sayur juga nggak ada, nanti nggak seimbang dong gizinya. Akhirnya saya tetap maju berbelanja dengan keteguhan hati. Saya yakin bisa jaga jarak minimal satu meter, karena saya lakukan 4 hal berikut:

1. Jaga jarak dengan jadi solo shopper

Belanja sendiri lebih luwes. Belanja sendiri lebih cepat. Saya sungguh terkejut ternyata masih banyak yang santuy pergi berdesak-desakan ke pasar dengan membawa anak-cucu yang masih kecil. Please, tinggalkan anak di rumah, ya. Kalau bawa anak kecil, boro-boro bisa jaga jarak, pergerakan malah jadi lambat. Belum lagi kalau ada asap rokok, orang dewasa saja tidak tahan, apalagi anak-anak. Saya dulu waktu masih kecil tidak suka diajak ibu ke pasar bukan karena bau amis, tapi karena nggak tahan asap rokok, hiks.

2. Sedikit bicara dengan tidak menawar

Sekarang semua lagi dalam kondisi sulit. Sekali-sekali bolehlah tidak menawar. Eh, sebenarnya saya tidak pernah menawar kalau di pasar tradisional. Kata orang, tawar-menawar dalam jual-beli itu biasa. Saya bukannya kebanyakan duit, tapi saya ini penakut, heheh. Saya lebih takut orang tersinggung daripada beli kemahalan. Lagian kalau ditawar juga paling banter seribu-dua ribu.

Bila kita tidak menawar, maka kita juga sedikit bicara. Sedikit bicara akan meminimalisir keluarnya droplet. Jadi, cukup tunjuk saja dan bayar setelah disebutkan harganya. Belanja pun makin cepat sehingga kita bisa menghindari kerumunan di satu tempat.

3. Jaga jarak dengan belanja di kios yang sepi

Jaga jarak juga dapat dilakukan bila berbelanja di tempat sepi. Inilah saatnya kita mendatangi kios yang biasanya sepi pengunjung. Biasanya letaknya di sudut, yang tidak strategis. Atau yang jualnya sudah tua, jualannya nggak variatif. Mungkin harganya sedikit mahal, makanya jarang disinggahi. Atau mungkin juga barang cuma tersedia sedikit-sedikit sehingga tidak banyak pilihan. Saya berhasil menjaga jarak dengan pengunjung lain bila berbelanja di tempat semacam ini.

4. Punya toko langganan

Punya toko langganan penting sekalibagi saya. Karena saya tinggal tunjuk saja, kode-kode pakai tangan, mereka sudah tahu saya beli apa dan seberapa banyak. Oh ya, saya punya toko langganan berawal dari kebiasaan belanja saya yang tidak pakai plastik. Saya bawah wadah sendiri dari rumah. Karena tidak banyak yang melakukan hal serupa, para penjual di pasar mudah sekali mengenali saya.

Enaknya kalau punya toko langganan, saya bisa titip wadahnya, lalu saya tinggalin deh. Saya jadi bisa jaga jarak dari pembeli lain. Saya teruskan belanja di tempat lain. Saya intip-intip, kalau kira-kira sudah selesai, dan posisi kios sepi, saya baru datang mengambil belanjaan saya. Selama menunggu saya dimana dong? Ya saya cari aja posisi kios atau lorong yang kosong, hehehe. Pokoknya gimana caranya biar saya bisa jaga jarak sama orang lain.

Selain jaga jarak dengan pakai masker, lalu apalagi?

By the way, mungkin ada yang tanya, saya belanja pakai sarung tangan nggak? Jawabannya tidak. Untuk bahan makanan basah, biasanya saya minta penjual yang memasukkan dalam wadah. Kalau belanja sayur, setelah potong akarnya langsung penjual masukkan ke kantong belanja saya. Tapi terkadang kalau terpaksa tangannya turun, saya minta air buat bilas-bilas *yang sepertinya airnya juga nggak bersih, but it’s OK buat sementara. Untuk masalah timbangan, saya percaya saja. Dosa masing-masing, hehehe.

Kemarin saya sempat kaget lagi *doh keseringan kaget, karena lihat penjual bawang pakai handschoen (sarung tangan) untuk medis.

“Bu, kok pakai sarung tangan model ini?”

“Soalnya biar tangannya bersih, kan ini sarung tangan karet bisa dicuci”

Beliau bilang belinya malah di apotek. Nah, saya bilang bahwa jenis ini untuk tenaga medis. Bagi tenaga medis, sarung tangan itu adalah salah satu APD (alat pelindung diri) dalam melakukan tindakan medis. Cara pakainya juga harus benar, nggak dipakai terus-terusan pada pasien yang berbeda-beda. Untuk orang yang bukan medis mungkin bisa pakai sarung tangan yang dari plastik. Loh, katanya mengurangi plastik? Yaa, itu kalau masih memaksa kekeuh pakai sarung tangan. Makanya saya tangannya telanjang.

Perlunya akses air dan sabun di pasar

Mungkin yang menjadi kesulitan adalah di pasar tidak tersedia air dan sabun untuk cuci tangan. Saya kurang tahu apakah tersedia semacam WC umum yang bisa dipakai bersama, atau keran air setidaknya. Beberapa pasar tradisional yang diolah secara modern biasaya punya akses air bersih. Mungkin sebaiknya ada ya, supaya para pedagang bisa cuci tangan saat hendak makan atau ada keperluan menyentuh mata, mulut dan hidung. Soalnya terkadang saat lihat pedagang cuci tangan di air dagangannya saja, kolam ikan, kolam tahu, atau satu ember khusus yang diambil airnya sedikit-sedikit.

Akhirnya, setelah selesai berburu sambil sembunyi-sembunyi di pasar, saya segera pulang. Saat pulang, saya langsung cuci tangan dan kaki di luar rumah. Setelahnya belanjaan tadi dicuci dan dimasukkan wadah yang baru. Setelahnya saya langsung ke kamar mandi dan mandi lagi. Baru deh mengolah hasil belanjaan yang sudah dibersihkan tadi. Ada yang di simpan, ada yang langsung di masak. Saya masak sekaligus banyak untuk minimal seminggu. Kadang-kadang lauk bertahan sampai dua minggu. Hanya saja sayurnya yang tidak tahan lama. Kadang-kadang saya ambil sayur tanaman sendiri di rumah. Lumayan buat selang-seling jenis sayuran.

Penasaran nih, kalau yang lainnya, cerita belanjanya gimana?

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020

23 pemikiran pada “Jaga Jarak di Keramaian Pasar, Ada 4 Rahasianya”

      • Akhir akhir ini saya belanja sayurnya di warung belakang rumah. Alhamdulillah lumayan komplit. Agak mahal dikit sih. Tapi tidak terlalu ramai.
        Belinya saya siasati pas jam sepuluhan. Sepi sepinya pas jam segitu 🙂
        Tapi memang untuk daging dan ayam pilih ke pasar,lebih segar dan komplit. Nice tips ini, mbak. Bekal kalau pas besok terpaksa ke pasar

        Balas
  1. Wiihh masih banyak juga buibu yg bawa anaknya ke pasar? Wahh miris jg, ya mb.

    Btw kalo saya belanja di pasar pagi dekat rmh sih mb, nggak berani di pasar besar. Nah, agar nggak ketemu momen pasar yg ramai, biasanya saya belanja pagi2 bngt, soalnya kan deket hanya beberapa meter dari perumahan, jd jln kaki aja sj udah bs. Terus hanya beli yg penting2 sj, hanya beberapa menit dah cabut deh, hehe.

    Btw sharingnya bermnafaat untuk jaga jarak di keramaian.
    Thks mbak.

    Balas
  2. Kalau saya ke pasar early in the morning atau siang sekalian. Pokoknya cari pas sepi. Langsung ke kios yang dituju, selesai trus pulang. 5 – 10 menit lah. Sebelum pergi dan pas pulang lakukan prosedur kebersihan yang dianjurkan

    Balas
  3. Kalo saya emang menghindari pasar mba. Karena emang masih rame. Jangankan pasar, jalan raya di dekat rumah saya aja masih rame orang berjualan dan lalu lalang, meskipun ya gak serame biasanya sih..
    Jadi saya belanjanya di tukang sayur dekat rumah aja. Belanja nya lagi-lagi sebelum jam 6 kan masih sepi jadi enak milihnya gak banyak orang… Hehe

    Balas
  4. mamaku ke pasar beli yang butuh butuh juga dan waktunya terbatas, soalnya pasarnya dibuka cuman 3 jam. Lahh 3 jam kalo hampir semua ibu-ibu yang masuk, banyak juga orangnya. Kebijakan dari pemkab berubah, jadi pembeli mau tidak mau mengikuti jam bukanya pasar

    Balas
  5. Aku juga mau nggak mau tetap ke pasar, mbak soalnya selama WFH tukang sayur malah jarang banget lewat di komplek jadinya pas giliran ngantor aku tetap ke pasar. Padahal ada sih sekarang disediakan data penjual pasar yang bisa belanja online tapi akunya yang berasa kurang efektif karena harus menghubungi banyak nomor. Akhirnya ya tetap ke pasar sambil berusaha mengurangi kontak fisik dengan apapun dan pastinya cuci tangan sepulang dari pasar

    Balas
  6. aku juga belanjanya super ecpat, sudah bawa catatan ditangan, jadi ke kios yang paling dekat dengan pintu masuk, terus jalan cepat, ke kios yang lain terus pulang. kalau ngasih uang janagn sampai nyentuh pedagang, jadi hindari kontakl dengan orang. Pulang naik grab, aku abwa helm sendiri

    Balas

Tinggalkan komentar

Share via
Copy link
Powered by Social Snap