Membangun Kebiasaan Menabung pada Anak

Kebiasaan menabung pada anak penting untuk dibangun sebagai modal pengelolaan keuangan mereka kelak. Yakin, bisa menemani mereka sampai tua? Yakin, mereka tidak perlu tahu urusan keuangan karena dianggap masih kecil? Menurut saya, menabung adalah sebuah skill. Tidak sekedar menyimpan uang, namun ada kemampuan menetapkan tujuan, berhitung, juga menahan diri. Buktinya, banyak sekali orang dewasa yang tidak mampu melihat uang nganggur, yang ada segera mau dihabiskan. Jangan sampai anak kita menjadi salah satu orang dewasa macam ini.

Celengan: Tabungan masa kecil

Saya ingat dulu pernah punya celengan berbentuk buah apel. Saat itu saya masih TK di Sekayu. Abang saya mendapat tabungan apel warna hijau, sedangkan saya warna merah. Kami diberikan koin logam setiap hari, tidak tentu jumlahnya. Muara celengan tersebut sangatlah ramping, cocok dengan uang logam waktu itu yang tipis namun bobotnya berat. Sekian lama menabung, akhirnya koin tidak bisa masuk lagi. Kata ibu, celengannya sudah penuh. Kami deg-degan saat ibu membuka celengan itu dengan pisau. Celengan apel itu terbelah secara horizontal. Ternyata sambungannya dilekatkan dengan lem, sehingga butuh dicongkel dengan pisau. Berbinar mata kami melihat koin yang begitu banyak terkumpul!

Sayangnya saya tidak ingat persis apakah kami memanfaatkan uang hasil tabungan. Tidak selayaknya orang mendapat undian berhadiah, diduga hari berjalan seperti biasa. Tidak ada momen istimewa yang membuat memori ini lekat mengingatnya. Saat itu kami belum mengerti tentang kegiatan berbelanja. Kami belum mengerti konsep jajan. Baru mengenal konsep: Tidak ada-menunggu-siapa tau besok ada di rumah-atau menganggap mungkin barang itu tidak pernah ada di alam semesta. Kami tidak pernah lagi menabung di celengan apel. Apakah celengannya tidak bisa dipakai ulang? Atau ternyata uang logam yang dikumpulkan dengan susah payah tadi nominalnya tidak seberapa? Apakah lebih repot mencongkel dan lebih mahal harga lemnya? Sungguh misteri.

Investasi bodong bernama tabungan anak

Kegiatan mengumpulkan uang selanjutnya berbatas pada upah berpuasa dan uang hadiah hari raya. Saya ingat memakai uang pertama upah puasa saya di Pendopo: 100 rupiah per hari dikali 29,5 hari berpuasa. Mendadak ‘kaya’ karena ditambah hadiah lebaran dari orang dewasa lainnya. Saya sudah mengerti membeli mainan. Pergaulan teman sebaya sudah meracuni saya dengan boneka plastik di pasar. Karena suatu eksperimen salon-salonan, rambut boneka malang ini tidak karuan. Tentu saja ibu pusing kepala melihat uang ini sia-sia. Saya pun merasa bersalah, memang mungkin saya belum tepat memegang harta. Di sinilah, investasi bodong bermula:

“Sini ibu saja yang pegang uang kamu. Nanti kalau kamu perlu tinggal minta.”

Mau dikatakan sistem seperti ini membangun kebiasaan menabung pada anak, sepertinya kurang tepat. Masalahnya, saya tidak tahu berapa jumlah saldo saya tadi. Seiring waktu, saldo itu dinyatakan habis dari setiap makanan ringan yang saya minta belikan. Saya ternyata telah menghidupi diri saya sendiri sejak kecil!! Saya kembali miskin dan menunggu hari raya berikutnya. Eitt, tunggu! Bukankah cerita ini cukup familier? Wekekeke, Anda jangan-jangan juga senasib.

Mengelola harta anak saat menjadi orang tua

Bertekad memutuskan lingkaran investasi bodong ini, seorang ibu segera membawa anak-anak ke Bank untuk dibuatkan buku tabungan anak. Tanpa biaya bulanan, tentu saja model tabungan ini sangat menggiurkan. Niatnya, sih, tiap hari diberikan uang saku, nanti mereka kumpulkan, disetor ke Bank tiap minggu atau bulan. Pinginnya, sih, mengenalkan anak dengan kebiasaan menabung di Bank. Namun ternyata pandemi melanda.

Pandemi kemarin dampaknya cukup luar biasa. Jangankan untuk rutin ke Bank, rutin memberi uang saku anak saja pikir-pikir. Buku tabungan mereka sepi, haus kasih sayang tinta printer teller. Ujung-ujungnya malah mamanya yang pakai rekening tabungan anak untuk simpan dana darurat dan uang bayaran sekolah.

Hingga akhirnya, anak-anak bertemu hari raya, dan kembali mendapatkan pundi rupiah. Mau ditabung di bank, ribet udah nyampur. Solusi sementara adalah mereka pegang masing-masing dalam ‘dompet’, disimpan di ‘tempat rahasia’ yang tentu saja mamanya tahu. Tapi sampai kapan? Apa nggak bakal bulukan, gimana kalau diambil tuyul? Perkembangan terakhir, sudah muncul uang model baru. Saya pikir, uang mereka mesti muter.

Mencoba membangun kebiasaan menabung sejak dini

Setelah mengikuti berbagai seminar finansial, ternyata muara dari segala investasi adalah ada uang lebih. Kalau belum ada uang ‘dingin’, ya cari uang lebih giat sungguh nampak mudah diucapkan. Menabung adalah langkah termudah, teraman, dan paling awal untuk menjadi milyuner mengumpulkan harta. Dan syarat utama bisa menabung adalah: memiliki uangnya, tentu saja.

Bagaimana anak-anak yang unyu-unyu bisa mendapatkan uang? Sejauh ini sumber terbesar adalah ‘THR’, yang mereka anggap sebagai hadiah. Selebihnya mereka bisa bekerja. Pekerjaan apa yang bisa dilakukan anak-anak di rumah?

Mencabut uban
Membersihkan rumah di luar bagian kewajibannya
Menang lomba?
Membuat tugas orang tuanya
Menjadi dokter

Bagaimana? Mudah bukan memberikan upah dan hadiahnya? Lho, namanya anak kok diupah? Kalau semua yang dilakukan anak diluar kewajibannya dianggap bakti kepada orang tua, dan kalau memberikan uang saku dianggap sebagai rasa kasihan dengan anak, kapan mereka bisa berdaya? Menurut kami lho ini, tiap keluarga beda value, silakan skip.

Setelah anak-anak punya uang mereka sendiri dan cukup lumayan, saya jadi mikir-mikir lagi, bagaimana cara uang tersebut bisa berputar sekaligus menanamkan kebiasaan menabung. Aha! Bagaimana kalau saya menjadi seperti Bank? Anak tetap bisa tahu saldo, anak memiliki kebiasaan menabung, dan uangnya tetap aman dari mamanya.

Desain sederhana buku tabungan anak

Akhirnya saya coba membuat desain sederhana buku tabungan anak. Saya tulis macam neraca akuntansi abal-abal, ada debit dan kredit. Supaya anak-anak bisa tahu, kredit itu tidak melulu dapat dari utang. Kalau perlu mereka bahkan tidak tahu kalo sumber kredit itu bisa dari utang. Dan supaya mereka juga ngeh, kalau kartu ATM debit mamanya yang tergesek di kasir itu artinya uang mama berkurang. Uang mama dalam kartu itu tidak tak terbatas.

Bersamaan dengan terbitnya buku tabungan ini, dimulai kembali pemberian uang saku rutin. Anak-anak sekarang sudah ada pengeluaran uang kas 2000 rupiah per minggu, juga uang infaq setiap Jum’at. Lelah juga kan ngasih setiap minggu, apalagi ngingetin pagi-pagi saat sudah mau berangkat sekolah mending langsung sebulan sekali, atur juga berapa yang bisa ditabung.

Bagi teman-teman yang mau cetak dengan desain yang sama, bisa unduh buku tabungan kami ya. Tapi berhubung desainnya simpel sekali, tentu teman-teman bisa membuatnya dengan modalitas aplikasi desain kesayangan masing-masing. isi buku dicetak bolak-balik di kertas A4, dan disatukan dengan stapler seperti buku pada umumnya.

Semoga melalui usaha ini, anak-anak bisa konsisten menabung. Oh, ya, sebelum mulai menabung, anak perlu diajarkan cara mengelola keuangan. Insya Allah di tulisan selanjutnya, ya!

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2022

45 thoughts on “Membangun Kebiasaan Menabung pada Anak”

  1. Bener banget anak harus diajarkan mengelola uang yang mereka miliki atau peroleh. Anak saya dulu sejak SD nyari tambahan duit jajan = nyewain buku komik (trus disita guru…wkwkwk), bikin bros dari flanel trus dijual, bikin camilan. Nah…, karena dia merasa dpt duit gampang, trus jajan deh.
    Sammma aja, engga ada yg ditabung…Salahku deh, engga ngajarin menabung dengan benar.

    Reply
  2. Saya alami itu, masa-masa nabung di celengan yang bisa disembelih. Hehe

    Sekarang, anak juga nabung di celengan tapi bukan yang plastik. Masih belum paham nilai uang juga. Waktu ke bank, udah tertarik pingin buka rekening sendiri karena liat buku tabungan anak dan kartunya yang lucu

    Reply
    • Dulu sampe sempat punya kartu atm anak juga. tapi jadi masalah karena ternyata belum chip, jadi pas mau diambil repot. akhirnya benar-benar ditutup tabungannya.

      Reply
  3. Menginspirasi banget mbak, membiasakan anak untuk menabung sejak dini. Mengelola finansial memang perlu diajarkan sejak dini. Agar anak-anak juga paham bahwa uang perlu dikelola dengan baik dan untuk mendapatkannya perlu ikhtiar.

    Reply
  4. Inspiratif Mbak tipsnya untuk membiasakan anak menabung…Keren!
    Saya sendiri menghindari mengajarkan investasi bodong ke anak. Si sulung begitu punya KTP langsung saya bikinkan rekening bank sendiri (dulu saya bukakan tabungan junior atas nama saya QQ nama dia) . Tiap bulan uang saku masuk situ, juga uang THR dll. Dia belajar mengelola sekian ditabung ga boleh diutak atik dst.
    Kalau si bungsu minta sendiri ditabung di Pegadaian Tabungan Emas. Nama saya QQ nama dia. Alhamdulillah emaknya ga tergoda pakai duit anak jadinya haha

    Reply
  5. Setuju banget mbak kalau pengelolaan keuangan wajib ditanamkan sejak kecil. Anak-anakku sengaja aku tawarin beli celengan yang dia suka biar rajin nabungnya, ternyata berkelanjutan walaupun jumlah yang ditabung tidak seberapa. Tapi mereka akan ketagihan “memberi makan” celengannya terus menerus

    Reply
  6. Relate Bun. Kadanh saat hari raya tiba, uang di dompet kita kalah tebal sama uang di dompet anak-anak yang masih unyu-unyu ini.

    Celengan apel kita kayknya sama deh Bun. Jangan-jangan kita memang satu generasi, generasi celengan apel

    Boleh juga tuh, ide buku tabungan sendiri. Bank Bundahara

    Suka baca tulisannya, bacanya bikin saya senyum-senyum sendiri.

    Reply
  7. Saya waktu kecil juga pernah punya celengan apel itu mbak, dan setelah tahu ternyata bisa dibelah dan direkatkan lagi, kalau kebelet jajan jadinya membuka celengan hehehe….

    Kalau sekarang, celengan anak-anak saya buatkan dari botol air mineral saja, di lbelah dikit bagian atasnya membentuk celah untuk memasukkan uang. Karena bening, jadi kelihatan deh sudah seberapa uang mereka yang terkumpul. Tapi kalau pengelolaan uang, belum mengajarkan ke anak-anak, padahal penting juga ya

    Reply
  8. waaahhh.. cerita celengan masa kecil sy itu pakai kaleng SKM cap enaak hehe.. Dan memang kebiasaan nabung kudu kita wariskan pada anak. Anak2 sy belikan celengan plastik murmer, di warung juga banyak. Karena poinnya biar mereka senang nabung dan terbiasa kelola uang..

    Reply
  9. Alhamdulillah anak-anak sudah mulai terbiasa menabung jika ingin memiliki sesuatu barang. Meskipun kadang tergoda memakai uangnya untuk jajan. Setidaknya kebiasaan ini awal yang baik. Ide mbak patut dicoba nih.. makasih ya

    Reply
  10. Bentuk celengan sekarang macem-macem dan lucu-lucu sih. Dulu anakku bentuk stroberi dari tanah liat…hehe…Beli dari Mang-mang yang dipikul, kasihan berat. Seru sih, pas udah penuh, dipecahin…Biasanya beli mainan…

    Reply
  11. Iya juga yah, bisa nih buat dijadiin inspirasi nabung buat adek meskipun sebenar.y dia cukup rajin nabung kalau ada maunya heheh. Tp numbuhin kebiasaan nabung dari kecil emang bagus biar nggak boros pas udh gede

    Reply
  12. Membiasakan anak menabung ini sama dengan orangtuanya dulu yang memiliki kebiasaan baik ini.
    Huhu…Rasanya memaksakan diri sendiri untuk menabung ini luar biasa banget.
    Disiplin mencatat juga penting yaa.. Agar bisa di kroscek sejumlah uang yang dimiliki sehingga jatuhnya gak zolim terhadap harta anak-anak.
    Semoga aku bisa mengikuti cara ini dan konsisten sedikit demi sedikit.

    Reply
  13. Bener banget loh. Anak-anak itu ngebayanginnya kalau kita bilang ga ada uang, pasti langsung disuruh ambil ke atm. Emang ATM punya kita doang. hehehe. Mungkin emang harus dipahamkan dengan model buku tabungan gini ya, biar mudah dimengerti. Intip desainnya ya mbaa

    Reply
  14. Saya jadi ingat pas SMP nabung di bank yg kerjasama dengan sekolah. Rasanya senang banget pas sudah terkumpul, bisa beli tas dari uang tabungan sendiri. Memang anak harus dlatih utk bisa menyisihkan uang jajan sejak kecil

    Reply
  15. Masalah tabungan anak ini memang kadang bikin baper anak dan ortu. Banyak “kesalahan” yang dilakukan karena memang kurang familiar. Diikirnya menabung ya kalau ada uang. Jadi anak ga punya tabungan. Tekniknya Mbak Amel harus dicoba nih.Makasih ya

    Reply
  16. Anak harus dibiasakan untuk menabung ya bun. Dulu saya agak sulit untuk belajar menabung karena dari orang tua juga tidak memberikan pemahaman maupun pembiasaan. Semoga saya bisa menumbuhkan kebiasaan yang baik pada anak nanti.

    Reply
  17. Memang penting membiasakan menabung sejak dini pada anak ya, agar anak bisa belajar mengelola keuangannya juga saat sudah dewasa nanti, enggak boros dan rajin menabung.

    Dan seru juga itu desain sendiri buku tabungan untuk si kecil, menabungnya di Bank Bundanya ya, siip idenya kreatif

    Reply
  18. Iya sih. Perkara tabungan bukan hanya sekedar menyisihkan sebagian uang untuk ditabung. Tapi gimana kita menetapkan sebuah tujuan dan menyiapkan dananya sampai tujuan itu tercapai. Karena tanpa tujuan yang jelas kadang menabung itu terasa susah sekali.
    Ah iya. Sama urusan menahan diri sih. Kadang kita sering gagal menabung karena nggak bisa menahan diri. Hehehe

    Reply
  19. Saya dulu ngalamin juga nabung di celengan, tapi ya itu ga ada pengalaman tak terlupakan menabung di celengan selain menunggu celengan penuh dan memecahkannya. Malah ujungnya saya jadi koleksi celengan tanpa berniat untuk mengisinya wkwkwk. Btw ide untuk membuat buku tabungan sendiri untuk anak ini menarik juga jadi anak-anak bisa lihat langsung. Semacam buku kas anak gitu kali ya mba

    Reply
  20. Senyam senyum sendiri nih Mbak, baca part masa kecil, menabung di celengan dan investasi bodong itu.
    Sedari kecil anak-anak harus diajarkan tentang uang sih ya, biar mereka juga tahu kalau segala yang dikeluarkan itu ada perhitungannya. Saya udah lama ingin terapin buku tabungan juga tapi masih stuck aja ini, apalagi anak-anak emang gak kami beri uang jajan atau uang saku harian/mingguan.
    Coba download ide buku tabungannya juga aahh, makasiih lho Mbak šŸ™‚

    Reply
  21. Aku juga sadari kecil suka anggap uang THR itu sbg hadiah kak, bahkan bisa membeli barang sesuai keinginan kita. Harus bisa menjadi contoh jga nnti nih buat calon anak2ku karena keuangan itu penting ya sadari dini kak

    Reply
  22. Menabung emang harus diajarkan sejak dini.. waktu anak anak saya masih kecil, saya berikan mereka celengan masing masing 1 dan biasanya dibuka saat Ramadhan buat nambahin beli baju.. setelah lebaran, kebiasaan nabung dimulai lagi.. sekarang anak anak gak pake celengan karena masing masing punya rekening bank

    Reply
  23. Pertama kali punya tabungan beserta rekeningnya itu, kelas 1 SMA. Kala itu ada bank yang jemput bola ke sekolah, memperkenalkan tabungan anak.
    Saat skrg sih aku rasa, memang sudah saatnya melatih anak menabung sedari dini

    Reply
  24. Pertama kali punya tabungan beserta rekeningnya itu, kelas 1 SMA. Kala itu ada bank yang jemput bola ke sekolah, memperkenalkan tabungan anak.
    Saat skrg sih aku rasa, memang sudah saatnya melatih anak menabung sedari dini gituu

    Reply
  25. Sama banget dengan kami..
    Kondisi pandemi yang menakutkan sempat membuat kami beberapa kali meminjam uang anak-anak. Dan ternyata alhamdulillah banget, bisa menutup beberapa keperluan sehari-hari.
    Dan kini, kami sebagai orangtua kudu tanggungjawab setelah meminjam, tentu ada masa mengembalikan. Semoga anak-anak bisa kembali percaya bahwa tidak ada yang namanya investasi bodong bersama orangtua, yang ada adalah muamalah, saling bantu berbasis syariah, hehehe.. ((soalnya tanpa bunga))

    Reply
  26. Jadi ngakak di bagian mencabut uban.
    Anak cowok saya bisaan banget.
    Semakin dia besar, harga sehelai uban jadi makin mahal.
    Yang tadinya 10 helai bisa cukup dengan seribu, sekarang melonjak tajam menjadi seribu per helai uban :-))

    Reply
  27. Sepertinya nanti kalau anakku sudah lahir, akan kudidik hal yang sama, hehehe.
    Entah pijit, cabut uban, apapun itu. Yang penting si anak tau bahwa ga semua di seisi dunia ini bisa dia dapatkan cuma-cuma.

    Plus.. penting juga buat ngasih tau anak bahwa saldo bapak itu sangat-sangat-sangat limited, tidak unlimited. hahaha

    Reply
  28. Saya pun lagi mengenalkan anak-anak dengan konsep pengelolaan uang mbak. Jadi anak-anak saya beri uang saku bulanan untuk mereka kelola sendiri. Etapi saya gak setuju dg cara memberi mereka upah saat membantu membersihkan rumah hehe, kan itu kewajiban bersama. Takutnya mereka gak mau bersih2 karena tidak diberi upah. Hehe…

    Reply
  29. Sejak kecil anakĀ² saya sudah saya biasakan menabung, baik di celengan maupun di bank. AnakĀ² juga punya tabungan atas namanya sendiri di bank. Setiap lebaran, sebisa mungkin saya simpan uang itu untuk mereka di tabungan mereka sendiri karena itu hak mereka

    Reply

Leave a Comment

Share via
Copy link
Powered by Social Snap