Koleksi, Dulu dan Kini

Saat saya kelas enam SD, sekolah mengadakan acara open house. Orangtua murid diundang untuk melihat pencapaian putra-putrinya. Pencapaian bisa berarti nilai-nilainya, bakatnya, karyanya, ataupun koleksi yang mereka punyai. Waktu itu saya tidak mengumpulkan apapun untuk pameran koleksi. Pada awalnya, saya yang tidak punya, tidak merasa sedih. Lebih ke ‘apa gunanya sih?’

Sampai pada hari H, saya melihat bahwa teman-teman saya memiliki koleksi yang menarik dan bermacam-macam. Tiba-tiba saya merasa bahwa hidup saya tidak menarik. Koleksi seringkali dikaitkan dengan hobi, lantas apakah saya tidak puya hobi? Waw saya merasa hidup saya begitu menyedihkan. Haruskah saya punya satu hobi untuk punya koleksi, atau mempunyai koleksi akan berujung menjadi hobi?

-Sebagian koleksi-

Kolektor Prangko Dadakan

Tidak berapa lama, saya mendapatkan hibah album prangko lengkap berisi koleksi prangkonya. Kalau tidak salah ingat, itu dari Om saya. Masih ada beberapa lembar yang kosong untuk diteruskan agar saya menjadi kolektor. Oke saya coba, teman saya juga ada yang mengoleksi prangko. Zaman dulu, saya masih berkirim surat dengan teman saya di Muara Enim. Prangko balasan itulah yang saya ambil dan saya masukkan ke album. Kadang-kadang, prangko saya dapatkan dari surat yang diterima ayah.

Pernah ada masa terdapat prangko spesial yang diluncurkan PT POS. Gambarnya sangat menarik, bisalah disandingkan dengan saudara seniornya. Namun, selanjutnya ada masalah. Tiba-tiba prangko yang saya bisa ambil, gambarnya yang itu-itu saja. Terlalu banyak koleksi untuk satu gambar, tidak mungkin saya pasang. Saya balik-balik lagi halaman album sebelumnya. Banyak prangko tua, gambarnya satu warna. Sebenarnya yang dikumpulkan ini sebagusnya semakin tua umurnyakah? Gambarnya menarikkah? Edisi khususkah? Atau apa? Tiba-tiba saya menjadi tidak paham, saya ini sedang apa? Saya berhenti, saya lupa album itu saya letakkan di mana, dulu saya tidak bisa mengabadikannya dalam foto. Benar-benar tidak berbekas. Sori, Om.

Kertas Surat

Sedang naik daun masa itu, awal SMP. Kami menyebutnya kertas binder, bisa dipakai untuk menulis surat. Modelnya macam-macam, ada yang gambarnya hanya di atas dan di bawah kertas, ada yang sehalaman penuh. Saya ingat ada teman saya yang mengoleksinya saat SD. Oke saya ikut. Saat SMP uang jajan sudah mulai naik, sedikit. Ortu yang membeli wadahnya, saya yang beli kertasnya.

Saya pernah coba barter dengan teman, cukup menyenangkan. Yang laku dan sering dijual saat itu adalah gambar Disney. Kertas yang kualitasnya bagus biasanya saya cari merek Adinata. Dikumpul-kumpul, ujungnya bingung. Mau diapain ya ini? Apa manfaatnya? Bosan saya, sebagian kecil saya pakai untuk menulis surat-suratan. Sisanya masih begitu-gitu saja, terkumpul dan tidak pernah saya coba beli lagi. Rencananya saya mau wariskan kepada anak saya saat dia masuk SD..hahaha

Souvenir Pernikahan

Saya suka datang ke acara pernikahan. Semacam sakral, dan saya sangat senang melihat banyak pancaran kebahagiaan. Biasanya kalau menuliskan nama di buku tamu, suka dikasih souvenir. Bagi saya itu penting sekali, itu juga lambang kebahagiaan. Kalau kami terlambat datang dan souvenir sudah habis, saya merasa kecewa. Saya suka mengenang sesuatu dengan barang, semua souvenir saya simpan. Awalnya saya simpan di dalam kotak, tapi ngapain ya disimpan. Kapan saya bisa kenang-kenang? Akhirnya saya menempel semua souvenir di balik pintu kamar saya. Saya tetap letakkan di sana sampai akhirnya saya akan menikah. Setelahnya saya turunkan, saya buka semua plastiknya, dan saya pakai sesuai peruntukannya. Hiasan dipajang, kipas souvenir berada di dalam setiap tas yang saya punya, gelas dicuci dan dipakai, magnet ditempel di kulkas, pembuka botol diletakkan di dapur, tempat tisu diisi, dan lain sebagainya.

Gantungan Kunci

Saat masih gadis, saya pernah ikut karya wisata. Saya selalu beli gantungan kunci sebagai kenang-kenangan. Tapi kemudian jadi sesalan, karena gantungan kunci yang saya beli dengan kantong pelajar itu tidak berkualitas baik. Ada yang akhirnya lepas, patah, rusak. Seandainya tidak ada foto, bisa saja meragukan diri sendiri apakah pernah pergi ke sana. Beberapa foto ada yang tidak dicetak, saya khawatir di era digital ini, masih mudahkah mencari tempat yang bisa cuci-cetak foto dari klise.

Baju Kaos Khas

Setelah menikah, kami berbulan madu ke negara tetangga terdekat. Pasti dong beli oleh-oleh buat diri sendiri, sebagai kenang-kenangan. Tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dengan gantungan kunci, saya beli baju kaos  dengan gambar khas wisata di negara tersebut. Hal ini terinspirasi dari teman SMP saya, Tiwi, yang selalu membelinya sebagai kenang-kenangan saat berwisata. “Kenapa kaos hitam?” tanya saya saat itu. “Karena saya suka hitam,” katanya. Saya pikir boleh juga ditiru, kaos bisa dipakai lebih lama. Saya bisa beli warna apa saja yang menurut saya bagus, tidak harus hitam. Kenyatannya, baju bisa saja tidak muat lagi dipakai setelah kami punya anak. Mau dikasih ke orang sayang, mau dipakai nggak muat. Sigh.

Pin

Saat kuliah, ada teman saya yang punya usaha pin. Berhubung saya pakai jilbab, pin ini jadi hiasan berguna yang bisa dibeli. Gambarnya lucu-lucu, saya kadang tidak terasa membeli sekian banyak dalam sekali belanja. Kalau sudah bosan dijadikan hiasan jilbab, saya pakai untuk hiasan tas. Tidak suka dengan hasil akhir tas jadi bolong-bolong, saya pakai untuk hiasan gorden. Saat gorden mesti dicuci, repot juga melepaskannya, akhirnya saya simpan. Ada suatu masa saya bosan, saya berhenti membeli, tidak memakai pin lagi. Tapi sampai sekarang masih rapi saya simpan, dan saya gabungkan dengan pin yang baru-baru ini didapatkan dari acara-acara yang saya ikuti.

Outer/ Jaket/ Sweater/ Blazer

Saya nggak ngerti kenapa bisa suka banget dengan luaran dibanding blouse atau baju yang bisa berdiri sendiri. Apa saya merasa insecure sehingga butuh ‘dipeluk’ outer? Bermacam model dan bahan, tapi yang saya paling suka adalah blazer. Bahan dan motif yang saya suka biasanya kain tenun; resmi bisa, dipakai santai bisa. Tapi kenyataannya malah nggak terlalu sering dipakai, karena harus dijodohkan dengan inner dan bawahannya. Repot a.k.a malas. Belum lagi mau dipaduin dengan inner jilbab dan jilbabnya.  Outer yang polos memang lebih sering digunakan. Untuk semua pakaian, saya sudah membuat keputusan untuk beli 1 beri/jual 1. Artinya, kalau saya mau beli, harus ada yang saya keluarkan dari lemari saya, untuk menyediakan tempat bagi yang baru. Saya rencana lelang, ada yang berminat?

Pewarna Bibir

Sesuai dengan fakta bahwa saya sangat mencintai pewarna bibir, maka tak heran barang ini saya koleksi. Apalagi kalau konsistensi, ketahanan, hasil akhir sesuai yang saya mau, waw tinggal cari warna. Pencarian warna ini yang suka menipu. Di bawah cahaya etalase kok bagus, dibawa keluar kok norak. Aslinya ungu, difoto coklat. Beli lagi deh. Eh?

Pewarna bibir ini bisa saya beli untuk memperbaiki mood, memakainya menambah semangat. Satu warna tidak cukup, kadang berakhir dengan warna yang mirip, kata orang. Tapi, beneran, itu beda kok. Mata saya sensitif warna, emang bahaya buat kantong. Tapi saya punya resolusi, insya Allah, untuk selanjutnya tidak membeli pewarna bibir lagi, hingga yang saya punya expired. Beberapa warna yang double (sebenarnya bedaaaaaaa) sudah saya berikan kepada orang lain. Saya mau alihkan dananya, mohon do’anya ya.

Magnet kulkas

Ini adalah koleksi yang murah meriah, penuh kenangan, berguna, dan bisa dipamerin setiap waktu. Sampai kapanpun, saya masih semangat untuk mengoleksi ini. Apalagi sudah berdua, bisa bikin kulkas cepat penuh. Kenyatannya: 1. Saya belum banyak pergi kemana-kemana, 2.  Terkadang saya lupa membelinya di tempat yang saya kunjungi. Terlalu banyak distraksi, atau modelnya kurang berkenan, 3.Banyak yang pecah dan rusak karena anak-anak. Saya tidak punya cadangannya. Apakah itu berarti saya harus kembali ke sana? Ke tempat liburan itu? Hahaha,, ini mah ngarep namanya. Kebayang repotnya bawa printilan tiga kemana-mana. Jangan-jangan, magnet nggak terbeli, malah perintilan anak-anak kecil yang dibeli.

By the way, ada yang punya koleksi yang sama? Atau kamu punya koleksi lain yang lebih keren dari emak-emak rempong ini? Share dong..hehe

Leave a Comment

Share via
Copy link
Powered by Social Snap