Bisa Kuliah Kedokteran, Privilese?

Kuliah kedokteran itu mahal. Meskipun standar tingginya biaya bagi masing-masing orang berbeda, namun kesan mahal itu seperti telah menjadi kebenaran umum. Banyak yang mengira bahwa hanya orang kaya yang bisa kuliah kedokteran. Kenyataannya, tidak selalu. Tapi seandainya, seseorang terlilit hutang yang besar karena biaya sekolah kedokteran, bisa termasuk golongan penerima zakat tidak, ya? Tentu tidak lazim. Oleh karena itu, keinginan mewujudkan kebaikan berbagi layanan kesehatan bagi masyarakat, melalui bercita-cita menjadi dokter, seringkali kandas sejak awal. Bisa sekolah kedokteran, benarkah suatu privilese?

Privilese: bukan hanya seputar dana

Diwakili dengan pernyataan:
“Kamu enak, kamu ada duit, makanya berani ambil jurusan kedokteran.”
“Kamu enak, kamu kemarin bisa bimbel, makanya kamu bisa tembus kedokteran.”

Sayangnya, materi itu bukan satu-satunya, sayang. Meskipun uang itu adalah bensin, supaya pendidikan ini terus berjalan.

Dua minggu menjelang meninggalnya Ayah, kami berdua berbincang di ruang perawatan. Cerita-cerita masa lalu.
“Kamu dulu, sekolah kedokteran pakai uang tabungan untuk naik haji. Ibumu yang nabung sudah lama. Ayah bilang, pakailah saja. Alhamdulillah, dikasih ganti (menang undian haji).”
Aduh, tertohok. Saya dari kecil sampai besar tidak pernah dengar orangtua bilang, ‘kita tidak ada uang’ kalau urusan pendidikan. Coba kalau mau beli jajanan, mainan, atau mie instan, bilangnya tidak punya uang. Tapi menggerus tabungan untuk sesuatu yang mereka impikan demi pendidikan mahal saya, tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Saya selalu mengira orang tua ada uang deposito pendidikan. Tapi mengingat ada banyak hal yang tidak saya ceritakan di sini, maka tabungan yang ada hanya tinggal tabungan haji. Saya menganggap ini privilese saya, karena punya orang tua seperti mereka. Dan, meskipun Ayah mendapat privilese saat dirawat karena status saya seorang dokter, tapi tetap orang tua yang menjadi perantara itu terwujud.

Merekalah pangkal privilese itu. Mereka mulai memberi saya privilese untuk leluasa bercita-cita tanpa takut tidak ada biaya. Mereka mengangguk waktu saya tanyakan bisakah saya ambil bimbel? Mereka memberi saya privilese untuk merasakan saya sanggup tes, tanpa mematahkan semangat anaknya untuk memikirkan alternatif lain kalau tidak diterima. Mereka tak biarkan saya berpikir gagal sebelum mencoba. Mereka mendukung membeli buku yang harus dibeli. IYA, IYA, IYA. UANGNYA ADA.

Saya bertahan hingga selesai pendidikan dengan usaha saya sendiri. Namun, tetap bagi saya, privilese dari orang tua adalah asal dari semua ini. Mereka membentuk mindset saya, bahwa saya pasti bisa, walau bukan berasal dari keluarga dokter atau keluarga yang punya materi berlimpah.

Kuliah kedokteran: mahal?

Saat saya masuk kuliah, seingat saya biaya per semester itu mencakup SPP 240 ribu, dan uang TPP 1,1 juta. Uang bangunan 12 juta dibayar pertama kali masuk. Bagi yang bilang ‘kok murah?’, saya perlu menginfokan bahwa kakak tingkat satu tahun di atas saya bahkan belum ada biaya TPP. Bagi mahasiswa yang biaya pulsanya sebulannya mencapai angka dua juta, SPP sebesar itu laksana jajan cilok.

Bagi yang bilang mahal, well, it is. Bagi saya juga. Beberapa orang terseok-seok kuliah dengan biaya segitu. Bahkan ada yang mundur sejak pendaftaran ulang. Ada mahasiswa yang sejak awal dibantu biaya oleh dosen. Bahkan ada mahasiswa yang ambruk keuangannya di tengah jalan setelah orangtua berpulang, membuat rektorat, dekanat, dan prodi turun tangan. Terkadang, kebaikan berbagi fasilitas seperti membantu meminjamkan buku, kuota, sumbangan dana dari teman-teman, dapat membantu kelangsungan kuliah temannya yang tak berpunya.

Pentingnya pembiayaan yang stabil untuk kuliah kedokteran

“Iya, tapi tetap aja kamu enak, orang tua masih ada simpanan uangnya. Kalau saya benar-benar nggak ada uangnya.”

Iya benar. Orang tua berani mendukung juga karena ada simpanan materi, meski bukan dari situ saja. Jadi saya tentu, tidak akan memberikan ulasan tentang, “memilih kuliah kedokteran, kenapa tidak?”, karena bagi orang lain mungkin itu bahkan tidak masuk ‘pilihan’.

Kalaupun ternyata bisa masuk kuliah kedokteran, butuh keuangan yang stabil untuk mendukung proses perkuliahan. Biaya bukunya, kuota internetnya (yang makin besar kebutuhannya seperti saat pandemi Corona ini), sewa tempat tinggal untuk dokter internship, dan lain sebagainya. Tentunya semua yang berkuliah harus tetap fokus belajar, bukan memikirkan dari mana lagi uang untuk semester ini, bukan?

Baca juga: kenapa harus jadi dokter?

Tapi, kalau boleh cerita sedikit, saya ingin berbagi pengalaman yang mengugah hati saya. Membuat saya percaya, masih ada celah menebar kebaikan melalui cita-cita sebagai dokter. Ini tentang apa yang saya pernah bagikan tahun 2014 lalu di laman Facebook saya. Sebuah selebaran dari Dompet Dhuafa, yang saat saya membagikannya pun saya agak tidak percaya: benarkah ada badan zakat yang memberi kesempatan kuliah kedokteran? Spesialis pula?

Previlese kuliah kedokteran dengan beasiswa lembaga zakat dompet dhuafa
Selebaran Dompet Dhuafa yang saya bagikan 6 tahun lalu

Saya bagikan sambil lalu, tak lama setelahnya saya terlupa, dan kembali kepada kesibukan saya sehari-hari. Hingga pada tahun 2019, saya akhirnya tahu, ada adik tingkat saya yang telah lulus menempuh program pendidikan spesialis melalui beasiswa ini.

Baca juga: dokter umum vs dokter spesialis

kuliah kedokteran spesialis dengan beasiswa Dompet Dhuafa
sumber: dompetdhuafa.org

Saat ini, beliau sedang dalam proses penempatan di RS Lancang Kuning Pekanbaru. Kewajiban pengabdian bagi penerima beasiswa adalah n+1, di mana ‘n’ adalah lama sekolah dalam tahun. Program ini adalah solusi nyata yang saling menguntungkan, pemberdayaan dokter untuk mengabdi ke masyarakat.

Saya lalu penasaran, apa hanya pendidikan spesialis saja yang dibantu? Untuk kuliah spesialis tentunya harus kuliah kedokteran s1 dulu. Apa ada programnya? Saya pun berselancar ke laman resmi Dompet Dhuafa, dan menemukan yang saya cari: ada beasiswa untuk kuliah kedokteran s1! Tidak hanya menjadi dokter biasa, penerima beasiswa bahkan diberikan soft skill yang semakin menguatkan penerima manfaat beasiswa ini untuk mandiri. Lalu, selanjutnya akan kembali menebarkan kebaikan ke sekitarnya.

Kebaikan berbagi kesempatan kuliah kedokteran oleh Dompet Dhuafa
sumber: dompetdhuafa.org

Kebaikan berbagi, disalurkan dalam bentuk sinergisme program Lembaga Zakat Dompet Dhuafa

Program lembaga zakat dompet dhuafa
Program Dompet Dhuafa yang menyeluruh dalam berbagai bidang

Program Dompet Dhuafa bersifat menyeluruh dan sinergis, tercermin melalui 5 pilar pogram utama. Bila kesehatan dhuafa baik, generasi penerusnya mendapatkan beasiswa dari divisi pendidikan, ditambah bantuan divisi kreatif mandiri bagi yatim, dan bimbingan ekonomi bagi dhuafa, maka tak heran, divisi sosial dakwah dan budaya masyarakat Indonesia akan maju dan lengkap. Itulah mengapa, investasi pendidikan, terutama pendidikan di bidang kesehatan sangat penting. Dompet Dhuafa telah mendobrak pilar pendidikan melalui program beasiswa yang dapat menghasilkan tenaga medis, sebagai prajurit yang menebar kebaikan pada pilar kesehatan.

Dompet Dhuafa memiliki layanan kesehatan klinik dan program kesehatan lainnya. Tapi yang paling menonjol di Palembang adalah Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC). Tidak heran, karena LKC tersedia dengan kualitas premium, sebagai previlese bagi kaum dhuafa.

Saya menghubungi Manager LKC sekaligus Pimpinan Divisi Medik Dompet Dhuafa Sumatera Selatan (Sumsel), yaitu drg. Miko, untuk memuaskan rasa penasaran saya, tentang program LKC yang sudah dijalankan. Menurut keteranhan beliau, terdapat lima program yang sudah rutin dilakukan:

  • AIS (Anak Indonesia Sehat)
  • Kesehatan Reproduksi
  • JKIA (jaring kesehatan ibu dan anak)
  • Pos Sehat
  • Aksi Layanan Sehat

Program tersebut dapat dilaksanakan di klinik, ataupun di tempat yang lain sesuai dengan permintaan mitra. Saat ini sedang dilakukan inisiasi Program Kawasan Sehat, dimana terdapat program unggulan yang bertujuan memberikan solusi dan intervensi dari berbagai masalah kesehatan yang ada di kawasan tersebut. Cita-cita berdirinya Rumah Sehat Terpadu di Sumsel pun sudah terpancang kuat. Semoga segera terwujud!

drg. Miko dan peserta Prolanis

Bagi teman-teman yang berdomisili di Palembang, bila naik jembatan ampera dari arah Seberang Ulu, menolehlah ke kiri untuk melihat di mana lokasi LKC berada.

LKC dompet dhuafa Palembang
Lokasi LKC Dompet Dhuafa

Yuk, ikut menebar kebaikan! Bantu berikan privilese kaum dhuafa untuk mendapatkan layanan kesehatan, melalui beasiswa pendidikan bagi tenaga kesehatan. Meskipun sifatnya tidak langsung, namun bantuan beasiswa pendidikan bagi tenaga medis ini dapat melipatgandakan lagi kebaikan berbagi layanan kesehatan kepada kaum dhuafa. Mari berdonasi kepada lembaga zakat Dompet Dhuafa agar Rumah Sehat Terpadu terwujud dimana-mana. Berikan privilese itu melalui tangan kita!

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

Follow Dompet Dhuafa di:

  • Twitter : @dompetdhuafaorg
  • Instagram : @dompetdhuafaorg
  • Facebook : Dompet Dhuafa

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020

76 pemikiran pada “Bisa Kuliah Kedokteran, Privilese?”

  1. Kuliah kesehatan emang semua mahal, saya di farmasi dengan biaya sendiri dan tanpa di bantu orang tua memang terasa berat banget. Tapi ntah kenapa selalu aja ada jalannya buat bayar SPP, Lab dan Praktek di RS, puskesmas, klinik dan apotek . SEmangaaaat

    Balas
  2. MasyaAllah, sama bener kayak orang tua saya. Kalau soal jajan mesti bilang enggak ada uang, tapi kalau buat beli buku atau pendidikan pasti selalu diusahakan. Barakalah ya kak, salut dengan para dokter yang menjadi petarung di garda depan dalam menanggulangi pandemi ini. Semoga semua lelahnya, menjadi jalan menuju surga, aamiin.

    Balas
  3. Dompet dhuafa memang terbaik dan terpecaya. Salut bisa support unt pendidikan dan sangat membantu bagi anak pintar yg kurang mampu dalam mewujudkan cita2nya

    Balas
  4. Dompet Dhuafa memang yayasan filatropi ya TOP banget ya. Bukan hanya konsen ke bantuan kemanusiaan tapi juga pendidikan juga.

    Balas
    • Merinding aku mbak baca ini sungguh ya, orang tua terbaik yang mengantarkan pendidikan anaknya menjadi nomer 1, sementara jajan palingan jadi apa? Kalau invest di pendidikan kan putrinya sekarang jadi dokter, terharu tuh sampai tab haji dikasihkan.

      Tapi juga terharu sama dompet dhuafa. Pertimbangan memberikan beasiswa kedokteran ini luar biasa bagus banget ya kak.

      Balas
  5. Selalu terharu dengan gigihnya ortu membiayai anaknya ya Bu Dokter Amel… semangat agar anak terus mengecap pendidikan terbaik ini semestinya kita teladani. Agar anak2 kita pun nantinya tenang saat berkuliah, ada back up dana dari ortunya. Semoga ayahanda Mbak Amel ditempatkan di sebaik-baik tempat di sisi Allah SWT.

    Balas
  6. Jadi inget kisah di novelnya Andrea Hirata yang judulnya Orang-orang Biasa. Kritik sosial yang mengatakan bahwa orang miskin jangan pernah mimpi untuk jadi dokter. Sedih, tapi bukannya selalu ada harapan yah kalau mau berusaha. Klise tapi ya gimana buktinya masih banyak orang miskin yang akhirnya bisa jadi dokter.

    Balas
  7. ortu pasti berusaha mengusahakan yg terbaik untuk buah hatinya ya kak..dan akhirnya kakak bisa jadi dokter. Dan dompet dhuafa ini terbaik lah ya dalam menggunakan donasi dana dari donatur selain untuk kemanusiaan jg ada untuk bidang pendidikan spti bantuan beasiswa ..bagus banget program Dompet Dhuafa ini.

    Balas
  8. Masya Allah. Saya termasuk yg baru tahu juga tentang hal ini Mbak. Dompet Dhuafa keren banget yaa. Turut mensupport bidang pendidikan juga. Saya soalnya termasuk salah satu yg gagal jadi dokter karna biaya. Tapi alhamdulillah skrg cukup puas dg tetap menjadi nakes yg sedang melanjutkan S1 dg dana sendiri. Doain lancar yak.

    Balas
  9. Duh, saya jadi autoingat juga mba perjuangan orang tua menguliahkan saya dan adik saya. Dan emang benar, untuk adik saya bahkan ibu harus merelakan uang tabungan hajinya. Ibu selalu bilang, rezeki anak itu banyak pintunya. Kita bisa gila kalo ngitungnya pakai kalkulator manusia. Banyak yg gak logisnya. Hehehe. Masya Allah memang yang namanya orang tua.

    Balas
  10. dompet dhuafa ino selain memberikan lauanan kesehatan cuma2 kepada masyarakat yg tidak mampu…juha memberikan beasiswa ke dokter juga.. menarik nich.. program dan konsep berbagi DD

    Balas
  11. Jangankan kedokteran, bisa kuliah dalam arti luas (jurusan apa saja), bagi sebagian orang itu privilese. Saya bisa menjadi seorang sarjana di PTN, itu privilese saya yg tak dimiliki sebagian orang lainnya yg kurang beruntung. Orang tua saya pun kurang lebih sama, tak pernah bilang tak ada uang untuk pendidikan
    Tp, dengan berusaha semoga apa pun yg kita impikan bisa menemukan jalan terbaiknya

    Balas
  12. MasyaAlloh ternyata Dompet Dhuafa memang banyak program kebaikannya ya k. Layak memang sebagai salah satu lembaga yang terus berjaya dalam meneruskan kebaikan pada masyarakat luas. Makasih k sharingnya

    Balas
  13. Orang tua tu ya. Bisaan bikin anak-anaknya tenang belajar. Beliau-beliau itu nggak akan mengijinkan anak-anaknya nggak bisa konsen karena mikirin biaya pendidikan.

    Duh, Yuni jadi mellow.

    Kalau sekarang, eh udah sejak lama ya, ada dompet dhuafa yang bisa membantu pendidikan. Itu kabar baik.

    Nggak tanggung-tanggung, ini kuliah kedokteran lagi. Seharusnya nggak jadi masalah, jika kemudian mereka harus menjalani pengabdian itu. Hitung-hitung untuk kemaslahatan umat manusian.

    Balas
  14. Jadi ingat masa kecil saya, saat ditanya oleh orang-orang, “cita-citanya apa?”
    Saya tidak berani bilang, kalau cita-cita saya adalah jadi dokter, hi-hi-hi
    sadar diri, orang tua tak punya cukup uang untuk biayai.
    Untunglah sekarang ada Dompet Dhuapa yang bisa juga menyentuh pendidikan.

    Balas
  15. Dompet Dhuafa ini cukup bervariasi ya, gak hanya urusan zakat dan amal, tapi juga beasiswa kedokteran. Semoga semakin banyak yang terbantukan oleh program-program dari Dompet Dhuafa ini.

    Wah banget ya bisa kuliah jurusan kedokteran.

    Balas
  16. Orang tua pasti memberikan yang terbaik bagi putra/putrinya ya, mbak♥️. Duh jadi kangen sama orang tua tidak bisa mudik tahun ini. Anyway, program dompet dhuafa bagus juga ya mbak, saya baru tahu lo programnya kece. Jadi kepo deh

    Balas
  17. MasyaAllah, Dewi tidak mengira dompet Dhuafa pun memberikan beasiswa kedokteran. Alhamdulillah semakin banyak yang bisa terbantu dari tangan-tangan dokter yang pasti sangat dibutuhkan banyak masyarakat, semoga petugas medis dan semua yang terlibat dalam dompet dhuafa sehat semua dan mendapat pahala….

    Balas
  18. Aku nangis baca kisahmu, Mbak… Sampai ke hati. Jadi berpikir, selama ini sering bilang ke anak kalau butuh perjuangan untuk membayar uang sekolah mereka. Sepertinya cara saya salah selama ini. Belajar dari kisah orang tua, mbak, membuat saya punya pemikiran baru. Dan yang pasti, semuanya kembali pada takdir.

    Btw, kenapa postingannya gak diikutkan lomba blog dompet dhuafa? Menarik lho mbak post ini.

    Balas
    • Sudah diikutkan mbak. Tadinya mau cerita saja, karena ada kabar bahwa adik tingkat sudah lulus dari program ini. Sekalian ikut lomba aja ya, meramaikan.

      Balas
  19. Sewaktu kecil saya bercita-cita menjadi dokter, tapi semakin saya tumbuh saya mengubah rute pendidikan saya ke jurusan teknik mesin. Salah satu pertimbangannya, ya itu, biaya–selain itu karena persaingannya juga ketat. Tapi memang jangan itu jadi alasan juga ya Mbak, toh ada banyak beasiswa yang bisa diambil.

    Balas
  20. Privilese utama dari orang tua bener banget. Betapa mereka mendukung aja, anaknya mau apa, terus diupayakan.
    Hebat Dompet Dhuafa punya program seperti ini. Kita kan masih kekurang dokter. Semoga programnya jalan terus dan semakin banyak calon dokter yang terbantu.

    Balas
  21. Setiap orang tua pasti akan memberikan yang terbaik buat anak-anaknya ya mbak…dan semoga setiap anak-anak bisa menggapai impian mereka atas doa orang tuanya

    Balas
  22. Masyaallah ternyata Dompet Dhuafa juga menyediakan beasiswa. Saya pikir tadinya sebatas zakat infak shodaqoh, seputar itu saja. Syukurlah, karena ada banyak anak negeri yang memiliki keterbatasan biaya, insyaallah akan terbantu dengan beasiswa dari DD ini.

    Btw mba Amel, aku sukaaa banget membaca kisahmu tentang dunia kehidupan seorang dokter 🙂

    Balas
    • Iya mbak, tadinya aq juga kira gitu, ternyata bukan lembaga zakat biasa nih Dompet Dhuafa. Mantap bener. Eh, makasih mbak ya udah baca artikel aq.

      Balas
  23. Masya Allah, banyak ya layanan Dompet Dhuafa itu. Saya baru ngeh ada beasiswanya. Pastinya bakal membantu sekali mahasiswa potensial yang ingin kuliah. Salut deh. Thanks mba sharingnya

    Balas
    • Iya mbak, nyata banget bantuan dari Domoet Dhuafa ini, karena saya saksinya sendiri bahwa memang ada outputnya.

      Balas
  24. waaah saya kira dompet dhuafa hanya memberikan bantuan pada layanan kesehatan saja, ternyata pendidikan pun menjadi salah satu prioritsnya untuk membantu anak-anak yang tidak mampu meneruskan pendidikan dengan memberikan beasiswa.

    semoga saja banyak donatur yang terus memberikan bantuannya demi kemajuan generasi Indonesia yang pintar, cerdas dan sehat

    Balas
  25. seketika aku merinding pas baca uang haji dipakai buat kuliah saja, eh trus dapat menabg undian haji.

    Masyalloh mbakkk.. Hidupmu diberkahi.. Bahkan Alloh kasih rencana yang Indah banget berkat org tua mbak yang tulusnya luar biasa

    Balas
  26. Masyaallah begitu manfaat ya program dari dompet duafa. Ini benar sekali, tidak semua anak bisa mendapafkan privilage pendidikan yang membebaskan anak melanjutkan pendidikan kemana. Yang saya yakini adalah selalu ada rezeqi dari manapun untuk pendidikan. Saya yang termasuk takut akan biaya mahal hingga masuk kuliah kedokteranpun diurungkan. Sedih. Bagaimanapun Allah sudah menggantinya dengan yang tak kalah baik, alhamdulillah. Semangat untuk ade-ade yang masih semangat menempuh kuliah kedokteran.

    Balas
  27. Saya gak nutut mikir ilmu kedokteran. Hehehe

    Dulu saya juga kuliah s1 sambil jaga parkir karena memang gak ada uang si. Tabungan orang tua gak cukup. Rumah dan tanah udah dijual tapi tetap gak cukup..mau keluar gak boleh. Ya akhirnya jadi tukang parkir aja

    Balas
  28. Keren..inspiratif kisahnya Mbak Amel…benar memang kesempatan istimewa dari orang tua tak terkira yaa…Saya pengin ke FK dulu, tapi tahun 1994 tuh nembusnya susah banget ke PTN, memang bukan takdirnya juga haha. Jadi nyasar ke pilihan ketiga, Manajemen Pariwisata.
    Salut untuk Dompet Dhuafa dengan segala progam menebar kebaikannya

    Balas
  29. Betul banget Mba. Privilege bukan melulu soal dana saja ya, punya orangtua yang sangat mendukung pendidikan anaknya juga jadi privilege tersendiri. Dan masya Allah programnya Dompet Dhuafa, insya Allah bisa terus mendukung lahirnya dokter-dokter hebat di indonesia.

    Balas
  30. Mantap Beasiswa Dompet Dhuafa, ada beasiswa kedokteran juga! Tentunya sangat membantu bagi calon mahasiswa yang cerdas, tapi tidak mampu untuk membiayai pendidikannya…
    Semoga RSDD segera terwujud…

    Balas
  31. saya dulu mau masuk kedokteran pas kuliah tapi gak diterima. eh malah bersyukur saya karena tahu kalau biayanya mehong… sementara ortu hanya wiraswasta biasa. eh kok sekarang anak saya yang sulung bercita cita jadi dokter. ya Allah semoga saya dan suami dicukupkan rejekinya agar bisa mewujudkan cita cita anak kami. Aamin.

    Balas
  32. dulu cita-cita ‘bayangan’ dokter, aku sebut bayangan karena nggak yakin waktu tes SPMB keterima,
    luar biasa, memanfaatkan ilmu untuk kebaikan sesama

    Balas
  33. Jadi pingin kuliah lagi. Sempat kuliah sih tapi terhenti ditengah jalan karena soal dana ini. Nah, didompet dhuafa apakah saya bisa mengapply beasiswa mengingat saya sudah tak muda lagi.

    Balas

Tinggalkan komentar

Share via
Copy link
Powered by Social Snap