Mari Menyusui

Sudah lama sekali blog ini tidak sempat dibuka hibernasi. Mampir sebentar, jadi kangen nulis lagi. Bolehlah kali ini sebagai pembuka kembali, saya mau share sedikit tentang dunia per-ASI-an.

Meskipun pekan ASI sedunia sudah lewat, bolehlah saya menyusul mengucapkan selamat Pekan ASI Sedunia (1-7 Agustus 2018)!!! Mumpung masih Agustus-an, sekalian saya ucapkan selamat buat Indonesia yang merayakan Hari Kemerdekaan yang ke-73!!!!

Btw, bayi hingga usia dua tahun juga ikutan merdeka loh, dengan mendapatkan makanan yang paling mereka mau dan paling mereka butuh: air susu ibu. Sesuai dengan tema perayaan tahun ini, “Breastfeeding: Foundation of Life”, proses menyusui ini memang menjadi awal pemberian makanan, kontak, hingga terbentuknya ikatan ibu-bayi sejak pertama kali bayi pindah alam.

Ada yang baru dirilis WHO di tahun 2018 ini, penyempurnaan dari 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui yang selama ini digalakkan walau sulit dijalankan. Ada beberapa sub-poin yang ditambahkan, dan karena nomornya jadi tidak urut lagi (bagi yang sudah hapal langkah sebelumnya), bolehlah kita ulas secara singkat ya.

bfhi-poster-A2-1.jpg

1a. Mematuhi sepenuhnya Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI dan Resolusi Majelis Kesehatan Dunia yang relevan. Ini pelanggaran yang sering terang-terangan dilakukan di Indonesia. Iklan, iklan, iklan dimana-mana. Mulai dari televisi sampai di fasilitas kesehatan sekalipun. Produk pengganti ASI dan sufor untuk anak 1-3 tahun tidak boleh dipromosikan, tidak boleh ada cross-promotion antar produk yang dipromosikan, dan tidak boleh menimbulkan konflik kepentingan dalam sistem layanan kesehatan.

1b. Memiliki kebijakan tertulis terkait pemberian makan bayi yang secara rutin
dikomunikasikan kepada staf fasilitas pelayanan kesehatan dan orang tua. Terkadang ada fasilitas kesehatan yang mengklaim ‘sayang ibu dan bayi’, namun kebijakan masih banci, staf masih tidak mengerti, dan orang tua tidak mendapat penjelasan memadai tentang ASI dan menyusui. Sounds familiar?

1c. Menetapkan sistem pemantauan dan pengelolaan data yang berkelanjutan. Supaya kita tahu adakah perkembangan, kemajuan, tentang situasi terkini pemberian ASI di fasilitas kesehatan tersebut.

2. Memastikan bahwa staf fasilitas pelayanan kesehatan memiliki pengetahuan,
kompetensi, dan keterampilan yang memadai untuk mendukung pemberian ASI. Pelatihan staf mesti dijalankan berkesinambungan, baik untuk menambah pengetahuan maupun untuk penyegaran.

3. Mendiskusikan pentingnya manajemen menyusui dengan ibu hamil dan keluarga
mereka. Nah, edukasi itu lebih efektif dimulai sejak hamil, supaya pascalahiran nggak panik. Edukasi juga mesti dilakukan pada keluarga yang mendampingi pascalahiran, karena dukungan keluarga itu penting sekali untuk keberhasilan menyusui.

4. Memfasilitasi kontak kulit ke kulit dan mendukung ibu untuk mulai menyusui
sesegera mungkin setelah lahir tanpa gangguan. Ini juga dikenal dengan istilah inisiasi menyusui dini. Sejak kapan? Sesegera mungkin. Seberapa lama? Semaksimal mungkin.

5. Mendukung para ibu untuk memulai dan mempertahankan menyusui dan mengatasi kesulitan yang umum. Fasilitas kesehatan hendaknya memiliki konselor menyusui yang dapat membantu ibu mengatasi masalah menyusui.

6. Tidak memberikan bayi yang disusui makanan atau cairan selain ASI, kecuali atas indikasi medis. Indikasi medis bukan karena ASI belum keluar segera setelah bayi lahir ya… Bukan juga karena bayi menangis terus. Bukan juga supaya bayi cepat gemuk.

7. Membuat ibu dan bayinya bisa tetap bersama dan melaksanakan rawat gabung dalam 24 jam per hari. Selama memungkinkan, ibu sehat bayi sehat, why not? Bahkan bila bayi sakit, ibu sebaiknya berada di dekat bayi. Jangan memisahkan ibu dengan bayi dengan alasan supaya ibu bisa beristirahat, karena justru ibu dan bayi beristirahat lebih enak kalau sama-sama, ada hormon oksitosin yang bikin rileks 🙂

8. Mendukung ibu-ibu untuk mengenali dan menanggapi isyarat bayi mereka untuk menyusu. Jangan tunggu nangis, berikan sejak awal muncul tanda bayi lapar.

baby-cues

9. Memberi konseling pada ibu tentang penggunaan dan risiko pemberian botol , dot, dan kempeng. Bingung puting, penurunan produksi ASI, dan infeksi pada bayi karena penggunaan air yang tidak bersih dalam pembuatan sufor atau pencucian dot/ kempeng merupakan risiko yang dapat dialami.

10. Mengupayakan pemulangan sedemikian rupa sehingga orangtua dan bayinya memiliki kesempatan untuk mendapatkan dukungan dan pelayanan yang dibutuhkan tepat waktu. Komunitas yang mendukung menyusui dapat menjadi kelompok penyemangat ibu-ibu menyusui. Kalau di Indonesia, ada AIMI yang menjadi asosiasi resmi dari para ibu pendukung menyusui, dan juga ada kelompok Ayah ASI yang terdiri dari para ayah.

Hmm, mungkin di postingan berikutnya akan saya ulas secara mendetail satu-persatu. Untuk kali ini, sekian dulu ya.

Mari bantu ibu menyusui bayinya dan bayi menyusu ke ibunya!

Tinggalkan komentar

Share via
Copy link
Powered by Social Snap