4 Masalah dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang, tetapi tetap pada sekolah di rumah. Kurva pandemi Covid-19 belum melandai. Seluruh anak sekolah terpaksa menghadap ponsel, tablet atau laptop. Pada tulisan ini, saya ingin memaparkan masalah pembelajaran jarak jauh yang saya alami bersama anak saya. Ini dia 4 masalah utama:

Masalah pembelajaran jarak jauh ke-1: performa media

Saya sebelumnya pernah menuliskan tentang cerita ponsel saya yang bergonta-ganti. Sebelum anak-anak padat dengan pembelajaran daring, belum ada hiruk pikuk pandemi, saya sudah akrab dengan webinar. Sayangnya bukan akrab dengan ilmu baru saja, tapi akrab dengan install-uninstall aplikasi.

Memori saya habis. Tidak bisa pasang aplikasi baru. Memindahkan data berulang-ulang setip kali memori penuh terasa sangat mengganggu. RAM ponsel saya kecil. Ponsel macet, aplikasi error, luar biasa membuat frustrasi.

Laptop saya? Lebih parah lambatnya. Pernah anak saya menangis saat pembelajaran jarak jauh menggunakan laptop. Jangankan mendengar suara guru, masuk kelas daring saja tidak bisa. Ketika diganti memakai ponsel, ternyata bisa lancar jaya.

Memiliki media komunikasi dengan performa yang tidak optimal dapat menambah masalah pembelajaran jarak jauh. Dua anak yang sekolah, butuh dua media. Ponsel suami harus stand by dan tidak boleh diganggu bila sewaktu-waktu ada panggilan ke rumah sakit. Untung saja, suami beberapa mingggu kemarin sempat membeli tablet second. Pada awalnya saya merasa itu kurang penting, tapi saya bilang iya saja. Ternyata benar-benar menjadi barang yang dibutuhkan!

Sebelumnya, anak saya yang SD hanya 2 kali seminggu belajar lewat Google Meet, sementara adiknya yang TK hanya 1-2 kali seminggu dengan hari yang berbeda. Semua masih bisa jalan bergantian, memakai ponsel saya tentunya. Untuk tahun ajaran baru, ternyata pertemuan daring bisa setiap hari. Jamnya bersamaan pula.

Bayangkan, bagaimana caranya bila dalam satu keluarga yang hanya punya 1 ponsel, punya 3 anak yang butuh sekolah daring? Bagaimana seandainya ponsel yang cuma 1 itu dipakai orang tua untuk bekerja? Punya 3 ponsel juga, tapi performanya tidak maksimal, makin membuat stress. Apalagi cuma 1?

Masalah pembelajaran jarak jauh ke-2: baterai

Saya memastikan semua baterai ponsel dan tablet terisi penuh. Mulai dari pukul setengah delapan dipakai, pukul sepuluh sudah tinggal 55%. Pukul 11 kegiatan pembelajaran hari pertama berakhir, ponsel saya menyisakan baterai 41%. Beberapa murid terpaksa keluar sebelum waktunya karena kehabisan baterai. Ada yang bertahan terus ikut sambil mengisi daya. Wah, demam nggak kira-kira ponselnya? Pengalaman saya, kalau video call sambil mengisi daya, suhu ponsel tinggi sekali.

Bila lupa mengisi daya pada malam harinya, ponsel yang memiliki kemampuan fast charging tentunya tidak butuh waktu lama untuk mengisi daya pada pagi hari sebelum sekolah. Pengalaman dengan ponsel sebelumnya yang tidak mendukung pengisian daya cepat, membuat kegiatan saya terhambat.

Tidak hanya baterai ponsel, baterai anak yang sekolah daring juga cepat sekali habisnya. Saat belajar di sekolah, suasana begitu dinamis. Melihat berbagai wajah dan mendengar suara guru, suara teman, suara lingkungan. Berlari, berjalan, melompat, semua anggota tubuh bergerak. Ada waktu istirahat main, mencium aroma bekal teman dan mencicipi bekal sendiri, segala indera terlibat.

Saat pembelajaran jarak jauh, sebenarnya juga ada waktu istirahat. Namun anak begitu tegang menunggu kode masuk Google Meet, beranjak untuk minum saja takut. Semua indera dikerahkan, tapi diluar batas kalau saya boleh bilang. Harus fokus pada layar yang membuat mata lelah luar biasa. Fokus pada wajah pengajar saja, tidak sempat (atau lebih tepatnya takut) untuk mengganti layar utama yang disematkan. Pulang sekolah konvensional memang capek, tapi pulangnya segar. Sekolah daring capeknya bikin mengantuk.

Korban daring 🤣

Masalah pembelajaran jarak jauh ke-3: internet


Sebelumnya, saya menggunakan paket internet dari ponsel yang dipakai bersama untuk laptop. Cepat sekali kuota habis. Beli lagi paket internet yang kadang-kadang tidak optimal penggunaannya. Bagaimana bisa optimal, paket isinya lebih banyak untuk kota nonton streaming yang tidak pernah kami pakai. Rugi rasanya.

Kehabisan kuota saat sedang kegiatan daring itu sungguh mengenaskan. Belum lagi, sinyal yang entah mengapa bisa hilang-hilangan. Akhirnya suami memutuskan langganan bulanan untuk wifi MR untuk seluruh anggota keluarga di rumah, unlimited. Waw, sekarang malah jadi betah di rumah, sinyal stabil dan kuota macam tidak pernah habis.

Di sisi lain, saya jadi kepikiran, bagaimana seandainya anak sekolah di daerah yang minim sinyal, atau malah tidak punya biaya untuk membeli kuota. Hal ini yang membuat saya akhirnya maklum ada beberapa sekolah yang menyelenggarakan sekolah tatap muka. Dilema memang, tapi saya juga bingung solusinya bagaimana, hiks.

Masalah pembelajaran jarak jauh ke-4: pendamping

“Bu guru, anak saya ditemani oleh ibu saya belajarnya dari rumah. Apa boleh saya ikut dalam Google Meet dari kantor?”

sebuah pertanyaan dari wali murid

Pada satu sisi menurunkan tingkat profesionalitas di kantor, namun di sisi lain itu mungkin satu-satunya solusi. Namanya juga keadaan krisis, mesti maklum dengan berbagai target yang tidak tercapai. Ibu saya tidak tinggal bersama saya, sehingga dukungan teknis semacam ini tidak saya punyai.

Bicara tentang pendamping seorang nenek, tentunya luar biasa bila beliau bisa mengikuti pola pembelajaran daring dengan ponsel pintar. Tidak semua nenek mau dan bisa mempelajarinya. Sudah terbayang, bukan, kualitas seorang nenek macam apa yang harus saya miliki di masa depan? Jauh lebih dahsyat!

Tentang target, jujur saja, saya tidak bisa mengerjakan urusan kantor saat jam sekolah anak. Saya harus siap sebagai pendukung bila sewaktu-waktu ada masalah dalam pembelajaran jarak jauh yang dijalani anak saya. Imbasnya, jam kerja saya sudah tidak karuan lagi. Mulai siang, sampai malam rasanya tidak selesai-selesai. Sampai sekarang saya memang memilih kerja dari rumah. Daring sepenuhnya, seluruh medsos dimaksimalkan.

Tidak sempat masak lagi, masih bisa beli. Tapi kalau urusannya tiga anak, tidak ada pengganti. Hari ini berjalan baik karena ada suami saya yang membantu. Saya tidak dapat membayangkan esok lusa, saat beliau dalam jadwal jaga. Apakah saya bakal kewalahan? Mumet.

Pembelajaran jarak jauh, bisa diteruskan?

Dalam konteks anak SD ke bawah, saya tidak yakin model pembelajaran ini bisa bertahan. Apalagi anak TK, yang memang waktunya bergerak dan bermain. Hal yang membuat galau, bukankah anak-anak dibatasi waktunya untuk menatap layar?

Anak saya kaku luar biasa pada waktu awal pembelajaran daring. Sebelumnya memang tidak lancar pegang laptop dan tidak dipinjamkan ponsel, kecuali untuk foto-foto. Pada masa libur, suami menyuruh anak-anak memelihara Pou, sebuah aplikasi di android yang dimainkan dalam waktu terbatas. Ternyata, keterampilan pencet-geser layar lumayan membantu pembelajaran mereka hari ini. Apalagi untuk anak saya yang TK, lagaknya sudah macam pemain DJ, hahaha.

Bagi anak SD ke bawah, pembelajaran jarak jauh menurut saya kurang efektif. Setingkat mahasiswa yang student center saja tidak menikmati model pembelajaran ini bila diterapkan secara total. E-learning di universitas dulu hanya maksimal 30% dari mata kuliah. Apalagi anak SD dan TK, seharusnya mungkin tidak ada. Tapi apa boleh buat, namanya krisis. Masih untung krisisnya bukan karena perang,sekolah daring cuma mimpi.

Pembaca artikel ini bisa saja punya 3 pendapat: sepakat, menihilkan, atau malah insecure. Ya, memang kemampuan tiap orang berbeda, juga prioritas. Seperti yang saya katakan sebelumnya, bye bye target tercapai tepat waktu! Namun rasanya tidak bisa seperti ini terus. Kesenjangan nampaknya sangat besar. Ini bukan lagi masalah subsidi seragam dan buku, tapi subsidi media elektronik dan internet, juga penyediaan akses internet ke seluruh pelosok!

Beda rumah, beda masalah

Masalah saya bisa jadi tidak menjadi masalah bagi orang lain. Ada yang curhatnya hanya seputar suara guru yang putus-putus karena justru sinyal di sekolah yang kurang baik. Atau tentang kejengkelannya karena anak SD atau TK lainnya tidak bisa mengatur muted/unmuted mikrofon. Sementara fasilitas lain yang dipunyai sudah mumpuni.

Ada yang sejak awal sudah tidak bisa menemui segala masalah sinyal. Jangankan sinyal, ponselnya saja tidak ada. Jangankan ponsel, uang untuk membeli makanan saja terbatas. Atau jangan-jangan untuk membayar biaya sekolah saja sudah bingung berhutang dari mana.

Saya tidak tahu lagi solusi untuk masalah sistemik di negara ini. Hanya bisa berdo’a saja, dasar saya si makhluk lemah. Saya serahkan kepada para wakil rakyat dan pemerintah untuk memikirkannya. Memikirkan pembelajaran anak saya tiap harinya saja, saya sudah ruwet. Eh, tapi jangan-jangan mereka juga sama ruwetnya dengan saya. Ya sudah, mari kita bertahan dengan apa yang ada. True normal, kami menunggumu!

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020

20 pemikiran pada “4 Masalah dalam Pembelajaran Jarak Jauh”

  1. Sama, kak. Belakangan ini internet di rumah sangat enggak bersahabat. Beberapa hari malah saat zoom, video tersendat dan suaranya putus-putus. Padahal saat sedang mendengarkan materi sehingga enggak maksimal nangkepnya. Sedih juga jadinya.

    Balas
  2. Beratnya pembelajaran daring itu cuma satu, yakni tidak adanya transfer keteladanan dari guru ke murid.
    Kalau sekadar transfer knowledge, rasanya ortu atau bahkan si anak sendiri bisa mencarinya di internet. Tapi ya gimana ya, orang lagi pandemi hihi

    Balas
    • Nah… ini yang menjadi pemikiran saya. Kadang gimana gitu ya, sama-sama belajar di rumah kenapa tidak homeschooling saja karena tidak pernah ketemu guru. Tidak ada transfer keteladanan. Yang satu ini harus dilihat utuh, dirasa nyata.

      Balas
  3. Pendidikan jarak jauh memang masih banyak hambatannya tapi itu jalan terbaik agar anak-anak tetap belajar selama di rumah. Tapi kadang sedih yang di daerah susah sinyal ataupun belum ada sarana penunjang. tapi tidak memungkinkan juga anak-anak untuk kembali ke sekolah untuk saat ini.

    Balas
  4. Kekurangan belajar daring dari TK hingga mahasiswa itu yaa, engga ketemu orang langsung. Enggak lihat ekspresi, apalagi ekspresi mikro. Boro-boro bahasa tersurat. Ada gemesnya kalau sinyal kurang lancar dan suara terputus. Bener nih, pengen kayak dulu lagi…Semoga pandemi segera berlalu…

    Balas
  5. Belajar daring memang semestinya anak-anak didampingi ya mba. Tidak perlu oleh orang tua namun siapa saja yang paham akan teknologi. Saya kok baca tulisan mba jadi kasihan jika membayangkan ada murid yg merasa tegang takut tidak bisa connect ke kelas daringnya lantaran tidak ada yg mendampingi. Tujuan anak bersekolah di sekolah (bukan daring) kan agar anak dititipkan oleh guru juga untuk bisa diajarkan mata pelajaran, selain bisa bersosialisasi dengan teman.

    Balas
  6. Tulisan Kakak keren. Dalem banget. Mengakomodir semua bagian yang menjadi kendala dalam pembelajaran jarak jauh. Semoga tetap sehat dan semangat, ktia sama-sama berdoa semua kembali menjadi normal yang sesungguhnya aamiin

    Balas
  7. Terbukti teknologi bagai dua sisi mata uang ya mba.. bisa membuat sesuatu menjadi cepat tapi ada minysny jg..sy setuju level apapun yg nmanya pendidikan tdk bisa sepenuhnya daring karena kita manusia yg butuh interaksi secara langsung..makanya Tuhan menciptakn wajah dengan aneka ekspresi gunanya ya spya bisa bertatap muka secara langsung, membaca mimik wajah, belajar empati dan bisa menempatkan diri..semoga situasi menjadi lbh baik buat semua ..

    Balas
  8. Ada plus minusnya belajar secara daring, di saat pandemi seperti sekarang pembelajaran daring bisa meminimalisir penyebaran virus tetapi minusnya selayaknya yang namanya pendidikan itu harus ada interaksi langsung antara pendidik dan peserta didik supaya transfer ilmu berlangsung secara maksimal. Tetapi anak-anak yang belajar secara daring masih lebih beruntung, ada sekolah (SMP) tidak ada pembelajaran daring (tidak ada interaksi lewat media sosial) tetapi guru hanya memberikan tugas dan dikumpulkan tanpa penjelasan apapun dari guru

    Balas
  9. Sama sih mbak. adik bungsu yuni yang masih SMP itu sudah mulai sekolah daring. Kurang lebih masalahnya sih sama. Ya ponsel atau laptop, jaringan inet, paket data dan sebagainya.

    Hanya berharap pandemi segera berakhir sehingga adek-adek bisa kembali masuk sekulah. HEhehehe

    Balas
  10. Menurut saya memang kompleks banget sih yaa mbak permasalahan pembelajaran daring ini. Karena beda rumah beda masalah. Beda kota, beda pulau pun beda pelaksanaan nya. Ya mau i gimana… Semoga pandemi segera berakhir

    Balas
  11. Semoga yang terbaik buat anak2 kita ya untuk pembelajaran jarak jauh. Setidaknya menghindari sklh tatap muka krn blm aman.

    Balas
  12. Nah, ini sama persis dengan kondisi yang saya alami. Anak saya 4 jadwal daring bersamaan. Awal pandemi kami hanya punya 1 PC, 1 notebook, dan 1 HP saya sebagai alat daring utama. Alhamdulillah lancar. Karena jadwal tidak bersamaan. Nah, semester ini mulai goyah! Jadwal barengan, mbak. Lalu nambah beli laptop second harga 2.2 juta. Kalau baru bisa 4 juta lebih. Hari ke 3 makin kacau, karena durasi belajar untuk 3 anak cukup lama. Jadi nggak bisa gantian. Akhirnya nambah lagi beli laptop seken (lagi). Buat kami menggunakan laptop bekas aja udah luar biasa, semoga teman2 yang di luar sana mendapat kemudahan dalam mendapatkan hak belajar. Tapi yang justru lebih penting adalah pendampingan selama belajar di rumah. Di sekolah kalau ada kalimat yg nggak dipahami bisa langsung tanya guru, kalau di rumah? Ah… Kalau mau ditulis bisa jadi artikel ini komentarnya bisa dipakai tukeran backlink deh, haha

    Balas

Tinggalkan komentar

Share via
Copy link
Powered by Social Snap