Mengapa Dokter (Harus) Menikah dengan Dokter?

Dokter menikah dengan dokter juga. Sebagian orang-orang di luar sana, herannya punya keyakinan seperti itu. Tidak heran, kalau ada undangan pernikahan yang salah satu pengantinnya adalah dokter, pertanyaan lanjutannya adalah, “pasangannya dokter juga kan?” Bukannya menyiapkan kado buat pengantin yang berbahagia, malah sibuk cari tahu.

Wah, kok bukan sama dokter, sih?

Calon menantu favorit?

Profesi dokter itu salah satu pilihan favorit untuk jadi menantu. Setidaknya, itu yang saya dengar dari perbincangan orang- orang. Saya bilang salah satu, karena sebenarnya banyak juga profesi lain yang diidamkan untuk dijadikan menantu. Bahkan ada yang memberi syarat, menantunya boleh profesi apapun asal ASN. Ada juga yang tidak masalah bukan ASN asal punya usaha sendiri. Masih terbuka peluangnya teman-teman!

Kalau saya coba tanya lebih jauh, ada beberapa alasan orang-orang yang memimpikan bisa menikah dengan dokter. Tapi benarkah kenyataannya sesuai harapan? Bisa iya bisa tidak. Pembahasan saya di bawah ini merujuk kepada dokter yang benar berprofesi sebagai dokter, bukan hanya gelar, ya!

Dokter itu kaya

Tunggu dulu. Saya tidak mau mengecewakan pembaca. Meskipun terlihat demikian, tapi mohon maaf, bisa dibaca dulu tentang kenapa harus jadi dokter, agar pikiran lebih terbuka. Banyak faktornya, menjadi dokter tidak otomatis kaya. Bahkan ada teman saya yang bilang, ‘profesi dokter itu, enak disebut tapi nggak enak dimakan’. Lalu bagaimana dengan dokter spesialis? Lebih banyak duit? Hehehe, belum tentu.

baca juga: dokter umum vs dokter spesialis

Menikah dengan dokter, punya dokter pribadi

Buang jauh-jauh keinginan untuk mempekerjakan dokter tanpa upah dengan cara menjadikannya pasangan. Jangan-jangan, kesibukannya bekerja sebagai dokter malah membuatnya tidak sempat cuti. Tidak sempat mengurus keluarganya sendiri.

Menikah dengan dokter menaikkan status

Sudah bukan zamannya. Dulu, dokter itu kalau ada acara selalu dikasih duduk di depan. Ada acara resepsi? Dokter diminta sumbangan lagu. Kalau sekarang? Menikah sama wakil rakyat saja, dijamin naik status sosial. Bener apa betul?

Semua manusia itu setara. Tapi, kenyataannya, ada juga yang merasa rugi kalau tidak menikah (-kan anaknya) dengan sesama dokter.

Sekolah dokter itu mahal. Sekolahnya lama. Masa menikah sama yang cuma ….

Alasan dokter menikah dengan dokter

Dokter harus cari (pasangan) yang dokter juga ya?
Nggak, ah!
Tapi, buktinya kamu … ?

Iya, iya, saya menikah dengan dokter juga. Tetapi tidak diniatkan sebelumnya, sudah jalannya saja. Nah, kalau tadi alasan dari orang yang mengidamkan menikah dengan dokter (yang kebanyakan tidak sampai), sekarang saya mau bahas kenapa dokter menikah dengan dokter juga.

Ssttttt, saya kasih tau ya alasannya: cinta.

Lho, kalau begitu nggak harus sama dokter juga kan ya, bisa sama profesi lain? Ya, emang!
Tapi kenapa bisa timbul cinta sesama dokter, setidaknya ada dua jalur yang dominan dilewati.

Sering ketemu timbul cinta

Ini pengalaman saya, sekolah kedokteran dulu enam tahun. Ketemu loe lagi, loe lagi. Kegiatan akademisnya juga padat, lebih banyak waktu di kampus daripada sama keluarga. Soalnya kalau sampai rumah ya tidur.


Dalam waktu enam tahun, sudah tahu baik-buruk sifatnya. Apalagi kalau pernah jadi panitia bersama di satu kegiatan, lebih paham sifatnya bagaimana. Jadi mungkin sudah merasa nyaman aja.

Saya pernah dimarah-marahin orang yang baru mau kenalan karena saya selalu tidak bisa bertemu. Emang sibuk ya mau bagaimana, jilbab aja miring-miring nggak sempat ngaca. Saya dituduh cari-cari alasan saja. Waduh, baru mau kenalan saja sudah menyebalkan.

Atau bisa jadi memang tidak sempat bertemu yang lain? Ah, itu dulu. Masa ponsel masih monokrom dan nada dering belum polifonik. Sekarang medsos sudah banyak, bisa cari dari kalangan mana saja.

Dijodohkan dengan sesama dokter

Nah, untuk urusan ini, orang tua, om-tante, nenek-kakek, keluarga jauh, bahkan tetangga bisa saja terlibat. Punya kenalan yang anaknya dokter, kenapa tidak dijodohkan saja sama keponakan kita yang juga dokter? Keluarga sudah saling kenal sebelumnya, prosesnya bisa lebih lancar. Banyak dukungan, banyak referensi positif, membuat makin yakin.

Punya keluarga besar dokter itu sangat membantu dalam penerimaan keluarga baru, karena saling memahami profesi. Tidak akan diributkan kalau keluar malam, saat jadwal jaga malam. Tidak akan dinyinyiri kalau tidak ahli membuatkan kopi mertua. Pulang jaga selonjoran juga orang rumah tidak masalah.

Pengalaman saya sama suami, malah bisa saling baca pikiran. Pakai mata saja sudah ngerti. Obrolan malamnya diskusi kasus pasien. Hahahah, mana romantisnya. Tapi, alhamdulillah manis-manis saja.

Saya pernah bertanya pada sekelompok mahasiswa/i zaman sekarang, tentang nanti mau menikah dengan dokter juga atau tidak. Laki-laki ragu menjawab. Perempuannya seragam bilang tidak. Ternyata mereka lebih naksir anak teknik, lebih macho katanya. Buat yang baru tamat, mending baca dulu, mau dibawa kemana nasibmu setelah tamat.

Masa kejayaan berubah. Jadi, jangan putus asa dulu, wahai anak fakultas lain. Dan untuk mahasiswa FK yang masih buluk saat kuliah, saat kamu tamat, kamu bakal jadi cling! Tenang, masih banyak peluang!

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020

52 pemikiran pada “Mengapa Dokter (Harus) Menikah dengan Dokter?”

  1. Hahahah di kampus saya dulu pun anak teknik itu laris manis yaa suka diincer cewe-cewe dari berbagai jurusan. Ya salah satunya itu, imagenya macooo banget.

    Apa iya ya kalangan dokter ada hal kaya gitu, wah wah makin ekslusif banget ya harus nikah sesama dokter, padahal kan yang menikah ga sama dokter bisa beda lagi ya mb anggapannya. Biar suasana beda apalah gitu-gitu ehehhehehe sehat-sehat mb sama dokter cintanya semoga ga ada kata bosen dan terus bahagia aamiin

    Balas
  2. Kalau menurut pandangan datarnya, mereka yang bisa membedah lautan juga harus berpasangan dengan yang bisa membedah lautan. Eh tapi gak gitu juga sih menurut saya. Jaman sekarang gitu. Kalau menurut islam, jodoh itu cerminan diri kita sendiri.

    Balas
  3. Saya sangat setuju kalo dokter menikah dengan sesama dokter juga. Ya tentunya karena lebih bisa saling memahami dalam semua hal. Saya orang kantoran nikah dengan orang wiraswasta, sering ga nyambung jamnya. Sabtu-Minggu saya pengin selonjoran, dianya ngajak fokus ke bisnis mumpung bisa dikerjakan berdua hahahaha.. So, paling aman dan nyaman ya nikah dengan yang seprofesi.

    Balas
  4. Dokter emang eklusif sih
    Memang sih ada yg dokter dpat pns dpt banker dapat polisi, tp dokter dapat dokter emang kemungkinannya besar spt alasan2 td, cinta karena ruang lingkupnya hehe

    Balas
  5. Karena saya alumnus Fakultas Kehutanan, kami mengenal istilah in-breeding atau pernikahan (perkawinan, pada hewan) dengan hubungan kekerabatan yang masih dekat. Jadi, fenomena ini emang sering terjadi. Gak cuma dokter nikahnya sama dokter, tapi juga teman sekelas saya pun banyak yang jadi pasangan. Banyak banget. Hihihi. Anak IPB nikahnya sama lulusan IPB juga. UI sama UI, ITB sama ITB. Ya karena sudah terbiasa satu sama lain.

    Balas
  6. Kalau pepatah jawa bilangnya tresno jalaran saka kulino (cinta datang karena terbiasa). Menurut saya sah-sah saja kalau dokter juga menikah dengan dokter, karena selain ketemu setiap hari pasti juga bisa saling memahami. Terbukti dari tulisan mbak ini, tapi yang bikin saya tergelitik itu saat kalimat mbak “Pakai mata saja sudah ngerti.” saya jadi bayangin realnya kayak gimana, jadi gemess hahaha

    Balas
    • Saya baru sadar lho ada yang berfikiran, ‘dokter itu harus nikah sama dokter.’ Setelah saya ingat2, emang banyak sih contoh kejadian di masyarakat. Eh, jadi ingat ternyata semua tetangga saya yang berprofesi dokter dan belum lama ini nikah, pasangannya juga dokter!

      Balas
  7. Kalau pertanyaannya seperti yang ada di judulnya. mengapa dokter harus menikah dengan dokter. maka jawabanku adalah agar anaknya juga bisa jadi dokter. wkwkwkwk… gitu gak sih. tapi yg namanya cinta gak ada yang salah. kalau sudah jodoh mau gimana lagi. iya gak?

    Balas
  8. Kebetulan sepupu saya dokter tapi ketemu jodohnya polisi… yang ada ngikut terus kemana tugas suami.. untungnya dia dokter…kerja dimana aja mudah… itu enaknya punya pasangan dokter (katanya)

    Balas
  9. Jadi ingat waktu tinggal di Amerika, jaman itu masih musim koran cetak. Nanti ada iklan pengumuman penikahan, dokter dengan dokter dan mereka rata-rata orang Asia (India tepatnya)

    Nah, sampai ada lelucon di sana, maklum mereka mau buka klinik bersama, buka mau berumah tangga,

    Bahkan di biro jodoh – masih versi cetak juga, (etnis Asia) biasa menyebutkan, dia MD (Medical Doctor), looking for MD ..Hmmm

    Tapi beberapa kerabatku perempuan di sini suaminya bukan dokter hihihi

    Balas
  10. Teman-teman saya yang dokter juga pada nikah dengan dokter, tapi ada sepupu perempuan saya dokter tapi menikah dengan pegawai bank syariah. Hebatnya lagi, suaminya mendukungnya secara moril dan materil hingga bisa menyelesaikan pendidikan spesialis mata. Intinya, itu kembali kepada pribadi sih ya Mbak. Kalau urusan keluarga yang gak mau “rugi” atau gimana, memang harus dilobi dari jauh-jauh hari.

    Balas
  11. Jangankan profesi dokter nikah dengan dokter, ada juga kan daerah A harus nikah sama daerah A juga suka gitu kan kak, semuanya kan diatur sama yang maha pengatur jodoh ya, tapi kalau kata ustad kita harus nikah sama yang sekufu.

    Balas
  12. Menurut saya sih tresno jalaran soko kulino. Yah, karena si dokter acapkali ketemu di kuliah atau tempat kerja itu yang bisa memunculkan rasa cinta. Seperti halnya guru yang ketemu jodoh guru pula. Namun, ini nggak mutlak sih. hehe

    Balas
  13. Stigma itu benar adanya. “Ina kamu kuliaj di kedokteran aja” seolah kuliah di sana menaikkan harkat derajat martabat.

    Aku baru tau mbak amel seorang dokter, jadi suaminya dokter jg yaa.

    Balas
  14. Keumuman cari pasangan itu biasanya mencari yang satu frekuensi. Jadi kalo pas diajak ngobrol, enak aja dan nyambung, juga banyak bahan pembicaraan, banyak bahan yang didiskusikan. Itulah mengapa banyak yang menikah dengan rekan satu profesi. Termasuk dokter yang menikah sama dokter.
    Kalo urusannya sama keluarga yang mensyaratkan untung-rugi, meski buat saya gak sependapat, ya itu umum juga sih. Ada yang patuh sama aturan tersebut, tapi gak sedikit juga yang berhasil melobinya.
    Buat saya menikah itu lebih kepada faktor jodoh. Kalo udah jodoh ya mau kemana, tapi kalo gak kemana-mana ya gimana mau berjodoh. Eh, lah kok?

    Balas
  15. Hahaha, menarik nih temanya Kak Amel. Saya jadi teringat drama korea Romantic Doctor deh. sesama dokter yang saling naksir atau suami istri juga dokter. Pasti seru ya kalau yang diobrolin tentang pasien, justru disitulah letak romantisnya *soktahu hehehe

    Balas
  16. Hahaha…benar juga nih
    Kebanyakan memang terjadi di masyarakat. Namun ada juga dokter menikah bukan dengan dokter. Tergantung jodoh juga sih. Orang tua harus legowo aja deh terima calon menantunya. Jangan harus ini, harus itu, yang penting bertanggung jawab.

    Balas
  17. hihi saya anak teknik tapi saya gak macho mba, wkwkwkwk. lucu ya. tapi emang saya punya saudara adik kakak dokter. mereka nikah juga sama dokter, hihi. mungkin itu tadi kali ya gak level kalo gak nikah sama dokter. tapi who knows sih, emang jodohnya juga kali ya sama dokter. untuk saya nikah sama anak pajak enggak sama anak teknik juga *eh kok malah curhat haha

    Balas
  18. Ada benernya juga. Mungkin kebetulan juga. Kakak saya suami-istri dokter. Teman juga ada. Yang kuliah bertahun ketemu elo lagi, setuju juga. Kami dr arsitektur, sekelas, ada 6 orang yg berjodoh. Mungkin di studio gambar bareng, ke lapangan bareng. Kami ledekin insest. Hehe…

    Balas
  19. Yuni pingin punya jodoh dokter yang anak pecinta alam. Tapi itu tadi, suka itu kudu ketemu dulu.

    Lha, Yuni ketemu dokternya dimana? Kadang kalau sakit juga nggak mau gampang nyambangi dokter kok.

    Hehehe…

    Bener-bener. Witing tresno jalaran soko kulino. Ihir…

    Balas
  20. Wkwkwkwk keknya urusan ‘temen makan temen’ spt ini bukan cuma profesi dokter deh mba. Polisi ama polisi, tentara ama tentara .. model ama model jugak banyak hehehe.. emang bener ketemunya lo lagi lo lagi ya jadiannya ama elo deh ..

    Eniwe.. meski begitu tetep yang namanya cinta jadi alasan utama ya mba. Semoga samawa selalu…

    Balas
  21. meskipun kenyataannya nggak semua menikah dengan dokter, tetapi memilikipasangan yang seprofesi itu peluangnya terbuka lebar. sering ketemu, sering berinteraksi dan jadi ngerti plus minus pasangan, jadi banyakan bisa kliknya kan? diantara teman-teman saya yang profesinya dokter sementara ini 50% menikah dengan sesama dokter. nggak tahu sih di luaran sana, data di saya cuma sesempit batas pertemanan saya aja, hehe

    Balas
  22. Halo Mba, hehe. Tergelitik baca tulisannya karena almost related, eh ga dink. Saya ga dokter, tapi suami. Kalo suami dari dulu katanya memang mau cari istri yang ga dokter. Tapi saya? Walah, ga pernah kepikiran dapat dokter sama sekali. Bahkan sudah 5 tahun nikah masih mempertanyakan “Kamu ga salah nikah sama aku? Ga nyesel?”, hahaha . Aneh, yang minder malah aku.

    Balas
  23. Hallo mb Amel salam kenal ya Dokter Blogger hehe, sebenarnya sama sih ya ketika kita melihat teman sefakultas menikah dgn teman angkatannya seperti beberapa pasang dr fakultas saya. Karene intensitas ketemuan itu yg bikin jatuh cinta antara mahasiswa vs mahasiswi.

    Alhamdulilah bisa dapat pasangan sesama dokter yg seprofesi ya mbak, minimal bisa mengerti dunia kerja satu sama lain. Kami emang bukan keluarga besar dokter tapi rupanya doa Ibu ku manjur karena pengen anak sulungnya yg perwira AD menikah dgn dokter umum dan anaknya yg bungsu drg menikah dgn Perwira AD juga xixi. Seneng aja katanya

    Balas
  24. hahaha… perkenalkan, saya anak teknik yang menikah dengan anak non teknik.

    Iya sih, kalau di kampungku dokter itu rata-rata memang lebih berada dibanding warga lain, jadi ya nggak salah juga kalau akhirnya banyak yang bilang jadi dokter itu pasti kaya

    Balas
  25. Tenyata dapat calon dokter itu bukan harus kaya dokternya, tapi hatinya dan pikirannya kaya dan sering menolong orang yg susah dan appalagi ada pasien yang tidak mampu bayar namun dokter itu menggratiskan biayannya ini patut di contohi

    Balas
  26. wow tapi benern juga loh.. mayoritas teman atau kenalan saya yang dokter, pasangannya dokter juga… dan mereka memang (terlihat) kaya sih, hihihi
    Sebenarnya nggak cuma dokter, pasangan dengan satu profesi pasti bisa saling mengerti dan bisa lebih saling menghargai (tapi memang tidak bisa digeneralisasi)

    Balas

Tinggalkan komentar

Share via
Copy link
Powered by Social Snap