Mengelola Sampah Rumah Tangga saat Physical Distancing

Mengisi waktu #dirumahaja, Alhamdulillah, saya sempat ikut webinar tentang Mandiri Mengelola Sampah Rumah Tangga saat Physical Distancing yang narasumbernya mbak DK Wardhani. Mbak dini panggilannya, seorang praktisi lingkungan, yang sudah tahun ke-6 tidak buang sampah lagi ke TPA. Wow banget, kan!

Masalah sampah di Indonesia

Setiap harinya, diperkirakan sebanyak minimal 0,5 kg sampah dihasilkan tiap orang. Separuhnya berjenis sampah organik, dan yang paling besar proporsinya adalah sampah rumah tangga. Sampah yang diangkut dari rumah, pada akhirnya akan berakhir di landfill atau open dumping, kecuali ada tempat pengolahan khusus lainnya di kawasan tersebut.

landfill: sampah dikubur; open dumping: sampah ditumpuk di alam terbuka

Masalah utama paling cepat dirasakan dari sampah adalah bau tidak sedap dan rusaknya pemandangan. Ketika ada sampah di dalam rumah, apalagi yang berbentuk organik, rasanya ingin cepat-cepat menyingkirkannya ke luar rumah. Itu baru dampak dalam skala kecil.

Kalau bentuknya sampah anorganik seperti plastik, bisa lebih ngeri lagi. Bila termakan satwa laut, dan manusia memakan hasil laut yang telah tercemar plastik, mikroplastik dapat ditemukan di feses manusia!

contoh sampah organik: daun-daunan, rumput, buah-buahan, sayuran, ranting/kayu, sisa makanan.

contoh sampah anorganik: kain, semua benda berbahan plastik (tali, botol, piring), paku, kaca, kaleng, styrofoam, busa.

Dampak dari sampah ini sangat kompleks. Pencemaran air dan tanah yang terjadi akibat sampah dapat mengganggu pertanian. Gangguan kesehatan juga dapat terjadi, baik pada manusia maupun hewan. Masalah sosial yang timbul pada masyarakat di sekitar tempat pembuangan sampah juga menjadi hal yang dapat timbul. Kita tentu pernah mendengar berita longsor di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang menelan korban jiwa.

Belum lagi efek jangka panjang dari sampah bahkan bisa sampai mengganggu iklim. Dan semua masalah itu, harus diatasi dan tentu akan memakan biaya besar bagi negara bila semua rumah tangga tidak berusaha mengelola sampahnya sendiri.

Smapah rumah tangga
biopori untuk sampah organik

Sampah rumah tangga saat physical distancing

Saya biasanya lebih sering memasak sendiri. Kalaupun makan di luar, saya lebih suka makan di tempat daripada dibawa pulang. Namun, saat physical distancing seperti sekarang, meskipun jaga jarak ketika di pasar, tapi kok saya kecapekan juga karena berbarengan dengan bulan puasa. Anak-anak tetap makan tiga kali sehari, apalagi Si Bungsu yang super aktif benar-benar menghabiskan energi. Maka saya berdamai dengan diri saya, untuk berlangganan katering untuk berbuka.

Masalah timbul, karena membeli makanan dari luar menimbulkan sampah baru, yaitu bertambahanya sampah plastik. Wadah plastik, yang merupakan wadah sekali pakai, meskipun dinilai lebih murah tapi sebenarnya lebih mahal dampaknya. Maka saya mencari tempat katering makanan yang bersedia ‘tukar wadah’, alhamdulillah saya mendapatkannya di Katering Tiga Saudara.

Strategi minim sampah rumah tangga

Pakai wadah yang sudah ada di rumah, jangan terjebak konsumerisme baru. Masih banyak wadah plastik di rumah, saya gunakan saja. Kurangi plastik, bukan berarti anti plastik. Jangan sampai karena anti plastik, semua plastik yang ada di rumah tidak digunakan lagi tidak dibuang sembarangan. Tidak perlu mengganti barang-barang untuk menjadi eksis sebagai pelaku zero waste. Tirulah filosofinya.

Beraksi sekarang juga. Panggilan untuk hidup minim sampah telah hadir bila telah ada keresahan melihat sampah sisa konsumsi di depan mata. Lakukan aksi sesegera mungkin. Meski belum sempurna, lakukan saja, kita toh terus berproses. Pisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah organik jadikan kompos, masukkan ke biopori. Sampah anorganik jadikan eco brick, atau daur ulang sebisa mungkin.

Tantangan yang agak sulit adalah edukasi anggota keluarga. Anak-anak ternyata masih lebih mudah mengerti, namun anggota keluarga yang sepuh akan lebih sulit menerima. Untuk anak-anak, kita bisa memberikan teladan yang baik sehingga anak-anak akan memahami.

Meski berat, saya yakin kita bisa. Pelan-pelan saja, yang penting konsisten. Setuju?

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020

51 pemikiran pada “Mengelola Sampah Rumah Tangga saat Physical Distancing”

  1. Beruntung sekarang ini diberlakukan kembali pelarangan menggunakan kantong plastik ketika berbelanja.. semoga konsisten… tinggal PR berikutnya mengedukasi untuk menggunakan BIOPORI

    Balas
  2. Setuju bunda. Yang paling susah memang mengedukasi yang tua karena sudah selalu beranggapan yang pling benar dan yang muda sok hahaha dan yang paling enak, ngajarin si kecil manut terus solnya

    Balas
  3. Di rumah masih maju mundur ini masalah sampah. Dulu pas tinggal di bogor seneng bgt punya lahan bisa buat lahan kompos biopori dll. Skrg tgl di pemukiman jakarta ga punya lahan berkebun hiks. Tanamanpun berkumpul di pot. Solusinya gmn yaa…bikin komposter aku takut belatungan ya mbak klo ga punya tamah banyak

    Balas
    • Bisa coba pharmaculture mba. Menanam tanpa media tanah. Sekarang papa saya sudah mencoba di rumah di Bekasi. Lahan sempit. Alhamdulillah si mama udah panen kangkung, panen sereh, panen daun keruku, banyak lagi.

      Soal sampah di ruang sempit itu biasanya ditaruh komposter di depan rumah mba. Tapi emang sih harus beli tong yang bagus, biar ulatnya gak kemana2. Hehehe

      Balas
  4. Keren ya Bun udah mulai mengurangi sampah dan memilah yg organik dan anorganik.
    Tantangan banget sih kadang kalo belanja di luar, ada tempat yg gak boleh bawa wadah sendiri, alhasil sampahnya jadi numpuk.

    Kadang juga kalo ke minimarket lupa bawa tas belanja, ujung2nya tetap pake plastik sekali pake. Huhu

    Balas
  5. Sampah memang masih masalah besar buat masyarakat kita, didukung oleh susahnya diberi edukasi, contohnya saja, sudah banyak tempat sampah yang disediakan di tempat umum dengan kriteria organik, anorganik, dan lain2, masih saja membuang sampah pada satu wadah yang sama, dan yang paling menyakitkan hati, tong sampah sudah ada tetapi masih buang sembarangan

    Balas
  6. Malah banyak orang tua yang sengaja minta kantong plastik saat berbelanja di pasar, katanya untuk tempat sampah.
    Lah sampah untuk sampah…
    Semoga makin banyak orang yang menyadari pentingnya mengelola sampah dengan baik

    Balas
  7. Apalagi sampah di asal kota saya mbak. Kebetulan rumah saya dekat stasiun dan pasar tradisional sehingga membuatnya menjadi kumuh. Belum ditambah sampah rumah tangga di sekitaran, jadi makin kumuh.

    Balas
  8. mbak sy pernah bikin biopori di halaman tapi malah jd sarang tikus..jd tikus buat terowongan dari gali di tnh lain tmbus ke dlm tnh yg ada bioporinya..trus beranak pinak disitu..duh kyknya ada yg salah apa ya bikin bioporinya..akhirnya tak masukin karbit aja biar mati semua tuh tikus dilubang biopori..trus tak urug deh lubang bipori pake coran semen..

    Balas
  9. Iya mbak semua berawal dari diri sendiri ya mbak. Memanfaatkan wadah yang ada di rumah untuk menaruh makanan. Semua memang harus bekerjasama dalam menangani masalah sampah rumah tangga, apalagi di masa pandemi seperti ini.

    Balas
  10. Salut mba memikirkan buang sampah dapur. Saya sempat mau buang sampah dapur non plastik/alami dibuang dan ditutup tanah. Tapi ga lagi karena tanah samping rumah berbatu

    Balas
  11. Iya mbak sama, saat dirumah seperti ini sama rumah tangga lebih banyak. Sebab saat dirumah saya lebih sering memasak. Iya mbak, saya juga sudah mulai memisahkan antara sampah organik dan anorganik. Untuk yang organik saya jadikan pupuk kompos buat tanaman saya

    Balas
  12. Anakku yang udah berhasil bikin kompos dari sampah rumah tangga nih. Dia telaten misahin kulit-kulit buah dan lain-lain. Malah sekarang bisa menanam juga di polybag. Lama-lama biasa sih mengelola sampah dari rumah.

    Balas
  13. Benar nih, permasalahan sampah akan srlalu ada selam manusia hidup di bumi. Maka itu utama diberi pemahaman bagaimana memanfaatkan sampah yang memang bisa dimanfaatkan.

    Mulai dari budaya biopori ini sepertinya dapat mengurangi penumpukan sampahnyang makin menggunung.

    Balas
    • Bikin biopori itu awal saya mengelola sampah justru mbak. Karena itu yang darurat, setiap ada sisa makanan bisa langsung masuk ke situ. Karena kan makan hampir setip hari, sedangkan kalau belanja bisa pake alternatif plastik.

      Balas
  14. Iyaa sampah selalu menyisakan masalah ya.. dan selama pandemi entah mengapa debit sampah rumah tangga naik drastis. Mau olah sendiri dilemanya kalau tinggal di kota lahannya terbatas banget.. pasrah deh akhirnya sama petugas sampah kota

    Balas
  15. Setuju banget. Btw saya suka sedih, sampah rumah tangga cepat sekali menggunung. So far saya belum bisa lepas dari tukang sampah. Dari saya sih udah dipisahkan antara organik dan anorganik. Tapi sampai disananya saya enggak tahu. Huhuhu… Makasih sharingnya, mba Amel, saya juga pengin belajar mengelola sampah sendiri nih 🙂

    Balas
  16. Aduhh salut bgt sama rumah yg mau dan bisa ngelola sampah kayak gini. Aku pernah liat di channel YT siapa gtu.. Gini juga. Telaten bgt… Salut mbakkkk ameellll

    Balas
  17. aku termasuk yang nggak telaten milah sampah. dulu pernah, tapi huhu lama-lama nggak mampu, karena suka nggak betah sama bau menyengat dan tikus atau semuat yang berusaha datang. akhirnya tetep baung sampah ke TPA. hanya saja saya pilah (eh, kadang2, hehe ) sampah organik dan non organik. duuh .. jadimalu sama mbak Amel nih.

    Balas
    • Nah, masalah serangga ini juga jadi hal yang masih dipikirkan. Karena takut tikus, saya pakai biopori saja untuk yang hewani atau sisa makanan

      Balas
  18. Aku sedang mempelajari takakura, cos gak punya area tanah. Ada sedikit untuk sumur jadi gak berani utak-atik. Memang mumet kok urusan sampah nih. Apalagi kalau udah dipisah, diaduk-aduk sama pemulung. Huaaa, kuingin teriak.

    Balas
  19. Setuju, untuk mengelola sampah memang harus dimulai dari kita dahulu. Pelan-pelan yang penting konsisten. Keluarga saya juga memisahkan sisa makanan untuk diberikan pada ikan di empang, lumayan untuk mengurangi sampah di TPA.

    Balas
  20. Keren Mbak..inspiratif usaha pengelolaan sampah rumah tangganya.
    Saya saat ini belum mengelola sampah sendiri. Hanya sampah daun kering saja yang dikumpulkan di lahan kosong depan rumah (di sekitar rumah saya banyak pohon maka sampah daunnya banyak). Misahin yang bisa didaur ulrang dan dikasih pemulung, sisanya ke TPA larinya.
    Kelasnya bagus banget…6 tahun ga buang sampah ke TPA , wow!!

    Balas
  21. Biopori tuh emang keren. Dulu pas kuliah, diospeknya bikin begini wkwkwk. Jadi agak paham nih kerennya biopori. Tapi rumahku skrg gak ada halaman. Mau pindahan dulu yg ada halamannya biar bisa buat ini hehe. Makasih mba sharingnya

    Balas

Tinggalkan komentar

Share via
Copy link
Powered by Social Snap