Ceritaku, Tentang Menjadi Seorang Guru

Perayaan Hari Guru Nasional tahun ini sangat istimewa. Pada tahun inilah, kegiatan belajar mengajar harus dilalui para guru di tengah pandemi. Para guru diuji untuk cepat beradaptasi, bukan hanya untuk anak didiknya, tapi juga untuk pendidikan buah hatinya di rumah. Untuk memperingatinya, saya ingin mengabadikan kisah dari sudut pandang saya, tentang menjadi seorang guru.

Jejak Guru dalam Keluarga

Empat anggota keluarga inti dari sebelah ayah saya berprofesi sebagai guru. Kakek pernah sampai menjadi pengawas sekolah, nenek pernah sampai jadi kepala sekolah. Dua anak mereka yang perempuan, mengikuti jejak kakek dan nenek dengan menjadi guru pula, Di SMP dan SMA. Salah satu bibi saya pun menikah dengan sesama profesi guru.

Bila ditelusuri sampai sepupu ayah, masih ada lagi anggota keluarga besar lainnya yang menjadi seorang guru. Adapun dari sebelah ibu saya, hanya ibu yang berprofesi sebagai guru. Ibu sampai sekarang mengajar mata pelajaran Agama Islam di SD Negeri. Sebentar lagi beliau pensiun.

Menjadi Anak Seorang Guru

Menjadi anak seorang guru terkadang tidak mudah. Alhamdulillah saya selalu masuk ranking 10 besar. Tapi bagi teman saya yang rangkingnya terlempar jauh, omongan orang mengaitkan dengan status orang tuanya yang guru bisa membuat beban tersendiri. Akan tetapi, kalau anak guru jadi juara, omongan orang tetap nyelekit. Serba salah.

“Padahal ortunya guru, kok anaknya nggak pinter? Ngajar anak orang, anak sendiri nggak diperhatikan.”

“Ooo..pantesan juara. Anak guru toh!”

Lambemu…lambemu….tampol!

Ada cara yang dilakukan orang tua agar anaknya tidak terbebani dengan status anak guru:

  • Menyekolahkan anak bukan di sekolah tempat mengajar orang tua,
  • Menyerahkan anak untuk dididik guru sepenuhnya, berpesan pada guru jangan ragu memarahi anak bila melakukan kesalahan. Membicarakan hal ini di depan guru dan anak, sehingga saat itu merasa tidak ada yang bisa menolong di sekolah selain diri sendiri,
  • Tidak membebani dengan target nilai dan ranking. Juara ataupun tidak juara tidak ada hadiah maupun hukuman.

Menjadi Seorang Guru: Ogah

Saya sebagai anak perempuan satu-satunya di rumah, tentu menjadikan ibu saya sebagai figur. Saya lihat beliau kok enak ya jadi guru. Pergi pagi, siang sudah di rumah. Makan pagi, siang, malam, semua dimasak oleh ibu. Saat itu ibu masih menjadi guru bantu di TK.

Ternyata setelah saya masuk TK, kok saya kasian liat gurunya. Suara begitu berisik. Apalagi suara murid perempuan (padahal saya kan perempuan juga, wkwkkwkk). Guru harus lantang bicaranya, menjelaskan berulang-ulang, yang saya tidak suka. Sampai akhirnya saya walk out dari kelas, bosan belajar melipat yang saya sudah tau karena pernah coba buat di rumah. (Masih TK sudah walk out, hahaha, sungguh murid rebel dan belum tahu adab.)

Seiring waktu, saya makin say no untuk jadi guru. Saat kami pindah ke Palembang dan ibu mengajar sekolah dasar, saya pernah mampir ke kelas ibu. Ternyata makin berisik saja. Ibu dapat jatah mengajar di kelas 1 dan 2, bisa bayangkan betapa uniknya kerjanya. Bukan hanya mengajar mata pelajaran, guru bisa berganti peran menjadi tukang siram pipis atau BAB, juga duta perdamaian bagi yang berkelahi. Terkadang harus menjadi makhluk yang super sabar menghadapi ortu murid yang mau ikut masuk kelas.

Saya pikir guru ini kelihatannya santai, tapi ribet. Saya mau yang santai, bisa kerja di rumah. Terinspirasi dari dokter langganan, saya pikir jadi dokter lebih enak, bisa praktek di rumah (sungguh naif!). Long story short, akhirnya saya kuliah kedokteran.

Dari Guru, Kembali Menjadi Guru

Setelah selesai kuliah, saya sempat melamar PTT di sebuah Puskesmas bermodalkan ijazah. Saat saya melamar, STR belum saya terima. Meskipun dinyatakan diterima karena memang butuh tambahan dokter, saya belum mau masuk bekerja, takut kesalahan. Setelah dihubungi berulang kali, akhirnya saya masuk kerja juga karena sudah memegang STR.

Kerja di Puskesmas saat itu (mungkin berbeda dengan sekarang), bagi saya ternyata sangat membosankan. Obat yang tersedia terbatas. Sakitnya itu-itu saja. Saya waktu itu berangan-angan mendapatkan kasus seru yang butuh analisis mendalam untuk mendapatkan diagnosisnya. Tapi mana mungkin, bukan pada tempatnya. Puskesmas membutuhkan dokter yang bekerja cepat, pasien begitu banyak, bisa tidak selesai ditangani kalau kelamaan mikir.

Oh, ternyata kerja di Puskesmas bukan passion saya. Saat itu, ternyata ada penerimaan dosen PNS di Unsri, salah satunya adalah dosen kedokteran. Saya mencoba melamar dan ikut ujian. Ternyata saya lolos, dan pada 1 Desember 2010, mulailah nama saya tercatat sebagai seorang dosen. Ternyata, di sini saya bisa berpikir lebih dalam, sesuai yang saya mau.

“Katanya nggak mau jadi guru? Ternyata masih jadi guru juga.”

Kata Tante

Pandangan Tentang Guru, Awal Sekolah

Setidaknya ada dua jenis guru yang saya tahu ketika masih sekolah dasar: Guru Sekolah dan Guru Ngaji. Keduanya jalan sendiri-sendiri, dengan metode belajar yang berbeda. Kalau di sekolah pelajaran agamanya langsung belajar huruf dan hapalan, di masjid belajarnya dari Iqro', turutan, baru kemudian Al-Qur'an. 

Selama saya di sekolah dasar, saya masih menganggap bahwa seorang guru adalah seorang yang luar biasa pintarnya. Lebih lagi dari orang tua yang pasti selalu benar, seorang guru juga tahu segala hal yang orang tuanya tidak tahu.

Tidak ada pilihan lain bagi saya saat itu, selain bertanya kepada guru tentang pelajaran sampai saya betul-betul mengerti. Karena ketika sampai di rumah, saya harus belajar sendiri. Urusan sekolah diselesaikan di sekolah, pelajaran tidak mengerti ya tanya dengan gurunya. Guru akan selalu punya jawaban yang masuk akal untuk segala pertanyaan.

Saya sempat menganggap guru begitu suci, karena memang saya tidak mendapati guru berbuat cela. Semua tutur kata manis, semua hukuman sepertinya sesuai. Meskipun di sekolah ada mistar kayu panjang dipukulkan pada betis anak yang berbuat salah, atau batang rotan dipukulkan ke telapak tangan oleh guru mengaji karena mengaku tidak sholat (jujur sekali ya zaman dulu), kami anggap itu semua hal yang wajar sebagai efek jera.

Pandangan Tentang Guru, Masa Galau

Kelas 3 SD, saya mulai merasakan pergolakan dalam hati saya, tentang apakah guru selalu benar, apakah guru selalu tahu. Saat itu, kelas 3 SD, saya baru pindah ke Palembang di caturwulan 3. Semenjak itulah, sampai saya kuliah, saya mengalami banyak kejadian yang meruntuhkan kesucian guru dalam pandangan saya, guru juga manusia biasa.

Saya banyak belajar dari segala diskriminasi, judgement, kepercayaan, kemarahan, kelembutan, candaan di sekolah dasar. Saya menyerap tentang kerja keras, persaingan, iri hati, profesionalitas, konsep milik di sekolah menengah pertama.

Saya mencerna tentang pengabaian, dominasi, pemberontakan, di sekolah menengah atas. Namun, bisa dikatakan, banyak konsep yang menjadi pegangan saya sampai saat ini. Pertama kalinya saya mendapati konsep ‘guru bisa salah’ yang sangat kuat. Saat seorang guru menerima protes dari saya bahwa yang ditulisnya salah. Beliau bilang maaf, dan mencoba menghitung ulang. Saya belajar konsep kebijaksanaan, saat ada guru yang tetap memberi saya 9 di rapor padahal ada 1 nilai harian jatuh karena saya saat itu sedang sakit. Sebaliknya, ada juga yang berfokus hanya pada angka yang tertulis. Saya belajar konsep berkembang, dari guru yang percaya muridnya bisa maju apapun masa lalunya, meskipun sebagian besar guru hanya mau melatih yang ‘pintar’ berdasarkan saringan awal.

Dari masa kuliah, saya mengerti arti belajar secara dewasa, menghadapi masalah sendiri, mengerti tentang pilihan dan konsekuensi. Saya memahami tentang pentingnya ketelitian, dan dampak dari keputusan. Saat kuliah S2, saya mendapatkan pelajaran tentang konsep diri, bahwa setiap orang punya kemampuan dan berharga. Sungguh banyak sekali pelajaran yang saya petik dari pahit manisnya berhubungan dengan guru dan dosen.

Pandangan Tentang Guru, Masa Kini

Kalau di masa lalu, guru ada yang menyembunyikan referensi yang dia baca sehingga menjadi orang yang paling tahu, hal ini tidak berlaku di masa sekarang. Arus informasi begitu deras dan bisa diakses luas. Justru seharusnya, murid dan guru punya pemahaman yang sama tentang materi yang dibahas. Dengan demikian, transfer ilmu bisa dikatakan berhasil.

Menjadi Guru Masa Kini: Culture Shock

Para guru muda seperti saya, hingga ke para senior yang menjelang pensiun, masih bisa cocok. Kami hidup dalam sistem ajaran yang tidak jauh berbeda, kami bisa saling mengerti. Walaupun akhirnya ada sistem baru, apalagi Mas Menteri orang muda, pengajar seusia saya akan cepat beradaptasi, namun juga maklum dengan senior yang terengah-engah.

Bahasan tentang murid oleh para guru biasanya dimulai dengan frase ‘anak zaman sekarang’, betul nggak? Menandakan ada gap yang sangat jauh sehingga tak mampu lagi dimengerti. Biasanya tentang adab murid terhadap guru.

Setiap zaman saya rasa pasti ada murid yang nyeleneh. Ada murid yang masih asyik sendiri selama gurunya mengajar. Murid yang melawan perintah guru. Murid yang pura-pura tidak kenal atau bahkan mungkin lupa dengan gurunya ketika berpapasan di jalan. Murid yang kurang santun saat menyela, bahkan ada yang jelas-jelas mencela.

Untuk hal yang jelas salah, mungkin jawabannya sudah jelas pula. Namun untuk hal murid melupakan guru, hal ini pernah saya tanyakan ke guru mengaji saya. Bagaimana semestinya yang dirasakan guru. Jawabannya sangat menyejukkan:

Kerjakanlah tugas sebagai guru. Karena itu kewajiban. Selanjutnya ikhlaskan dan doakan, jangan mengharapkan sesuatu, walau itu hanya sekedar minta diingat.

kata Ustazah

Menjadi Guru Masa Kini: Siap Adaptasi

Saya rasa, adalah hal yang melelahkan untuk jadi orang yang serba hapal apapun. Jangan bertarung informasi, tapi milikilah konsep berpikir. Segala informasi bisa dicari sampai detail, tapi yang perlu diajarkan adalah cara bagaimana cara mencari informasi yang efektif dan mendapatkan hasil yang tepat. Inilah fungsi pendidik sebagai pemberi arahan.

Pada lambang dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tertulis Tut Wuri Handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan). Meskipun demikian, semboyan Ki Hajar Dewantara lainnya: Ing Madya Mangun Karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan Ing Ngarsa Sung Tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik), tetap dituntut ada pada seorang pendidik.

Zaman terus berubah, nilai-nilai terus bergeser. Cara menghadapi murid zaman sekarang berbeda dengan dulu, bisa jadi karena memang gurunya juga telah beradaptasi. Terus terang, saat melihat mahasiswa saya sekarang, saya ingat dengan masa saya dulu. Semangatnya sama, tapi zaman dulu ekspresi lebih ditekan. Sekarang, mahasiswa bisa berdiskusi dengan dosen, tanpa perlu takut.

Terus terang, saya banyak belajar dari anak-anak saya, dan saya merasa, tantangan guru anak saya nantinya lebih berat, hahaha. Anak-anak semakin kritis bertanya, mungkin juga karena orangtuanya makin terbuka untuk menjawab. Tidak seperti zaman saya dulu.

Zaman saya kelas 3 SD
"Bu, mens itu apa?" Waktu saya mendengar ibu dan tante menyebut kata itu.
"Eh, masih kecil, nanti juga tahu sendiri."

Zaman anak saya kelas 1 SD
"Mama, mens itu apa? Kenapa mama juga punya pampers? Apa kakak juga akan seperti itu? Apa keluar darah itu sakit? Dsb."
Dijawabnya harus pakai buku. 
Gambar modifikasi dari sumber asli buku Amazing You! Penulis: Gail Saltz

Tentang Menjadi Seorang Guru yang Baik

Apa sih, arti guru yang baik itu? 

Ada yang bilang, guru yang tidak pernah marah. Tapi ternyata ada murid yang geram melihat guru yang tidak marah pada sesuatu yang salah. Bijak boleh, tapi jangan pula tidak tegas. Ketika sebuah peraturan menyatakan ada hukuman bagi yang melanggar, ya laksanakan hukuman itu. Pilih hukuman yang mendidik, yang tidak mencederai mental atau fisik.

Ada yang bilang, guru yang baik itu kalau tidak pelit nilai. Padahal nilai itu mestinya terukur secara objektif. Meskipun saya sendiri, asal sudah mengarah ke bisa, kalau cuma gugup masih diluluskan. Kesannya tidak pelit nilai, padahal masih sesuai check list. Karena tidak semuanya lulus ujian dengan nilai 90-an, dong! Saya yakin pengajar akan tahu mana murid yang benar paham, mana yang membeo.

Ada yang mengatakan guru seharusnya menjadi teladan, yang ideal, tidak boleh salah. Tapi saya penasaran, teladan seperti apa yang dimaksud? Teladan dalam bidang mata pendidikankah? Atau sampai ke personal juga diusik-usik?

Guru yang Baik = Profesional di Bidangnya

Secara sederhana dan objektif, seorang guru, dosen atau pekerjaan apapun di dunia ini, dapat dikatakan baik bila bekerja secara profesional. Contoh untuk dosen, lihat saja dari laporan kinerja dosen, terpenuhikah? Untuk soft kill dan etika, bisa dilihat dari DP3, baguskah nilainya? Kalau ada yang masih meragukan penilaian dari dua instrumen tersebut, pertanyaannya lanjutannya adalah, apakah sudah dinilai dengan benar?

Untuk gaya personal, sulit diukur, dan semua gaya pasti ada pendukungnya. Ada guru yang hobi bercanda, ada yang killer. Ada yang resek, ada yang cuek. Seorang dosen bisa saja menjadi orang yang keren dalam penelitian, punya banyak artikel di jurnal bereputasi. Ada yang piawai menulis, punya banyak buku ajar yang menjadi acuan nasional. Ada yang pandai urusan public speaking, kalau mengajar enak didengar. Ada yang keahliannya membuat inspirasi bagi murid. Ada yang turun tangan langsung belajar bersama murid. Selama semua tujuannya kebaikan, selama kinerja dasar terpenuhi, prioritas pengembangan diri adalah sesuatu yang bisa dipilih. Untuk penilaian orang lain tentang gaya personal ini, jangan diambil pusing.

Guru yang Baik = Mau Belajar

Saat menjadi pengajar, seharusnya tidak berhenti belajar. Usia bukan penghalang, jangan menjadi alasan. Mata mulai rabun? Ganti kaca mata. Susah naik tangga untuk mengajar kelas di atas sulit karena sakit lutut? Minta kebijakan pindahkan kelas di bawah. Tidak mampu mengetik sistem administrasi dosen yang ribet, bayar asisten pribadi. Tidak mampu jalan sama sekali ke kampus? Mengajar virtual. Tidak mau belajar hal yang baru, baik dari segi bidang ilmu maupun sistem, tidak mau bayar asisten, tapi maunya nyuruh-nyuruh saja? Pensiun.

Saya punya seorang dosen yang meskipun sudah pensiun, tetap semangat mengajar. Adab terhadap guru, kami tidak berjalan di depannya walaupun jalannya lambat dan gemetar. Mendengarkan dari jarak dekat dengan seksama bila beliau bicara karena suaranya yang halus. Tidak bersuara keras di depannya. Kami menghormatinya yang sudah mau bersusah payah datang untuk mengajar kami.

Saya juga punya seorang dosen, yang usianya tidak muda lagi. Mestinya bisa bayar asisten pribadi saja untuk ikut pelatihan sistem pembelajaran, tapi beliau selalu rajin ikut pelatihan untuk dosen dari awal sampai akhir. Tidak malu bertanya dengan dosen junior (bertanya loh, bukan minta dibuatkan.) Rasa ingin tahunya besar, mau belajar dari siapapun. Sungguh menjadi panutan.

Menjadi Seorang Guru yang Bijaksana

Ilmu pengetahuan bisa didapatkan semua orang dengan mudah dari internet. Semua bisa merasa menjadi seorang ahli dengan modal googling. Lalu, apa masih diperlukan seorang guru?

Tidak seperti ilmu googling yang sangat luas, seorang guru, memberikan ilmunya secara sistematis. Itulah gunanya kurikulum. Mau dibawa kemana anak didik ini, kompetensi apa yang mesti dicapai pada pembelajaran ini. Waktu kita terbatas, kurikulum akan mengarahkan apa yang harus dipelajari dalam rentang waktu tertentu untuk mencapai goal yang diinginkan.

Semua murid, semua guru. Itu yang saya pegang sampai sekarang, karena banyak sekali hal baru saya pelajari dari murid, alias mahasiswa saya. Tidak ada lebihnya saya sebagai seorang pendidik dari mahasiswa saya, selain usia, tingkat pendidikan, dan akses. Wawasan dunia luar mestinya jauh dikuasai mahasiswa saya yang sudah liburan keliling dunia. Wawasan tentang materi tidak mungkin lagi dapat saya lampaui dari atas ojek online ini. Wawasan teknologi terkini, saya kejar dengan terengah-engah.

Kelebihan usia lebih tua, bukan berarti minta dihormati. Usia muda pun harus dihormati. Tingkat pendidikan lebih tinggi dari guru, bukan berarti yang diajar itu bodoh. Semakin tua usia, semakin tinggi tingkat pendidikan, seharusnya membuat pendidik semakin bijaksana. Mana menghukum untuk kebaikan, mana yang karena amarah. Mana yang memang sulit, mana yang dipersulit. Berbagai pengalaman yang relevan untuk memberi semangat. Membuka akses anak didik mendapatkan ilmu dan kesempatan yang lebih luas, dengan fasilitas yang dimiliki.

Bahagianya mengajar itu, kalau ilmu yang diberikan bermanfaat. Bukan bidang ilmu yang dipelajari saja, namun ilmu kebijaksanaan yang menjadi inspirasi bagi anak didik. Menjadi guru yang baik di dunia, bekerja memenuhi target. Menjadi guru yang mengejar kehidupan akhirat, mengajar pakai hati, untuk menyentuh hati.

SEMANGAT GURU INDONESIA!

Ttd.

Yang Masih Terus Belajar

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020

16 thoughts on “Ceritaku, Tentang Menjadi Seorang Guru”

  1. Ternyata darah guru sudah turun temurun di keluarga Mba Armel. Kalo saya menantu seorang guru. Hehehe.

    Selamat Hari Guru Nasional ya mba. Senang deh hari ini saya baca beberapa artikel tentang guru yang mengispirasi banget.

    Reply
  2. Selamat hari guru. Digugu dan di tiru. Saya kl bayangain saat saya sekolah dulu bandel…. Tapi pas dah dewasa gini baru sadar. Jd kenangan indah dan cerita pas silaturahmi ke tpt guru hehe

    Reply
  3. Dulu cita-cita saya pengen jadi guru, tapi ternyata jadi guru itu nggak mudah. Harus super sabar menghadapi perangai berbagai macam murid. Maka dari itu mungkin takdir saya nggak jadi guru ya, soalnya nggak sabaran, hehehe.

    Reply
  4. Keluargaku juga guru Mbak dan mereka berharap aku pun menjadi guru tapi aku nggak mau dong akhirnya jadi wanita kantoran waktu itu.

    setelah masa jadi wanita kantoran selesai Sekarang malah menjadi guru kehidupan bagi anak-anak dan sejawat. Hehehe

    Reply
  5. Semangat terus bu guru hehe… secara kan jabatan akademik tertinggi dosen, jadi guru besar. Hanya saja ada sebagian rekan sejawat yang ogah disapa bu guru. kalau saya pribadi sih biasa saja. Undang-undangnya sama kok UU Guru dan Dosen. Yang beda PP nya haha….

    Reply
  6. Semoga semua tindak tanduk guru termasuk menghargai orang dengan keyakinan berbeda dapat dicontohkan pada murid2 nya ya mbak..karena guru itu untuk segala sesuatunya digugu dan ditiru . Selamat hari guru. Pahlawan tanpa tanda jasa.

    Reply
  7. Di keluarga saya malah nggak ada figur guru. Namun saya sendiri sempat menjadi guru. Tugas guru jaman sekarang semakin berat, karena arus teknologi yang mengharuskan seorang guru update dan inovatif. Kadang anak saya aja suka protes kalau apa yang dipelajari di sekolah nggak tuntas. Malahan, ia lebih banyak belajar dari youtube. Namun saya tidak akan membiarkan anak saya memandang rendah profesi guru. Kami selalu menanamkan mereka bahwa guru itu sumber ilmu. Anak-anak harus menghormati setiap perkataannya.

    Reply
  8. Keluarga besar saya banyak yang menjadi guru. Bapak saya sendiri pensiunan PNS Guru bidang studi Bahasa Indonesia. Sayangnya dari keempat anaknya tidak ada satu pun yang mewarisi jadi guru. Hanya saya yang bekerja di lingkungan pendidikan, bukan sebagai guru. Tapi teman-teman saya adalah para guru, jadi sedikit-sedikit saya tahu kisah para guru. Selamat Hari Guru 🙂

    Reply
  9. Panjang juga ceritanya untuk jadi seorang guru – dosen – ya Mbak. Semoga berkah dengan takdir kali ini. Hehe…
    Jadi guru emang nggak selalu harus tahu. Nggak papa guru tidak tahu satu hal. Tapi dari sana dia belajar.

    Reply
  10. Jadi ingat waktu menjadi guru di SMA Swasta ku dulu deh, apalagi tiap hari berhadapan dengan murid yang usianya hanya beda beberapa tahun aja.
    So pasti suaraku saat mengajar harus lebih keras agar murid dapat mendengar apa yang aku bicarakan, dan untungnya aku punya cara tersendiri untuk mensiasatinya.

    Reply
  11. Aku selalu penasaran guru itu bikin soal-soal yang banyak itu gimana sih mb hahaha kan lebih ribet bikin soal dari jawab soalnya kan. Etapi beneran lho mb dulu jaman aku SD sempet heboh kalau anak guru itu dapet kunci jawaban dari orangtuanya pas ujian ehehhehe lambe netijen dari dulu sudah ada yaa mb wkkwkwk

    Reply
  12. Menjadi seorang guru itu cita-cita terindah ya kak, setiap hari dihormati murid-muridnya eh setelah nggak jadi muridpun tetap dekat layaknya orang tua sendiri. Dan saling curhat dong, Happy saja pokoknya curcol saja kerjaannya. Suka takjub dengan pekerjaan seorang guru ini. Kereeen

    Reply
  13. adik aku jadi pengajar juga mbak, sama seperti ibuku. hanya aku aja yang jauh berbeda bidang kerjaannya
    dulu waktu aku masih SD dapet ranking terus terusan, seneng banget. kayaknya pernah denger omongan juga kalau misal nih anak guru tapi ga pinter akan bikin malu orangtua

    Reply

Leave a Comment

Share via
Copy link
Powered by Social Snap