Menjaga Laut dari Rumah Tangga Sendiri

Apakah teman-teman menyadari, pada masa PSBB kemarin, langit begitu biru? Alam menjadi pulih. Udara, tanah, laut menjadi bersih. Tapi tetap ada bahaya yang mengancam bila kita tidak bertindak, yaitu tumpukan sampah karena pandemi. Kegiatan di rumah saja ternyata tidak membuat kita merumahkan sampah kita. Apalagi bila ada sampah yang dibuang sembarangan, maka nantinya akan bermuara ke laut. Bayangkan bila setiap rumah tangga tidak mengelola sampah hasil konsumsinya, tentu laut kembali merana. Mampukah kita menjaga laut dari rumah tangga sendiri?

Kondisi laut di masa pandemi

Pada tanggal 26 Juni yang lalu, saya menonton siaran langsung Talk Show Ruang Publik KBR di Youtube. Narasumbernya adalah Mbak Githa Anathasia; pengelola Kampung Wisata Arborek di Raja Ampat Papua, dan Prof. Muhammad Zainuri; Guru Besar Bidang Kelautan Universitas Diponegoro.

Perbincangan antara narasumber dan penyiar memberikan pengetahuan baru bagi saya. Mbak Githa bercerita, bahwa saat wisatawan sepi, cepat sekali terumbu karang bertumbuh. Tingkat kebisingan kapal yang mengangkut wisatawan berkurang, sehingga semakin banyak ikan terlihat, bahkan yang tidak biasa terlihat dari pesisir seperti ikan tuna dan hiu. Wow, terbayang betapa makin indahnya laut Raja Ampat saat ini!

Prof. Zainuri memaparkan bahwa untuk kondisi pesisir saat ini, Buangan limbah industri menurun, namun terjadi peningkatan sampah dari rumah tangga. Sebelum pandemi, wisata di perairan nusantara ramai. Sekarang terjadi penurunan pengunjung, industri juga tidak berjalan, maka upaya konservasi pesisir dapat dilakukan.

Kebanyakan industri beroperasi di tepi pantai supaya mudah membuang limbah. Industri ini mengambil banyak air tanah sehingga air laut masuk ke tanah. Peristiwa ini menyebabkan struktur tanah berubah, sehingga permukaan tanah mengalami penurunan.

Penurunan tanah ini sangat berbahaya. Contoh kerusakan parah yang pernah terjadi akibat penurunan permukaan tanah ini adalah tenggelamnya sekitar 3 desa di daerah Demak. Saat itu terjadi perubahan garis pantai sebesar 2,3 kilometer. Warga pun kehilangan tempat tinggal. Ngeri, ya!

Wisata laut, antara ekonomi dan ekologi

Saat ramai wisatawan, polusi suara dan tumpahan minyak dari alat transportasi laut menjadi masalah. Apalagi bila perahu motor tidak dimatikan mesinnya ketika menunggu wisatawan. Suara bising akan menakuti fauna laut, dan tumpahan minyak akan mengendap di sedimennya.

Secara ekonomi, wisata di daerah pesisir terdampak sekali. Pemilik homestay kembali menjadi nelayan, atau memilih berkebun pada tanah kosong miliknya. Namun tidak mengapa, karena justru penduduk menemukan model mata pencaharian baru yang selaras dengan alam. Wisatawan sepi, ikan ramai berdatangan!

Aktivitas pariwisata laut tidak harus memilih antara ekologi dan ekonomi. Bila semua berada pada porsinya, maka akan berjalan secara sinergis. Contohnya, bila ikan berlimpah, maka wisata kuliner hasil laut dapat menjadi primadona. Gali potensi lokal dan kembangkan menjadi pariwisata, bukan memaksakan model lain dan mengubur potensi yang ada.

Saat tempat wisata kembali dibuka di era new normal, perlu dilakukan pembatasan jumlah wisatawan yang masuk dalam sekali waktu pada satu wahana (misalnya untuk diving dan snorkeling). Hal ini bertujuan mengurangi polusi suara di laut. Perahu motor diharapkan mematikan mesin saat berhenti di tengah laut. Wisatawan diharapkan memancing pada tempat yang sudah disediakan. Pengelola tempat wisata membentuk kelompok kerja pemantauan, untuk mengontrol polusi di laut.

Menjaga laut dari sampah rumah tangga saat pandemi

Lalu, bagaimana cara menjaga laut dalam skala rumah tangga? Tentu saja kita tidak akan membiarkan sampah rumah tangga bermuara ke laut. Meskipun sampah organik dapat menjadi stimulator untuk pertumbuhan biota-biota pinggir pantai, akan tetapi masih tetap ada sampah anorganik yang ikut hanyut, bila keduanya tidak dipilah.

Beberapa hal bisa kita lakukan untuk mengurangi sampah rumah tangga kita agar tidak berakhir ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Suatu saat TPA akan penuh, lakukan cegah-pilah-olah untuk mencegah penumpukan sampah. Konsep pengelolaan sampah rumah tangga saat physical distancing sudah pernah saya sentil sedikit. Berikut beberapa contoh teknis pengelolaan sampah rumah tangga yang bisa dipraktekkan:

Benda tajam

Pecahan kaca, jangan dibuang ke kotak sampah. Dipecahkan semua sekalian, bisa dijadikan isi vas bunga. Isi staples dikumpulkan di dalam toples. Karena ukurannya kecil, dijamin lama toplesnya penuh.

Tusuk sate dibakar ujungnya atau dipatahkan kecil-kecil, lalu dikomposkan (ditanam di sampah). Bisa digunakan kembali untuk sematan makanan yang dibungkus daun pisang.

Membuang beling atau benda tajam dalam kresek, walaupun diisolasi tebal lalu dilabeli ‘Awas Pecahan Kaca Tajam’, tidak akan menjadikan itu dibaca dan dipilah oleh petugas. Semua akan bercampur baur menjadi satu di tempat penampungan sampah dan berisiko terinjak.

Kompos dan biopori

Biasakan menghabiskan makanan. Masak hanya seperlunya. Sisa makanan termasuk hal yang bisa dikomposkan. Tulang masukkan di biopori. Yang masuk kategori sampah residu adalah bahan yang tidak diterima di bank sampah dan tidak bisa dikomposkan, atau tidak bisa dimanfaatkan lagi (misalnya karet gelang putus). Sampah residu berakhir ke TPA.

Pembakaran sampah, meskipun dalam suhu yang sangat tinggi, tetap saja menghasilkan partikel debu yang mencemari lingkungan. Hukum kekekalan energi menyatakan, energi tidak bisa dihilangkan, hanya berubah bentuk.

Pilih daun pisang sebagai pembungkus makanan. Daun pisang dijemur sampai kering, nanti rapuh dan akan masuk menjadi unsur coklat pada kompos. Wadah sudah ramah lingkungan, misalnya sudah memakai daun pisang, jangan sampai dicampur dengan plastik dan dibuang ke TPA. Jadinya tidak tercapai tujuan kita untuk mengurangi sampah ke TPA.

Menjaga laut dari rumah tangga
plastik menjadi sisa konsumsi yang meningkat saat pandemi

Plastik dan styrofoam

Pengelolaan sampah plastik berminyak, hanya dicuci, rendam dulu di dalam baskom. Dikumpulkan sekaligus banyak. Cara lain bisa dengan menyerap minyaknya di kertas bekas, kertasnya dikomposkan. Kantong plastiknya dibuat tas atu dimasukkan ke ecobrick.

Kemasan mika tidak diterima oleh Bank Sampah, karena sulit diolah. Pengolahan daur uang sampah itu perlu air yang banyak. Dan kualitas akhirnya akan terus menurun. Daur ulang sampah plastik semacam ini untuk dibuat kerajinan perlu ditinjau ulang, apakah benar-benar dipakai atau hanya dipajang. Lebih baik menghindari pemakaian plastik mika sama sekali. Bila terlanjur ada dari pesan makanan online? Ecobrick.

Bank sampah tidak menerima Styrofoam. Olah dengan cara dipotong kecil2, dimasukkan di dalam wadah, diberi bensin dan diaduk sehingga menjadi pengganti lem. Styrofoam bisa diparut dan dijadikan campuran semen dalam pembuatan batako.

Sampah medis

Lalu bagaimana dengan sampah terkait pandemi, seperti masker bekas dan sarung tangan sekali pakai? Bila kita bukan pekerja medis, pakailah masker kain, dan hindari memakai sarung tangan medis. Limbah alat pelindung diri yang dipakai oleh petugas medis akan diproses khusus di fasilitas kesehatan di tempat mereka bekerja.

Nah, kalau sudah diberikan contoh teknis seperti di atas, kira-kira sudah terbayang belum cara menjaga laut dari rumah tangga? Yuk, coba mulai dari sekarang!

Saat PSBB, langit begitu biru. Anak saya bilang, “Apakah ada laut di langit?” Saya tersenyum, “Entahlah, Anakku. Tapi yang Mama yakini, saat langit berwarna biru, maka begitu pula laut kita. Biru, jernih, dan bersih.”

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020

7 pemikiran pada “Menjaga Laut dari Rumah Tangga Sendiri”

  1. Selalu ada hikmah dibalik suatu peristiwa ya, Mbak.
    Di masa pandemi kemarin langit memang terlihat bersih dan biru
    Sekarang tugas kita untuk tetpa menjaga lingkungan tetap bersih dengan memilah sampah di rumah dan mempraktekkan prinsip ekonomi sirkular

    Balas
  2. Suka sedih mbak kalau lihat pada buang sampah sembarangan. Dk tempat saya akhirnya kalau hujan deras, jalan raya banjir, isinya sampah rumah tangga. Semoga semakin banyak warga yang sadar untuk membuang sampah pada tempatnya dan memanfaatkan dengan sebaik mungkin. Sehingga bisa bermanfaat untuk yang lain.

    Balas
  3. ah selalu sedih kalau ingat laut yang tercemar. emang bener ya mulai dari keluarga dulu. lebih mudah pastinya. jadi biar enggak banyak sampah di laut. sedih banget sama makhluk yang hidup di sana. biar tetap indah dan bisa dinikmati pas snorkeling dan diving.

    Balas
  4. eh iya sampah tusuk sate kadang langsung aku buang aja di tempat sampah, huhu. Termasuk pecahan piring yang aku bungkus dan tulis “awas pecah belah” ternyata itu juga gak menyelesaikan masalah ya mbak. Semoga bisa belajar lagi dalam memilah sampah agar terus bisa menjaga bumi 🙂 Makasih banyak tulisannya mba Amel, nancep banget 🙂

    Balas
  5. Setuju, ternyata kita pun bisa menjaga laut dari rumah kita sendiri. Kelihatan sepele dan sederhana yang dilakukan tapi kalau semua orang berkontribusi pasti akan ada hasilnya.
    Saya juga sangat menikmati birunya langit selama PSBB. Apalagi di Jakarta…wah, rasanya udaranya belum pernah sesegar itu sebelumnya

    Balas
  6. Waduh… malu juga mau jawab. Sebenarnya sebelum ini udah kumpulin sampah plastik bekas minyak goreng. Niatnya mau dipakai tanam-tanam di samping rumah dekat jemuran. Tapiii … Nggak tahu nih, nggak juga dieksekusi. Kalau sampah beling biasanya saya taruh tempat khusus mbak. Bapak petugas pengambil sampah juga udah tahu, yang dipisah berarti ada sesuatu. Semoga nggak melukai siapapun ya

    Balas

Tinggalkan komentar

Share via
Copy link
Powered by Social Snap