Menyesal, Untuk Sesuatu yang Tak Kembali

Menyesal, rasa yang selalu datang belakangan. Banyak hal yang bisa memicu rasa menyesal dalam kehidupan, namun penyesalan yang paling dahsyat itu setelah terpisah oleh kematian. Baik bagi yang pergi, maupun yang ditinggalkan.  Kita semua tahu, pada saatnya kita akan mati. Tapi manisnya dunia memang membuat kita lengah. Entah mengapa kita menjadi sayang harta, anak, pasangan, dan segala yang menjadi titipan itu dengan begitu hebatnya, sampai terkadang kita lupa bahwa semua itu bukan milik kita. Terkadang kita lupa menyiapkan bekal, terkadang kita lupa meminta maaf setiap hari mungkin ada lisan kita menyakiti. Rasanya masih hidup 1000 tahun lagi. Masih bisa melontarkan janji-janji, rencana, dan ambisi.

 

Saat milik kita diambil

Saat saya baca diagnosis ayah saya untuk pertama kalinya, hal yang pertama saya lakukan adalah menjelaskannya panjang lebar dengan ibu saya tanpa ada pemanis kata sedikitpun. Ini ganas, progresif. Keadaannya akan semakin memburuk, posisi tidak menguntungkan. Kita mesti siap, meskipun begitu, kita tetap usaha. Saya kira ibu mengerti, ternyata tidak. karena saat itu masih gagah, ibu cuma seperempat percaya bahwa ini akan berakhir lebih cepat dari yang beliau kira.  Saat saya bilang bahwa kanker jenis ini rata-rata hanya bertahan 2 tahun, ibu masih biasa saja. Ternyata saat kematian itu datang setelah 2 tahun didiagnosis, ibu syok. Belakangan ibu bilang, bahwa ia mengira akan kembali sembuh setelah keluar dari rumah sakit. Bayangkan, seberapa masih lengahnya kita akan sesuatu yang sudah diwanti-wanti. Seberapa tingginya harapan kita, bayangkan apabila kematian itu terjadi tiba-tiba. Bukan main, pasti banyak sesalannya.

 

Siap tidak siap

Saya kira saya sudah siap, perkiraan cukup tepat. Namun ternyata saat rekam jantung di monitor berubah, mengapa saya kembali pada kondisi awam. Seperti tidak menyangka. Saat nafas sudah berhenti, dada saya sesak berharap ayah cuma tidur. Saya menyesalkan diri saya, apa seharusnya saya mesti lakukan RJP setelah disepakati DNR. Apa seharusnya naikkan saja topangannya, apa seharusnya beliau masuk ICU, setelah kami sebagai orang medis, dengan sadar menandatangani surat pernyataan untuk DNR dengan berbagai pertimbangan.

“Ayah kasus paliatif, ICU dingin, sepi. Disana, kita tidak bisa berdoa disekeliling ayah seperti halnya kita di sini. Kalau sudah waktunya dia tetap akan pergi. Mempertahankannya itu sakit bagi beliau,” Rasa bagai mimpi saat mendengar suami bicara di dalam mobil kami yang mengiringi Ambulance.

Oh, betapa saya menyesal, mengapa saya tidak menemani ayah bercerita lebih lama, berjalan dengannya lebih sering, berpose dengannya di foto lebih banyak, membuat video kegiatan bersama cucunya setiap hari, merekam suaranya yang jarang terdengar, meminta maaf berulang-ulang setiap hari meskipun beliau pasti akan selalu ridho dan memaafkan anaknya ini: saat dia masih ada, saat dia masih bernyawa.

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2018

Tinggalkan komentar

Share via
Copy link
Powered by Social Snap