Pernikahan Tanpa Drama

“Mama, dengan siapa nanti ayuk bakal menikah?” Pertanyaan yang membuat saya tertawa, tapi membuat dahi suami mengernyit. “Jangan ngomong tentang nikah-nikah dulu deh, masih lama,” dia tampak tidak nyaman. Saya tahu, itu adalah suara rasa takutnya, membayangkan ditinggalkan anak perempuan ketika kelak menikah. Saya menepisnya, karena ketika ketika anak sudah bertanya, kita harus menjawab sampai anak puas dengan jawaban kita. Jangan sampai anak tahu dari pihak lain yang ternyata keliru. Tentunya jawaban disesuaikan dengan usia anak. Sisanya yang pembahasan agak berat, saya tuliskan di sini saja. Kelak anak saya akan membaca tulisan ini, tentang realita dalam pernikahan, sehingga lebih bijak dalam mencari pasangan.

Agar tidak terjebak dalam pernikahan penuh drama, kita mesti tahu realita berumah tangga. Tidak hanya saat menjalani, tapi juga saat akan memulai.

Persiapan Menghadapi Realita Pernikahan

Langkah awal untuk mendapatkan pernikahan yang aman dan tenteram, carilah pasangan yang mendekati kriteria ideal. Agama, nasab, harta, dan paras, adalah 4 kriteria minimal yang sering menjadi panduan dalam memilih pasangan. Saya yang sangat visual, membalik urutan kriteria itu dari belakang. Ideal bagi saya, adalah yang sesuai dengan kriteria saya, ideal menurut orang lain sangat mungkin berbeda.

Paras

Memilih paras suami itu tidak harus seganteng Oppa Korea. Pilih istri juga tidak harus yang sama dengan standar kecantikan masyarakat. Bersyukurlah, cantik dan ganteng dalam pandangan pribadi itu sangat relatif. Tolok ukurnya: kamu bisa menerima mukanya dalam keadaan sehat, sakit, marah, senyum, konyol, lagi ngupil, bersin, dan baru bangun tidur. Ketemu yang cocok? Lanjut ke kriteria berikutnya!

Harta

Tidak harus cari yang sudah bergelimang emas, sudah punya rumah mewah, saham 1000 lot, atau tanah 1000 hektar; kecuali, kamu suka “laki-laki yang sangat dewasa usianya”. Ada sih, yang muda sudah mapan, tapi liat dulu latar belakangnya. Tapi yakinlah, yang kaya karena usaha sendiri lebih awet hartanya dan lebih minim masalah.

Tolok ukur harta bagi saya: punya pekerjaan yang berpenghasilan, punya potensi untuk meningkatkan pendapatan (semangat dan pekerja keras), punya kebiasaan menabung yang baik, tidak minder dengan pekerjaan/pendapatan istri.

Punya pekerjaan itu ga harus Pe En Es, tenanglah wahai calon menantuku! Masalah pensiun, atur-atur aja sisihkan dana selama bekerja. Bahkan bisa dihitung juga kumpulin dana sesuai mau pensiun di usia berapa. Yang penting penghasilan itu mencukupi kebutuhan dasar keluarga sehingga tidak perlu berhutang. Kebutuhan dasar: makan untuk hidup, pakaian yang layak, tempat tinggal yang nyaman, pendidikan yang memadai, dan masih bisa menabung. Yup, menabung bagi saya adalah kebutuhan dasar, setidaknya untuk mempersiapkan dana darurat.

Seringkali dengar cerita pasangan yang minder dengan istri yang lebih tinggi karir atau lebih besar penghasilannya. Tapi ada juga yang bisa terus jalan bersama. Minder dengan pekerjaan /pendapatan istri menurut saya sangat toxic dan bisa jadi merembet ke mana-mana. Jadi, benar-benar cari yang bisa kompromi ya!

Nasab

Nasab atau keturunan sering disebut juga sebagai bibit yang perlu diperhitungkan. Tidak perlu dari keluarga terpandang, yang penting keluarganya penuh didikan tentang kasih sayang. Memang lebih enak cari yang setara gaya hidupnya, supaya tidak culture shock. Tapi kalau kedua keluarga (bukan hanya kedua pasangan) mau menerima dan saling belajar, semua perbedaan bisa sirna kok! Tapi mesti nerima dari awal ya, biar tidak salah paham.

Agama

Ada yang pilih agama di awal, it’s ok. Saya pilih agama sebagai penentu keputusan akhir dalam mencari pasangan. Sudah ganteng, kaya, keluarga bagus, tapi dari segi beribadah tidak sreg di saya, ya sudah lepaskan. Masih mau lanjut? Tunggu dulu, adakah kemajuan menuju tingkat sreg kita? Soalnya agama itu urusan pribadi dengan penciptanya, sebuah pencarian spiritual yang sangat personal. Biarlah yang bersangkutan menyelesaikan pencariannya sendiri, kecuali kamu mampu untuk menjalani pencarian bersama.

Kalau empat kriteria ini sudah clear, tentunya kita bisa menghemat tenaga dan fokus di realita pernikahan yang akan dihadapi selanjutnya.

Kompromi dalam Pernikahan

Masing-masing dari kita punya impian, punya cita-cita. Untuk yang ikut alur saja, mungkin belum memikirkan model keluarga yang dibentuk dalam bingkai pernikahan bakal seperti apa. Que sera sera, lihatlah nanti. Kebetulan suami saya bertipe seperti ini. Sementara saya, semua serba terencana. Menikah dengan orang santuy seperti suami, kadang saya geregetan. Awal-awal selalu muncul pertanyaan: Ini mau dibawa ke mana? Kita mau kejar apa? Sedangkan saya sudah punya bayangan 2-3 langkah ke depan. Tapi ternyata, justru itu yang mengimbangi saya. Bayangkan kalau kami sama-sama anak ambis, bisa bentrok, karena semua mau kejar cita-cita yang mungkin saling bertentangan. Kalau sama-sama santuy, bakal hanyut.

Hal yang jadi penting dalam pernikahan adalah kompromi, dari awal sampai akhir. Namun untuk cita-cita dalam pernikahan, pembahasannya harus selesai sebelum menikah. Bisakah menerima dan melanjutkan pernikahan? Contoh kasus: Wanita ingin berkarir sebagai fashion designer di Italia. Laki-laki ingin punya peternakan sapi di Bandung. Bisakah dikompromikan sehingga mendapatkan win-win solution?

Bagi kami, kompromi itu bukan mengalah, walaupun bisa jadi ada kondisi berbeda dari yang diimpikan sebelumnya. Kompromi itu menerima. Kompromi itu sepakat. Bila ada pihak yang merasa dikorbankan, artinya memang tidak tercapai kompromi. Cukup! Berhentilah sampai di situ.

Realita dalam Pernikahan

Sayang sekali rumah tangga tidak cukup ditegakkan hanya dengan cinta. Ada biaya rumah tangga, ada banyak ujian internal dan eksternal, pilihan-pilihan yang sulit, dan pengertian yang dipupuk sepanjang waktu. Realita pernikahan ternyata tidak semanis bayangan.

Pengorbanan Vs Perjuangan dalan Pernikahan

Merasa sudah menderita karena telah banyak berkorban? Tahan langkahmu sejenak, refleksi diri. Benarkah kita sedang berkorban? Atau kita sebenarnya sedang berjuang? Berkorban artinya kehilangan, berjuang artinya usaha untuk mencapai sesuatu. Istilah berkorban kadang meleset menjadi dikorbankan, yang kadang diungkit sebagai sesuatu yang menyakitkan dari salah satu pihak. Seringkali berujung dengan kekecewaan. Tapi berjuang menandakan bahwa kita membuat pilihan dengan segenap kekuatan yang kita miliki. Mengganti istilah menjadi berjuang berdampak besar pada perjalanan rumah tangga kami.

Bertambah Bukan Berkurang

Pernikahan itu terdiri dari dua orang yang sudah membawa kekuatan masing-masing. Ketika dua orang ini bersatu, maka seharusnya kekuatan itu bertambah, bukan berkurang. Dalam pernikahan, dua pihak harus mau bertumbuh dan saling mengimbangi. Semakin hari, ilmu terus bertambah, kesabaran makin luas, kebijaksanaan makin matang. Kalau mulai timpang, saling mengingatkan untuk sama-sama berbenah, tentunya dengan cara yang baik dan lembut.

Terbuka No Drama

Suka gemes lihat film Korea yang memendam perasaan terus nangis-nangis sendiri? Rumah tangga juga sama. Bakal jadi drama kalau tidak ada keterbukaan. Tapi ada juga yang memutuskan untuk tidak terbuka karena takut pasangannya tidak mengerti dan malah memicu keributan. Hmm, kamu kalau suatu saat ketahuan nggak bakal lebih ribut? Kalo yakin, silahkan 😄.

Akhir kata, semua kembali ke karakter dan kesepakatan masing-masing ya. Sisanya tinggal berdo’a saja, semoga pernikahan kita adalah realita yang indah

34 thoughts on “Pernikahan Tanpa Drama”

  1. Idealnya, setiap kriteria akan pasangan punya standar tinggi ya mbak, lalu tercapai sesuai keinginan. Faktanya, banyak kok yang bisa mencapainya, tapi lebih banyak lagi yang tidak karena salahnya bukan pada tidak menemukan yang sempurna, melainkan karena penerimaan yang tidak sempurna.
    Saya dulu punya standar rata-rata saja saat memilih pasangan, kecuali agama, sengaja dibuat tinggi karena agama saya belum baik 😀 Sedangkan kriteria yang lain, saya pikir bukan masalah. Ternyata, yang saya dapatkan dari Tuhan, semua di atas rata-rata. Masha Allah. Kadang saya berpikir, Tuhan kasih saya lebih karena saya meninggikan standar untuk agama, sekaligus kesadaran akan kekurangan terbanyak dalam diri 😀 Khusnuzon nya saya seperti itu 🙂

    Reply
  2. Pemilihanmu itu urutannya sama denganku, Kak Amel. Hehe, tapi aku tuh lihatnya harta dulu. Apakah pekerjaannya, bagaimana tanggung jawabnya, baru lihat wajah dan body. Baru deh yang no 3 dan 4 kita samaan.

    Masalah jodoh tuh nggak bisa dipaksain memang, “Lo harus lihat tuh agamanya dulu! Dia salat kagak?”

    Lhah kan itu masuk juga dalam kategori kita ya, kalau syarat no 3 nggak lulus ya udah stop aja. Ngapain maksain orang buat naruh urutan syarat ke pribadi masing-masing orang.

    Reply
    • Iya bener, kita menetapkan syarat ada pertimbangan masing-masing. Kondisi keluarga kita dan pasangan sebelum nikah kan beda-beda. Paling sebel kalau dibilang: Jangan banyak milih-milih….

      Reply
  3. Kompromi menjadi kata yang paling aku soroti dalam membaca postingan ini. Ternyata konsep pernikahan pun berbeda-beda ya di umur2 sebelum menikah, dulu berharap bisa bertemu pasangan yang mau membantu mewujudkan mimpi2 sendiri, semuanya serba diri sendiri namun pasangan kita kan manusia juga yah, punya keinginan dan cara pandangnya sendiri. Selain itu, kompromi inilah yg akan merawat pernikahan itu sendiri ya, komitmen akan tujuan bersama serta menghadapi hal2 yg di luar rencana atau kendali. CMIIW, bacaan yang bagus untukku yang masih melajang.

    Reply
  4. Bagian laki-laki jangan minder dengan pendapat istri, mungkin sang suami merasa malu karena doktrin kalau suami itu kepala keluarga yang harus lebih dari segi materi. Dan juga fakta di sekitar saya, salah satu penyebab perceraian adalah ketika si istri mulai punya pendapatan lebih tinggi dari suami dan merasa di atas angin.

    Semoga kita senantiasa bisa menjalani ujian-ujian pernikahan dengan sabar dan berserah diri.

    Reply
    • Seringkali terjadi seperti itu. Tapi sebenarnya kalaupun penghasilan permepuan lebih tinggi namun si suami tetap semangat berusaha dan bekerja, seharusnya tidak masalah. Yang jadi masalah itu kalau istri kerja mati-matian tapi suami ongkang-ongkang kaki 🙂

      Reply
  5. Wow! Ini nih, penting banget diketahui sebelum nikah. Karena nikah ngga cuma diisi dengan ke-uwu-an yang diliatkan sama warga kebanyakan di sosial media. Yang bikin bergumam “Duh, jadi pengin nikah muda juga” Hahahah.. Tapi ya namanya hidup, no drama kurang aja gitu keseruannya 😀

    Reply
  6. Bener nih mbak, terbuka no drama. Saya paling males kalau ada drama drama ga penting yang mungkin saja berasal dari keluarga. Btw, mungkin cari suami yang bisa juga mengerti keribetan istri dalam rumah, ga cuma tahu terima beres aja kali ya

    Reply
  7. Aku sepakat banget di bagian kompromi itu bukan mengalah, tetapi sepakat ya mbak. Beda banget dalam aplikasinya. Jadi memang kalau nggak ada yang bisa sepakat sesuai contoh di atas, baiknya hubungan nggak dilanjut ya proses ta’aruf ya?

    Reply
  8. Pernikahan ini ternyata cukup rumit.
    Kata orang, susah-susah gampang atau gampang-gampang susah.
    Jadi intinya mah…saling menghargai, saling menghormati dengan komunikasi yang baik. Juga jangan lupa, belajar fikh rumah tangga. Agar bisa menempatkan dan menjalankan tugasnya masing-masing dalam berumah tangga.

    Reply
  9. Kalau aku kemarin memilih suami karena agamannya dulu mbak, baru setelah itu yang lain. Karena kalau aku pribadi berpendapat menikah itu ibadah jadi sebisa mungkin medapatkan pasangan yang bisa mendekatkan diri dengan Allah.

    Reply
  10. Wuih masih kecil sudah bertanya tentang pernikahan ya, hehehe.. Memang sih sah-sah aja kita nyari pasangan yang ganteng/cantik, banyak harta dan keturunan keluarga baik-baik. Namun yang paling penting adalah agamanya ya Mba. Karena pernikahan itu kan jangka panjang, kalau bisa sampai ke surga secara bersama-sama, aaamiiin…..

    Reply
  11. Pernikahan no drama, enggak ada drama malah enggak asyik lho..lempeng aja kali ya, di zona nyaman malah bahaya, pengin cari tantangan nanti.
    Tapi setuju jika ada banyak hal yang mesti dikompromikan hingga tercapai tujuan pernikahan

    Reply
  12. Lucu juga putrinya, kok tau-tau nanya pernikahan. Anak-anakku ada yg nanya gitu ga ya dulu?
    Kalau anak perempuan, bapaknya sih iya bener yg khawatir salah pilih.
    Walaupun kayaknya udah OK, pas udah menikah ternyata ya beda. Sama juga sih kayak kita, pasti ada penyesuaian sih sepanjang pernikahan.

    Reply
  13. Hahaha.. anak perempuan ku yang nomer dua juga pernah ngomong gitu kak Amel.. pas umurnya masih tujuh tahun.
    Cukup buat kening berkerut juga tapi kemudian dijawab si kakak dengan jawaban… “Kamu ini.. masih kecil nanya nikah.. tunggu sudah kerja ya.. ”
    Hihi mirip neneknya.

    Reply
  14. Selalu ada drama dlm pernikahan kan?
    Selsai episode 1 ada lagi episode 2 dan seterusnya hahaha
    Justru kadang kangen sama dramanya.
    Saya setuju 4 kriteria sblm menikah tadi hehe

    Reply
  15. Nah, ini tips yang perlu diketahui para jomblo, baik jomblowan maupun jomblowati. Sebab, tidak jarang pula mereka menikah karena merasa tersaingi, teman-temannya sudah menikah. Pada akhirnya, pernikahan jadi ajang perlombaan. Apalagi kalau ada pertanyaan, “Kapan nyusul?”
    Memangnya Valentino Rossi bisa nyusul-nyusul di depannya?

    Reply
  16. Setuju banget kalau dalam kehidupan rumah tangga itu harus terbuka. Menyembunyikan sesuatu bisa menimbulkan kebohongan, dan kebohongan ini biasanya mengajak serta kebohongan lain. Nah, kalau kehidupan rumah tangga sudah dipenuhi oleh kebohongan? Di mana lagi letak keharmonisan dan saling menjaga. Hmm.

    Reply
  17. Menikah itu bertambah. Sepakat. Ya, menikah nggak cuma melibatkan suami dan istri tapi juga keluarganya. Maka kita harus siap beradaptasi dengan keluarga besarnya.

    Reply
  18. Yang saya rasakan juga sama, cuma anak perempuan saya belum muncul pertanyaan begitu. Kalo saya justru melihatnya progres laki-lakinya. Kalo dia punya niatan baik, terlihat dari record-nya yang terus berkembang, maka empat faktor itu sebetulnya bisa dicapai.

    Reply
  19. So sweet Mbak Amel, insya Allah nanti anak mbak terbantu banget baca tulisan mamahnya gini. Karena anak harus tahu bahwa pernikahan bukan akhir segalanya, bukan happy ending. Justru harus diperjuangkan realitanya dan awal dari perjuangan ya

    Reply

Leave a Comment

Share via
Copy link
Powered by Social Snap