Review: Purbasari Special Edition Lipstick

Iya…iya saya tau saya ada resolusi untuk mengurangi pembelian lipstick. Iya, saya sudah menerapkan cara buy 1 give 1 atau benar-benar habiskan produk, baru beli lagi. Tapi emang sebel banget sama diskon, soalnya ya murce-merince emang bikin emak-emak macam saya nggak kuat. Hilanglah sudah the power of emak-emak. Terbelilah Purbasari itu di Guardian yang ada promo beli 1 gratis 1. Nggak apa-apa kan saya mendukung produk lokal (ngeles aja).

 

Tampilan ciamik

 

Berdasarkan bentuknya, masih sama dengan Purbasari lama ya petak ramping gitu, cuma warnanya ganti emas. Kesannya mewah aja gitu autokaya. Nah saat beli ini saya baru menyadari mengapa ia begitu sempurna murah, mungkin karena isinya yang seuprit ini ya. Dibandingkan sama yang koleksi lain yang bulky (jiah macam banyak amat tuh koleksi). Bentuknya yang kecil ini bisa muat untuk diselipkan dimanapun di tempat yang wajar. Kelebihan dari isi yang sedikit ini adalah, insya Allah bisa dihabiskan sampai titik lipstick penghabisan. Semua barang ada expired-nya sejak dibuka, sayangnya tidak ada keterangan itu di kemasan Purbasari, adanya expired global saja. Emak kan nggak mau rugi ya, tapi kalo bosan itu pasti ceila.

Dilema Pink dan Peach

Dulu waktu saya beli lip cream Y.O.U, saya ada lepas 2 lip cream. Sebenarnya masih ada jatah 1 lagi ya buat beli hehehhe. Waktu itu saya lepas warna peach dan pink. Artinya saya mestinya beli nuansa peach dan pink juga buat gantikan posisinya. Eh malah Y.O.U yang saya beli warna merah. Nggak nyambung kan yak. Nggak sesuai pola warna personal (entar deh saya buat tulisannya). Mungkin akan saya lego mumpung masih gress.

By the way, nyari warna peach atau pink itu tricky banget buat saya, sumpah. Ini kulit dibilang putih nggak, kuning nggak, pink nggak, apa olive ya? Pokoknya kalau salah pilih, pink itu bikin muka jadi kucel, dan peach itu bikin muka jadi pucat atau ngambang. Ngambang itu gimana sih jelasinnya ya, kayak nggak nyatu gitu warnanya dengan muka, jadi kayak palsu gitu (yaeyala emang, apa yang loe harap sik).

Baiklah dengan modal kenekatan yang hakiki, saya pilihlah Purbasari no 89 (pink) dan 90 (peach). Nggak ada testernya bok! Ini adalah saran membangun untuk yang jual makeup, selalu sediakan tester! Berbuatlah baik euy! Thank God ternyata cocok!

 

Hasil Perburuan

Swatch

Meskipun cocok di warna kulit, dibanding pink yang bagi saya so-so, warna peach ini bikin girang banget. Akhirnya ada yang bikin muka terang tapi nggak ngambang. Not too orange, not too bright, not too pale. Dia ada hint coklat, emang sekali liat di kemasan kayak coklat muda, tapi di bibir jadi deep peach. Intensitas cahaya fotonya agak beda, yah maafkeun, saya pake cahaya termahal soale (matahari) yang nggak bisa diatur. Tapi saya yakin banget nggak salah pilih ini. Dipake dengan make up berat dia glamour, dipake tanpa makeup dia nggak bikin kayak orang sakit. Dengan ini saya mendeklarasikan bahwa ini adalah warna peach personal saya.

Dua-duanya ternyata nggak patchy. Eh tapi sebenarnya ini jangan-jangan karena bibir saya nggak kering ya. Mungkin kalau kamu pake lipstick sering patchy coba dirawat dulu bibirnya. Lipstick ini terasa lembab banget, pas dioleskan smooth melapisi bibir. Hal yang saya takutkan kalo pake bentuk stick adalah dia kurang pigmentasinya sehingga harus oles berulang, yang membuat gesekan makin sering, bibir lebih rentan iritasi. Tapi nggak terjadi untuk lipstick ini, karena creamy banget. Kebetulan bibir saya gradasi, dan ternyata masih keliatan samar ya, tapi masih  bagus kok. Daya tahannya mantap, abis makan lap-lap dikit, masih ada nyisa rona warnanya, nggak macam kalah perang. Aromanya itu nggak ganggu, kayak wafer stroberi murah yang dulu beli pas SD, manis-manis penuh kenangan gitu deh. Saya agak trauma soalnya waktu saya pernah coba tester yang lipcream kok kayak bau obat sintetik, entah apa tester-nya yg dah expired atau emang gitu aromanya, yang jelas sehabis itu nggak pernah lagi main ke rak lipcream Purbasari (ada yang pernah cobakah?).

Minus

Nah tapi ada kurangnya yang ternyata masih sama dengam edisi sebelumnya, mudah patah. Bisa dinilai di sini betapa creamy-nya dia, sehingga kita mesti hati-hati bawanya, suhu simpannya dijaga, kalau mau awet. Punya saya sudah patah di pemakaian ke-2, jadi bukanya mesti pelan-pelan banget. Padahal nggak pakai acara jatuh loh, cuma karena terlalu semangat olesnya aja. Dulu saya pernah punya juga dan kasusnya sama. Jadi dia ini murah tapi pengawalan ketat. Ya nggak papa juga sih, kan bisa pakai kuas, tapi jadinya nggak bisa dibawa-bawa deh hehehe. Nasib..nasib.

 

 

 

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2019

Satu pemikiran pada “Review: Purbasari Special Edition Lipstick”

  1. Purbasari ini memang sudah legend dan cocok banget untuk bibir perempuan Indonesia ya k. Ringan dan sehat banget, saya juga suka beli merk purbasari untuk lipstik

    Balas

Tinggalkan komentar

Share via
Copy link
Powered by Social Snap