Santri Bandel

Saya mulai punya kawan akrab itu saat di Muara Enim . Saat itu saya mulai diikutkan mengaji di mushola, saya jadi santri di sana sejak TK nol besar. Teman mengaji saya ada yang merupakan anak teman sekantor ayah, ada juga tetangga sekitar. Saya masih ingat, nama ustadznya sering dipanggil dengan nama sapaan ‘Mas Bakri’. Kami boleh memakai pakaian bebas, tapi ada hari tertentu dimana kami harus memakai baju warna santri warna kuning muda, yang saat itu saya rasakan sama sekali tidak menyerap keringat. Jadwal mengaji kami sore, menjelang sholat ashar seharusnya kami sudah datang di mushola dan sholat berjamaah. Sebagaimana anak kecil pada umumnya, saya bisa bandel juga.

Bolos nggak cerdas

Saya pernah keluar dari rumah untuk mengaji, tapi saya malah sembunyi di gang. Tidak berapa lama kemudian, saya pulang ke rumah. Saat ibu saya tanya, saya bilang bahwa saya telat datang, semua orang sudah berdiri untuk sholat ashar. Ibu saya bilang ohhh, terus kasih saya cemilan sore. Habis itu ibu bilang, masak sih sudah mulai sholat asharnya duluan, adzan aja belum. Saya ketangkap basah.

Bolos nyaris sukses

Pernah saya berniat berangkat mengaji dengan tulus (tsahh), eh sama teman yang berangkat bareng, diajakin jalan-jalan. Sekali-sekali nggak apa-apa katanya. Okelah saya ikut. Saya diajak ke gang-gang baru, yang belum pernah saya lewati sebelumnya. Melewati jembatan, masuk ke tanah pemukiman penduduk yang sama sekali asing. Melihat proses pembuatan bunga dari tali plastik di rumah salah satu penduduk (benar-benar menarik!), terakhir adalah makan jambu di pekarangan rumahnya (minta izin dulu pastinya).

Sungguh pengalaman yang luar biasa, rasanya ingin mengulang lagi di lain hari. Setelah kira-kira jam mengaji usai, teman saya mengajak saya pulang. Kami pulang dari jalan lain yang berbeda dari jalan berangkat, sambil lari-lari kecil penuh keceriaan.Kami berpisah di pertigaan, untuk kembali ke rumah masing-masing. Hampir sempurna, saya sudah seikit lagi mencapai teras. “Tanteeeeeeee, ada yang bolos ngaji!” suara anak laki-laki membuyarkan kesuksesan saya hari itu. Salah satu santri yang lewat di depan rumah saya saat pulang mengaji mengadukan saya kepada ibu. Gagal total.

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2018

2 pemikiran pada “Santri Bandel”

  1. Wkwk. Emanglah anak kecil plg suka bolos klo disuruh ngaji. Lebih enak di rumah. Haha. Aku pun pernah mau bolos. Tp nungguin ustadnya dulu. Berharap kosong, baru deh beneran pulang atau main ke rumah temen. Biar ga ditanyain knp pulang cepet. Wkwk

    Balas

Tinggalkan komentar

Share via
Copy link
Powered by Social Snap