Tidak Bisa Masak? Masih Bisa Belajar, Kok!

Anak gadis tidak bisa masak?

-“Duarrrr !!!” Bunyi ledakan dari dapur. Saya yang sedang bermain di teras berlari ke dapur dan mendapati hiruk- pikuk di sana. Ada paman yang membawa karung goni basah dan menutup kompor. Sepupu saya digendong, saya lihat kakinya melepuh. Ada asap dan hawa panas memenuhi ruangan.- Memori ini lekat di ingatan saya. Lalu bagaimana bisa, saya menghilangkan bayangan tentang betapa mengerikannya kegiatan memasak di dapur? Wajar tidak, saya sebagai anak gadis, tidak bisa masak karena ketakutan itu?

Trauma masak dengan kompor minyak tanah

“Kompor minyak tanah itu bisa meledak, kalau sumbunya tidak rata,” kata ibu sembari menarik sumbu saat membersihkan kompor.

Oh, tidak. Saya tidak mau berurusan dengan kompor ini. Mengisi minyak tanah, saya bisa. Atur sumbu saya diajari. Tapi bayangan ledakan waktu itu tidak bisa hilang. Saya bahkan jadi takut menghidupkan korek api di dekat kompor. Lebih dari itu, saya bahkan takut menghidupkan korek api, apalagi pemantik korek gas.

Tidak bisa masak pakai kompor gas standar

Akhirnya kompor minyak tanah diganti dengan kompor gas dengan pemantik model tekan-putar yang standar. Saya? Tetap takut. Bunyi pemantiknya itu bagi saya juga seperti ledakan kecil. Harus cepat supaya api hidup dan gas tidak bocor.

Karena ada kerusakan pada kompor tersebut, ibu membeli kompor yang baru dengan pemantik bentuk tombol. Jadi, ada knob yang diputar untuk membuka gasnya, baru tekan tombol pemantik apinya. Nah, dengan kompor model baru inilah saya bisa main kompor. Masak apa? Masak air!

Diusir dari dapur

Pernah suatu hari, saya merasa ingin menjadi anak berbakti. Ibu sedang membersihkan ikan, niat saya mau membantu. Pengalaman membersihkan ikan ukuran besar belum ada, pertama kali coba malah di ikan kecil. Ikannya memang jadi bersih, jadi minimalis: Habis dagingnya.

Sudah tidak usah bantu lagi, kamu belajar saja buat sekolah

Kata ibu

Semenjak saat itu, ibu sensitif sekali kalau saya masuk dapur. Air mana lagi yang bakal tumpah, terigu mana lagi yang akan berceceran, minyak dimana lagi nanti belepotan. Mungkin itu yang menjadi kekhawatirannya. Jadi kalau saya masuk dapur, ibu langsung menoleh, “Mau ngapain?” katanya. Saya menjawab kalem, “Mau minum.”

Tidak bisa masak makanan instan

Sewaktu kami masih kecil dulu, di rumah itu super jarang masak mi instan. Kardus mi itu lama sekali kosongnya. Sering saya dan saudara membuka lemari mengintip bungkusan mi, macam tidak makan satu bulan. Tidak masak mi instan, melihat wujudnya saja sudah cukup. The power of micin itu sungguh sulit dilupakan.

Menyajikan mi instan tidak rapi

Semenjak remaja, kami sudah bisa dan boleh masak mi instan sendiri. Saya juga sudah bisa pakai kompor model tekan-putar, kompor baru pengganti kompor pemantik tombol. Cara saya masak mi: Setelah kompor dimatikan, bumbu campur di panci, baru dipindahkan ke mangkuk. Saya tidak peduli tampilannya seperti apa. Setelah masak ya dimakan.

Tapi ada pengalaman saya yang membuat saya deg-degan. Saat itu, saya sudah tingkat akhir kuliah, sudah siap menikah semestinya. Ayah minta saya memasakkan mi kuah untuknya. Ya, saya sajikan seperti kebiasaan saya. Rupanya mi tidak disentuh ayah sama sekali.

Bagaimana kalau mertuamu nanti minta kamu masak mi? Tampilannya begini!

Kata ayah

Saya bingung, apanya yang salah. Ibu saya langsung cepat-cepat masak ulang. MASAK LAGI. Tidak ada nasihat, tidak ada suara. Satu-satunya petunjuk adalah, mangkok mi ibu tidak berlepotan percikan kuah mi. Caranya, menuang mi ke mangkok mesti yakin, mungkin mesti pakai iman. Ohhh…begitu ternyata. 😛

Tidak bisa masak nugget instan

Saat itu masa saya menjelang kuliah, setelah menyelesaikan suatu urusan, saya dan ibu saya makan di restoran kecil yang menunya hanya nasi goreng. Nasi goreng yang datang lauknya adalah nugget. Saya tahu nugget dari iklan, tapi ibu tidak pernah masak nugget di rumah. Waw, lezatnya luar biasa saat itu.

Esok-esoknya saya merayu ibu untuk membeli nugget untuk dimasak di rumah. Beliau menolak, hiks. Jadi memang, kami tidak pernah memasak nugget di rumah.

Suatu hari, saat belum punya anak dan masih Long Distance Marriage (LDM), saya memutuskan izin dari kantor karena ingin menemani suami saya selama dua minggu. Ikhtiar, siapa tau bisa dapat momongan.

Pagi hari pertama di sana, saya mau masak, tapi belum belanja sama sekali. Suami saya bilang, masak nugget saja. Ada sih petunjuk memasaknya, tapi saya tidak biasa. Ini nugget posisinya beku, mesti diturunkan dulu di kulkas bawah? Tapi kan bakal lama, sudah mau sarapan. Tidak terasa minyak sudah panas, saya langsung cemplung. Weitsss cepat sekali gosongnya!

Saya kecilkan api, terlambat, suami sudah melihat. Terus, saya diajarin masak nugget oleh suami. Untung dia nggak marah. Nugget yang gosong? Dia yang makan 😁.

Terpaksa Masak di Rantau

Setelah menikah, saya masih ikut orang tua selama 6 bulan. Tentunya ratu dapur masih ibu saya. Hingga saat saya mendadak mesti sekolah di Jakarta, masih minim sekali pengetahuan masak saya.

Tidak bisa ganti tabung gas

Selama di kontrakan Jakarta, saya sudah berani menghidupkan kompor dengan knob pada umumnya. Namun, yang masang gas tetap suami. Setiap dia mau pasang gas, saya langsung buka pintu dan keluar rumah. Masih trauma, takut meledak.

Suatu hari, saat suami akan memasang gas, seperti biasa saya segera lari keluar rumah, tiba-tiba tangan saya ditahan. “Ayok, belajar pasang gas,” kata suami. Saya yang trauma, bilang tidak mau, dan beranjak mau lari. Karena tangan masih dipegang, akhirnya posisi saya seperti terseret disuruh masuk ke rumah. Merasa malu dengan tetangga (padahal sumpah tidak berantem waktu itu), saya akhirnya mau masuk.

Saya bilang baik-baik, bahwa saya takut sekali. Terus suami saya bilang, “Kamu harus bisa. Nggak selamanya saya disamping kamu.” Waduh. Mendengar itu saya jadi khawatir. Khawatir ditinggal suami saya entah ke mana. Khawatir juga dengan keberlangsungan perut dan keuangan kami kalau saya mesti jajan di luar terus karena tidak bisa ganti tabung gas.

Akhirnya saya coba juga. Sekali, dua kali, akhirnya jadi pro. Gonta-ganti karet yang tidak pas, ayok! Masih tidak hidup juga? Saya pukul pelan kepala gasnya dengan gagang pisau, seperti yang diajarkan Pak RT (tapi ini sepertinya ajaran sesat ya, jangan ditiru 🤣).

Mulai belajar masak

Saat ini, kecanggihan teknologi telah memudahkan segala hal. Dulu ibu saya simpan resep dengan cara menulis catatan resep di buku, menggunting kliping majalah, atau membeli tabloid berisi resep makanan. Sekarang, mudah sekali mendapatkan resep dari Mbah Google.

Saya pun trial and error dalam hal memasak, walaupun lebih banyak erornya. Tapi, lama-lama akhirnya saya bisa juga membuat sesuatu yang edible alias dapat dimakan minimal untuk keluarga kecil saya. Toh, saya belum berniat jadi koki restoran. Meskipun, menurut anak-anak saya, mungkin saya berbakat jadi koki 😁, hehehe, ada-ada saja.

Ngomong-ngomong, ini ada resep ayam ungkep yang saya suka buat untuk keluarga. Resepnya pastinya sudah banyak berseliweran di dunia maya. Tapi tidak apa-apa, saya coba tuliskan saja ya:

Bahan:

  • Ayam 1 kg
  • Bawang merah 8 siung
  • Bawang outih 6 butir
  • Ketumbar 1 sdm
  • Kunyit 1 ruas
  • Jahe 1 ruas
  • Lengkuas 2 ruas
  • Sereh 1 batang kecil
  • Daun salam 1-2 lembar
  • Daun jeruk purut 3-5 lembar (saya suka aromanya, jadi saya bisa sampai 7 lembar)
  • Garam

Semua bumbu saya blender jadi satu, tambah air 250 cc-300cc, tergantung banyak ayam. Kemudian diungkep ayamnya bersama bumbu. Jadi, deh! Kalau mau dihidangkan, tinggal digoreng. Biasanya saya stok di kulkas sebanyak tiga kilogram ayam ungkep, lho! Ayam ungkep ini praktis sehingga saya biasanya terus stok di rumah. Kalau teman-teman, resep andalannya apa? Bagi di kolom komentar, ya!

Bisa masak ayam ungkep
Goreng dadakan lebih nikmat

7 thoughts on “Tidak Bisa Masak? Masih Bisa Belajar, Kok!”

  1. Kisahnya unik banget nih. Dari parno masuk dapur jadi ratu dapur. Mana pernah dicurigai Ibu pula kalo melipir ke dapur. Wkwkwk…
    Resepnya noted ah…Perlu nih punya frozen ayam ungkep. Mo dihidangkan tinggal goreng.

    Reply
  2. Wkwkwk, saya pun pernah diusir dari dapur mba. Sering malah. Cuma ya semua namanya juga berproses ya. Lama-lama ternyata bisa sendiri kok. Malah saya itu belajar masaknya justru setelah menikah. Alhamdulillah sekarang udah 7 tahun menikah, bisa masakin suami setiap hari.

    Reply
  3. Katanya kaum hawa zaman now gak perlu pandai masak tetapi bisa masak kok hehe… kejadiannya sama kayak saya dulu remaja juga gitu karena malah bikin kericuhan di dapur sempat diusir mama dari dapur, tp untungnya besok2 beliau nasehati agar jangan ceroboh kl lg di dapur krn bs membahayakan diri sendiri dan rumah juga. Alhamdulillah kl sekarang udah bisa masak dan masakannya selalu dinantikan suami dan anak2

    Reply
  4. ceritanya: akhirnya bisa masak ayam ungkep ya. . ayam ungkep ini termasuk makanan kesukaan saya. kalo ayam ungkep tinggal goreng, jadi mudah dan siap makan, tinggal dibuatkan sambal dan lalapan. sudah jadi ayam penyetan.

    Reply
  5. Saya jadi teringat dua orang adik perempuan saya, yang satu pintar memasak, yang satu lagi gak. Meskipun kata orang-orang “pandai memasak” bukan syarat wajib jadi seorang istri tapi pada akhirnya sang istri akan belajar memasak juga. Jadi anak gadis yang belum pandai memasak menurut saya hanya masalah waktu. Seperti cerita Mbak Amel ini

    Reply

Leave a Comment

Share via
Copy link
Powered by Social Snap