Untuk Perempuan; Sebuah Surat Cinta

Hujan di bulan desember, menjelang peringatan Hari Ibu, Hari Perempuan. Surat ini untuk perempuan; saya, engkau, dia, kita semua.

Perempuan dalam posisi sulit,

saat kesaksian kita lemah. Untuk seseorang yang masih terlilit kasus pelecehan di luar sana, ingin saya kirimkan engkau pelukan. Semoga kuat Ibu, ini ujian. Ibu dilecehkan, namun alat bukti malah menjerumuskanmu ke penjara. Tidak ada yang berhak melecehkan kita, sekalipun itu atasan. Kita semua berharga, tidak tergantung pangkat-jabatan. Semangat ibu, dari sini saya doakan, semoga senantiasa diberikan kekuatan. Semoga kasusmu akan diselesaikan seadil-adilnya.

 

Harga diri,

kita pertahankan sampai kapanpun. Terkadang juga bukan karena kurangnya pendidikan. Orang tua zaman dulu juga banyak yang tidak sekolah, tapi mereka mampu menjaga martabat. Jangan sampai kita yang berpendidikan justru harga dirinya tergadai. Perempuan harus tegas, bukan berarti keras. Kaum kita juga bisa lembut, tapi bukan berarti mendayu-dayu setiap waktu. Jangan beri celah untuk mengasihani diri sendiri, dan mencari alasan membenarkan tindakan merebut kebahagiaan perempuan lain. Engkau bilang ini takdir? Kita bisa pilih, Neng. Pilih takdir yang baik. Berdirilah di kaki sendiri. Engkau bisa, engkau kuat, engkau mampu untuk tidak bergantung pada lelaki, yang secara sah milik orang lain.

 

Perempuan sedang diuji,

bila punya pasangan sehat walafiat tanpa cacat tapi ongkang-ongkang kaki. Bahkan ada yang lari dengan perempuan lain. Engkau sebagai istri yang menghidupi keluarga. Terkadang engkau mempertahankan status bersuami demi anakmu punya nama keluarga lengkap di kartu keluarga. Padahal suamimu bahkan tak hadir dalam keluarga. Jangan engkau patah, ajarkan anak perempuanmu untuk kuat dan anak laki-lakimu untuk bertanggung-jawab, agar cerita ini tidak berulang.

 

Engkau yang bersuami,

engkau tahu ridho siapa yang dicari. Jangan lupakan tujuanmu berkeluarga, untuk beribadah, Bekerjasamalah dengan pasangan untuk membuat anak-anakmu memiliki kepribadian yang baik. Syukurilah yang diberikan Tuhan untuk keluargamu, jangan dibanding-bandingkan dengan keluarga orang lain. Jangan berharap suamimu seperti suami temanmu, jangan paksa anakmu sama dengan anak rekanmu. Semua orang unik, pun demikian dirimu. Berbahagialah dalam kehidupanmu yang sebentar ini.

Perempuan; sebagai pribadi, istri, ibu, anak, nenek, wanita karir, ibu rumah tangga, apapun status dan posisimu: jangan lupa bahagia. 🙂

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2018

2 thoughts on “Untuk Perempuan; Sebuah Surat Cinta”

Leave a Comment

Share via
Copy link
Powered by Social Snap